RAKYATKU. COM, JAKARTA– Perubahan lanskap dunia kerja akibat perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan (AI), menuntut generasi muda untuk tidak hanya mengandalkan kemampuan teknis. Hal ini ditegaskan CEO Haka Auto, Hariyadi Kaimuddin, saat berbicara dalam forum alumni dan mahasiswa Teknik Industri ITB.
Menurutnya, banyak talenta muda saat ini terjebak pada anggapan bahwa penguasaan teknologi sudah cukup untuk menjamin kesuksesan karier. Padahal, di tengah disrupsi yang semakin cepat, justru kemampuan non-teknis menjadi faktor pembeda.
“Teknologi akan terus berkembang, tapi nilai kemanusiaan seperti empati, kreativitas, dan purpose tidak akan tergantikan,” ujarnya dalam diskusi yang digelar di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan.
Baca Juga : Adira Finance Tancap Gas di Tengah Tekanan Global, Pembiayaan Melonjak 52 Persen
Ia menilai, era AI justru mempersempit ruang bagi mereka yang tidak mampu beradaptasi. Pilihan karier, kata dia, tidak lagi soal benar atau salah, tetapi seberapa sadar seseorang menentukan arah dan konsisten menjalankannya.
“Tidak ada jalur karier yang mutlak benar. Yang penting adalah kesadaran dalam memilih dan kesiapan untuk keluar dari zona nyaman,” tambahnya.
Dalam forum yang dihadiri kalangan akademisi dan praktisi industri tersebut, diskusi juga menyoroti bagaimana kolaborasi antara manusia dan teknologi akan menjadi kunci utama di masa depan. Bukan saling menggantikan, melainkan saling melengkapi.
Baca Juga : Era AI Tak Aman, Menkomdigi Dorong Lulusan Jadi Penjaga Kebenaran
Pandangan serupa juga mengemuka dari sejumlah pembicara lain yang menekankan pentingnya integrasi antara kemampuan analitis dan soft skills. Di tengah otomatisasi yang masif, perusahaan justru akan mencari individu yang mampu berpikir strategis sekaligus memahami sisi manusia.
Bagi Haka Auto, keterlibatan dalam forum seperti ini bukan sekadar berbagi pengalaman, tetapi bagian dari upaya membangun ekosistem talenta yang siap menghadapi transformasi industri, khususnya di sektor otomotif yang kini bergerak ke arah elektrifikasi.
Industri otomotif sendiri tengah berada dalam fase transisi besar, dari kendaraan konvensional menuju kendaraan listrik yang lebih berbasis teknologi. Dalam situasi ini, kebutuhan terhadap talenta yang adaptif menjadi semakin mendesak.
Baca Juga : Elektrifikasi Digenjot, BYD Haka Dorong EV Jadi Pilar Baru Ekonomi dan Ketahanan Energi
“Ke depan, yang dibutuhkan bukan hanya orang pintar, tapi orang yang mau terus belajar dan punya sikap rendah hati,” tegas Hariyadi.
Pesan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa di tengah derasnya arus perubahan, keunggulan kompetitif tidak lagi hanya ditentukan oleh kemampuan teknis, melainkan kombinasi antara keterampilan, karakter, dan kemampuan beradaptasi.
