Kamis, 30 April 2026 23:19

Adira Finance Tancap Gas di Tengah Tekanan Global, Pembiayaan Melonjak 52 Persen

Lisa Emilda
Konten Redaksi Rakyatku.Com
Adira Finance mencatatkan pertumbuhan agresif pada kuartal I-2026, dengan lonjakan pembiayaan baru mencapai 52 persen secara tahunan (year on year).
Adira Finance mencatatkan pertumbuhan agresif pada kuartal I-2026, dengan lonjakan pembiayaan baru mencapai 52 persen secara tahunan (year on year).

Adira Finance mencatat pertumbuhan pembiayaan 52 persen pada kuartal I-2026 di tengah tekanan ekonomi global. Kinerja positif ini didukung strategi selektif dan kualitas aset yang terjaga.

RAKYATKU.COM, MAKASSAR — Di tengah tekanan ekonomi global yang meningkat akibat eskalasi konflik geopolitik dan lonjakan harga energi, kinerja sektor pembiayaan nasional justru menunjukkan daya tahan. Adira Finance menjadi salah satu yang mencatatkan pertumbuhan agresif pada kuartal I-2026, dengan lonjakan pembiayaan baru mencapai 52 persen secara tahunan (year on year).

Tekanan global yang dipicu konflik di kawasan Timur Tengah telah mendorong kenaikan harga minyak serta mengganggu rantai pasok perdagangan dunia. International Monetary Fund bahkan merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2026 menjadi 3,1 persen, turun dari sebelumnya 3,3 persen. Kondisi ini berpotensi menekan ekonomi domestik melalui imported inflation serta pelemahan nilai tukar rupiah.

Meski demikian, perekonomian Indonesia pada kuartal I-2026 diproyeksikan tetap tumbuh solid di kisaran 5,5 persen, ditopang oleh permintaan domestik yang masih kuat. Hal ini turut menjaga stabilitas sektor pembiayaan, termasuk di tengah moderasi industri otomotif nasional.

Baca Juga : Elektrifikasi Digenjot, BYD Haka Dorong EV Jadi Pilar Baru Ekonomi dan Ketahanan Energi

Data menunjukkan, penjualan sepeda motor baru secara ritel masih tumbuh 8 persen menjadi 1,7 juta unit. Sementara itu, penjualan mobil hanya naik tipis 1 persen menjadi 212 ribu unit, mencerminkan pelemahan daya beli pada segmen kendaraan roda empat.

Di tengah kondisi tersebut, Adira Finance justru berhasil memanfaatkan peluang pasar. Sepanjang kuartal I-2026, perusahaan membukukan pembiayaan baru sebesar Rp11,9 triliun, tumbuh signifikan 52 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Direktur Utama Adira Finance, Dewa Made Susila, menyebut capaian ini sebagai hasil dari strategi selektif yang berfokus pada pertumbuhan berkualitas.

Baca Juga : Kalla Institute Bongkar Strategi Tembus Beasiswa, Tekankan Mindset dan Perencanaan Karier Sejak Dini

“Kinerja ini mencerminkan efektivitas strategi kami dalam menangkap peluang pasar secara selektif, dengan tetap menjaga prinsip kehati-hatian dan keberlanjutan,” ujarnya.

Seiring peningkatan pembiayaan baru, total piutang yang dikelola juga naik 18 persen menjadi Rp64,7 triliun. Ekspansi bisnis turut diperkuat melalui 879 jaringan operasional di seluruh Indonesia, dengan jumlah pelanggan aktif meningkat dari 2 juta menjadi 2,6 juta nasabah.

Dari sisi profitabilitas, perusahaan mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 26 persen menjadi Rp484 miliar. Total pendapatan naik 7 persen menjadi Rp3,2 triliun, sementara beban penyisihan penurunan nilai turun 7 persen menjadi sekitar Rp635 miliar—indikasi kualitas aset yang tetap terjaga.

Baca Juga : Kalla Translog Perkuat ESG, Donor Darah Rutin dan Distribusi Bibit Pohon Dorong Dampak Sosial Berkelanjutan

Direktur Keuangan Adira Finance, Sylvanus Gani Mendrofa, menegaskan bahwa keseimbangan antara ekspansi dan manajemen risiko menjadi kunci kinerja perusahaan.

“Kami menjaga pertumbuhan tetap sehat dengan pengelolaan risiko yang disiplin, sehingga profitabilitas meningkat tanpa mengorbankan kualitas aset,” jelasnya.

Hal ini tercermin dari rasio Non-Performing Financing (NPF) gross yang membaik menjadi 1,9 persen per Maret 2026, turun dari 2,3 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Baca Juga : Masuk 900 Besar, Unhas Kini Bidik 500 Dunia dengan Strategi Agresif

Ke depan, Adira Finance berkomitmen menjaga momentum pertumbuhan melalui penguatan kualitas portofolio, peningkatan hubungan dengan pelanggan dan mitra, serta efisiensi operasional.

Di tengah tekanan global yang belum mereda, kinerja ini menjadi sinyal bahwa sektor pembiayaan domestik masih memiliki daya tahan kuat, sekaligus menunjukkan peluang pertumbuhan yang tetap terbuka bagi pelaku industri yang adaptif dan disiplin dalam mengelola risiko.

#Adira Finance #Pembiayaan #ekonomi global #IMF #Industri Otomotif #kredit kendaraan #Kinerja Keuangan #Q1 2026 #NPF #Perusahaan pembiayaan #Indonesia #ekonomi nasional