Selasa, 07 Juli 2026 12:09

Bukan Sekadar Refreshment Jabatan: Unhas Pacu Transformasi Agresif Berbasis AI dan Rekayasa Kelembagaan

Lisa Emilda
Konten Redaksi Rakyatku.Com
Rektor Universitas Hasanuddin (Unhas) menegaskan bahwa pelantikan pejabat di lingkungan kampus pada periode keduanya bukan sekadar agenda seremonial atau penyegaran organisasi (refreshment) semata
Rektor Universitas Hasanuddin (Unhas) menegaskan bahwa pelantikan pejabat di lingkungan kampus pada periode keduanya bukan sekadar agenda seremonial atau penyegaran organisasi (refreshment) semata

Pacu transformasi digital dan kurva WCU, Rektor Unhas luncurkan lembaga AI pertama untuk rombak total birokrasi dan administrasi kampus secara agresif

RAKYATKU.COM, MAKASSAR – Rektor Universitas Hasanuddin (Unhas) Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc) menegaskan bahwa pelantikan pejabat di lingkungan kampus pada periode keduanya bukan sekadar agenda seremonial atau penyegaran organisasi (refreshment) semata. Langkah ini merupakan strategi penguatan struktur guna mengeksekusi transformasi digital secara masif, khususnya melalui implementasi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan penguatan riset berskala global.

Prof jeje sapaan akrabnya mengungkapkan bahwa bertahannya sejumlah wakil rektor pada posisi mereka merupakan jawaban atas kebutuhan kesinambungan program-program strategis yang sedang berjalan (on progress).

"Empat tahun itu waktu yang terlalu singkat. Banyak mimpi dan program kami yang masih dalam proses pengerjaan. Itulah mengapa sebagian besar pejabat lama masih melanjutkan tugasnya, demi memastikan keberlanjutan target-target besar Unhas," jelas Rektor setelah prosesi pelantikan.

Baca Juga : Luruskan Miskomunikasi, Unhas Pastikan Mahasiswa Difabel Dapat Kebijakan Hunian Khusus Selama Renovasi

Menolak Stagnasi: AI Masuk ke Seluruh Lini Administrasi

Salah satu terobosan paling radikal dalam penataan kelembagaan Unhas kali ini adalah peluncuran lembaga baru yang fokus pada Transformasi Digital dan Artificial Intelligence (AI). Rektor menegaskan, pembentukan lembaga ini didasari oleh kebutuhan nyata untuk menjadikan Unhas sebagai salah satu pusat data center utama di Indonesia Timur.

"Ambisi itu tidak boleh hanya menjadi semboyan, slogan, atau sekadar omong kosong. Kita harus bisa mengukurnya. Unhas akan menerapkan sistem AI di seluruh lini administrasi serta program-program Tridharma Perguruan Tinggi," tegas Prof Jeje

Baca Juga : Dekan Fakultas Peternakan Unhas Apresiasi Kepemimpinan Prof. JJ yang Inspiratif

Ia juga menggarisbawahi bahwa penguasaan literasi AI bagi seluruh dosen, tenaga kependidikan (tendik), dan mahasiswa bukan lagi sebuah pilihan, melainkan suatu keniscayaan di tengah perkembangan dunia yang kian mendunia.

Lembaga baru ini sengaja diletakkan langsung di bawah koordinasi rektor dengan level kepemimpinan yang tinggi, agar tidak nasibnya tidak terdegradasi menjadi sekadar sub-direktorat atau kamar kecil dalam birokrasi kampus. "Lembaga ini harus naik ke atas, bergerak lincah (agile), dan menjadi penggerak utama," tambahnya.

Strategi Menembus Batas Kurva Sigmoid WCU

Baca Juga : Rektor UNHAS Resmikan "Nemo Lounge" Hotel UNHAS Convention

Menjawab pertanyaan mengenai pembentukan Global Research Institute serta penambahan posisi wakil rektor, Rektor memaparkan analisis tajam mengenai posisi Unhas dalam peta World Class University (WCU). Menurutnya, pertumbuhan universitas mengikuti kurva sigmoid, di mana fase awal peningkatan peringkat mungkin terasa cepat, namun tantangan akan melandai dan semakin berat ketika mendekati posisi puncak.

"Dulu Unhas sulit sekali menembus WCU, namun alhamdulillah sejak 2022 kita sudah mulai masuk dan naik ratusan tingkat. Tapi ingat, tantangan ke depan akan semakin berat karena lawan yang dihadapi adalah universitas-universitas top dunia. Jika Unhas tetap menggunakan jurus lama, kita pasti akan stagnan," urai Rektor.

Sebagai jurus baru, Unhas mengadopsi model yang telah diterapkan oleh universitas papan atas dunia seperti National University of Singapore (NUS), yakni dengan menghidupkan lembaga-lembaga riset internasional. Lembaga-lembaga ini, seperti Wallaceas Research Institute serta pusat studi Global Peace, Transformation, and Conflict Resolution, diharapkan mampu memikat pendanaan riset internasional (tap resources) dari luar negeri, sehingga tidak membebani anggaran internal Unhas.

Baca Juga : Ini yang Bikin Rektor Unhas Bangga dengan Wali Kota Parepare

Responsibilitas Nasional dan Manajemen Birokrasi Modern

Terkait pergeseran tugas internal—termasuk penunjukan Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Manusia (WR 3) untuk mengawal masa transisi di rumah sakit Unhas—Rektor menegaskan hal tersebut merupakan praktik yang lumrah dalam manajemen birokrasi modern untuk merespons kebutuhan mendesak secara cepat.

Rektor juga menambahkan bahwa integrasi teknologi digital dan AI telah mengubah cara kerja birokrasi di Unhas secara fundamental. Pejabat kampus kini dituntut untuk bekerja secara mobile tanpa harus terikat secara fisik di meja kantor.

Baca Juga : Disambut Wawali, Rektor Unhas Sapa Alumni Wilayah Sorong Papua Barat

"Di era transformasi digital dan AI saat ini, seluruh urusan administrasi, koordinasi, hingga tanda tangan dokumen sudah terintegrasi di dalam gawai (HP). Hal ini memungkinkan organisasi bergerak lebih lincah dan saling mendukung (back-up), bahkan ketika menjalankan tugas-tugas penting dari kementerian," pungas Rektor.

Melalui restrukturisasi ini, Unhas mematok target yang jauh lebih tinggi dari tahun-tahun sebelumnya. Orientasi Unhas kini diarahkan untuk membawa institusi pendidikan di kawasan Indonesia Timur mampu duduk sejajar dengan perguruan tinggi terkemuka di wilayah Indonesia Barat di panggung internasional.

#Rektor Unhas #Unhas Makassar #world class university unhas #global research institute #literasi ai kampus #birokrasi unhas #berita unhas terbaru #data center indonesia timur