RAKYATKU.COM, MAKASSAR — Upaya mendorong pengembangan ekonomi berbasis pariwisata berkelanjutan di kawasan Geopark Maros–Pangkep terus diperkuat. Politeknik Pariwisata Makassar melalui program pengabdian kepada masyarakat mengambil peran strategis dalam meningkatkan kapasitas warga untuk mengelola desa wisata secara mandiri dan berkelanjutan.
Program yang berlangsung pada 17–19 April 2026 ini menyasar dua wilayah, yakni Kelurahan Balleangin di Kabupaten Pangkep dan Desa Tunikamaseang di Kabupaten Maros. Fokus utamanya adalah penguatan tata kelola desa wisata berbasis ekowisata dan community-based tourism (CBT), yang menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama dalam rantai nilai pariwisata.
Sebanyak 70 peserta yang didominasi perempuan, pelaku usaha mikro, dan pemuda Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) terlibat langsung dalam pelatihan ini. Keterlibatan kelompok ini dinilai krusial karena mereka menjadi ujung tombak dalam menjaga keberlanjutan destinasi sekaligus menggerakkan ekonomi lokal.
Baca Juga : Sambut HUT ke-14, Aston Makassar Edukasi Puluhan Siswa SD Lewat “Kid’s Hotel Adventure”
Dari Potensi Alam ke Nilai Ekonomi
Sekretaris Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M), Muh. Yahya, menegaskan bahwa pengembangan desa wisata tidak cukup hanya mengandalkan potensi alam, tetapi membutuhkan tata kelola yang baik dan partisipatif.
“Kami ingin masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi menjadi pelaku utama yang mampu mengelola dan mendapatkan manfaat ekonomi dari pariwisata,” ujarnya.
Pendekatan ini menjadi penting mengingat banyak destinasi wisata yang memiliki potensi besar, namun belum mampu memberikan dampak ekonomi optimal bagi masyarakat sekitar.
Geopark sebagai Ruang Edukasi dan Pemberdayaan
Kepala P3M Poltekpar Makassar, Ilham Junaid, menilai Geopark Maros–Pangkep memiliki nilai strategis tidak hanya sebagai destinasi wisata, tetapi juga sebagai ruang edukasi dan konservasi.
Baca Juga : Pertamina Tambah 392 Ribu Tabung LPG 3 Kg di Sulawesi, Antisipasi Lonjakan Konsumsi Saat Long Weekend
“Geopark ini adalah aset besar. Jika dikelola dengan baik, bisa menjadi sumber pertumbuhan ekonomi sekaligus menjaga kelestarian lingkungan,” jelasnya.
Konsep geopark sendiri mengintegrasikan tiga pilar utama: konservasi, edukasi, dan pembangunan ekonomi berbasis masyarakat. Dalam konteks ini, desa wisata menjadi titik masuk untuk menghubungkan ketiga aspek tersebut.
Perempuan dan Pemuda Jadi Penggerak
Baca Juga : OJK Sulselbar dan Pemkab Bulukumba Perkuat Literasi Keuangan Nelayan melalui Program EKI dan KNMP
Menariknya, sebagian besar peserta kegiatan merupakan perempuan dan generasi muda. Hal ini mencerminkan adanya pergeseran peran dalam pembangunan pariwisata, di mana kelompok ini mulai mengambil posisi strategis dalam pengelolaan destinasi.
Keterlibatan perempuan, khususnya ibu rumah tangga, membuka peluang pengembangan ekonomi kreatif seperti kuliner, kerajinan, hingga jasa wisata berbasis rumah tangga.
Kolaborasi Jadi Kunci
Baca Juga : OJK Sulselbar Perkuat Akses Keuangan Nelayan di Sinjai Lewat Program EKI dan Kampung Nelayan Merah Putih
Program ini juga melibatkan pemerintah daerah serta didukung oleh Kementerian pariwisata Republik Indonesia, menunjukkan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam pengembangan pariwisata.
Sinergi antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat dinilai menjadi faktor kunci dalam menciptakan ekosistem pariwisata yang berkelanjutan.
Dampak Jangka Panjang
Baca Juga : OJK Sulselbar Perkuat Akses Keuangan Nelayan di Sinjai Lewat Program EKI dan Kampung Nelayan Merah Putih
Selain peningkatan kapasitas, peserta juga mendapatkan dukungan media promosi dan sarana edukasi berupa papan informasi di lokasi wisata. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan daya tarik destinasi sekaligus memperkuat identitas kawasan.
Ke depan, penguatan desa wisata berbasis ekowisata di kawasan Geopark Maros–Pangkep berpotensi menjadi model pengembangan pariwisata yang tidak hanya mengejar jumlah kunjungan, tetapi juga kualitas dan dampak ekonomi bagi masyarakat lokal.
