Kamis, 15 April 2021 17:45

Terkait Isu Muktamar Luar Biasa, Pengamat: Elite PKB Harus Meminimalkan Konflik Internal

Nur Hidayat Said
Konten Redaksi Rakyatku.Com
Terkait Isu Muktamar Luar Biasa, Pengamat: Elite PKB Harus Meminimalkan Konflik Internal

Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PKB Makassar, Fauzi Andi Wawo, dengan tegas menolak isu MLB yang muncul. Muktamar yang dilaksanakan Bali sudah sesuai dengan AD/ART partai.

RAKYATKU.COM - Isu tidak sedap sementara menerjang partai politik yang dikomandoi oleh Muhaimin Iskandar atau Cak Imin. Desakan dilaksanakan Muktamar Luar Biasa (MLB) berdengung dari kader.

Isu MLB inipun mendapatkan komentar beragam di masyarakat. Namun, isu MLB ini tampaknya tidak akan dengan mudah menggoyang Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

"PKB partai solid. Isu desakan dilakukan MLB perlu klarifikasi, khawatirnya isu ini kembali dialamatkan ke pemerintah untuk menguasai partai tertentu seperti dialami Partai Demokrat. Kini elite PKB harus menghadapi isu itu hingga memastikan partai aman, khawatirnya ada konspirasi internal. Apalagi Cak Imin dikabarkan maju pilpres," kata Firdaus Muhammad, pengamat Politik UIN Alauddin, Kamis (15/4/2021).

Baca Juga : PKB Makassar Tegas Tolak Muktamar Luar Biasa

Dia juga mengatakan, para elite politik PKB harus mampu meminimalkan terjadinya konflik internal partai. Hal ini mengingat saat ini beberapa kader masuk dakan kabinet pemerintah.

"PKB harus jadi soliditas selain pendukung pemerintah, beberapa kadernya masuk di kabinet. Juga elite PKB meminimalisir potensi konflik yang bermuara pada MLB," tambahnya. 

 

Sementara itu, pengamat politik Universitas Muhammadiyah Makassar, Andi Luhur Priyanto, menyebut PKB telah berpengalaman dalam menghadapi konflik.

Baca Juga : Jadi Ketua PKB Wajo Lagi, Sumardi Arifin: Sudah Cukup Jadi Partai "Kelas Menengah", Waktunya Menang

"PKB sudah pengalaman menghadapi konflik internal. Survival PKB tidak lepas dari perubahan dan kesinambungan dari konflik internal yang terjadi," katanya.

Dia menambahkan, jika melihat pola umum fragmentasi partai politik, polanya bisa digerakkan oleh tokoh dan elite nasional atau bersifat top-down dan atau digerakkan oleh perlawanan elite daerah yang terkonsolidasi (bottom-up). Pola konflik Partai Demokrat  lebih bersifat top-down dengan elite nasional yang didukung kekuatan eksternal mendorong perlawanan.  

"Biasanya turbulensi dan konflik akan lebih kuat resonansinya jika dipimpin oleh elite atau tokoh nasional, atau dalam konteks PKB yakni tokoh atau ulama karismatik. Tanpa syarat itu, perlawanan dari bawah oleh elite daerah untuk mengusung MLB akan sulit terkonsolidasi dan gerakan hanya bersifat hit and run saja. Apalagi kalau pihak yang mengusung MLB, kurang memiliki ikatan kultural dengan jamiiyah NU," tambahnya. 

Baca Juga : Jelang Muscab PKB Makassar, Fauzi Andi Wawo: Kedepankan Musyawarah Mufakat

MLB baru akan terlaksana, lanjut Andi Luhur Priyanto, jika perlawanan daerah terkonsolidasi dan dipimpin tokoh karsimatik. Sesuatu yang sebenarnya telah dilalui oleh kepemimpinan Cak Imin.

"Demokratisasi internal di partai politik memang perihal yang harus terus didorong. Meskipun pelembagaannya juga memerlukan formula yang tepat. Dalam beberapa kasus, prosedur-prosedur demokratis di partai politik justru menyulut hilangnya soliditas, melahirkan fragmentasi internal dan hingga membuat kader berdiaspora ke partai lain," bebernya.

Sebelumnya, Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PKB Makassar, Fauzi Andi Wawo, dengan tegas menolak isu MLB yang muncul. Dia mengatakan muktamar yang dilaksanakan Bali sudah sesuai dengan AD/ART partai. 

Baca Juga : Dipimpin Ketua DPW, PKB Sulsel Ziarah ke Makam Muassis NU

"Tidak mungkin dilaksanakan oleh Dewan Pimpinan Pusat (DPP) jika terjadi pelanggaran AD/ART. Kami menolak dan menentang KLB dan kami tidak pernah ada komunikasi dengan pihak-pihak yang menginginkan dilaksanakan KLB," kata Fauzi Andi Wawo. 

Penulis : Syukur
#PKB Sulsel #pkb makassar #PKB