Kamis, 16 April 2026 19:37

OJK Dorong Masyarakat Beralih ke Investasi Produktif

Lisa Emilda
Konten Redaksi Rakyatku.Com
Kepala OJK Sulselbar Moch.Muchlasin
Kepala OJK Sulselbar Moch.Muchlasin

OJK dorong masyarakat beralih dari tabungan ke investasi reksa dana untuk meningkatkan pertumbuhan aset dan memperkuat ekonomi rumah tangga

RAKYATKU.COM, MAKASSAR — Ketergantungan masyarakat pada instrumen simpanan konvensional seperti tabungan dan deposito dinilai menjadi salah satu faktor yang menghambat optimalisasi pertumbuhan aset rumah tangga. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pun mulai mendorong pergeseran pola pengelolaan keuangan ke arah investasi yang lebih produktif, salah satunya melalui reksa dana.

Dorongan tersebut disampaikan Kepala OJK Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, Moch. Muchlasin, dalam kegiatan edukasi pasar modal di Makassar, Kamis (16/4/2026). Menurutnya, kebiasaan menempatkan dana hanya pada tabungan dan deposito memang memberikan rasa aman, namun belum cukup mampu melawan tekanan inflasi dalam jangka panjang.

“Tabungan penting untuk likuiditas, tetapi jika berbicara pertumbuhan nilai, diperlukan instrumen yang lebih produktif,” ujarnya.

Baca Juga : Kasus BNI Aek Nabara, OJK Awasi Ketat Pengembalian Dana Nasabah

Masalah Struktural: Literasi Rendah, Potensi Besar

Data OJK menunjukkan bahwa literasi masyarakat terhadap pasar modal masih berada di bawah 20 persen, jauh tertinggal dibandingkan sektor perbankan. Rendahnya pemahaman ini berdampak langsung pada minimnya partisipasi masyarakat dalam instrumen investasi non-perbankan.

Padahal, dari sisi potensi, pasar domestik masih terbuka lebar. Jumlah investor di Sulawesi Selatan memang menunjukkan tren meningkat hingga awal 2026, namun kontribusinya terhadap total investor nasional masih relatif kecil.

Baca Juga : Reksa Dana Naik Kelas: OJK Dorong Instrumen Ini Jadi Tulang Punggung Pertumbuhan Aset Masyarakat

Kondisi ini mencerminkan adanya gap antara potensi ekonomi masyarakat dan pemanfaatan instrumen keuangan modern yang dapat mendorong pertumbuhan kekayaan.

Generasi Muda Jadi Kunci

OJK melihat generasi muda sebagai katalis utama dalam transformasi tersebut. Dengan jumlah populasi usia produktif yang besar serta horizon investasi yang panjang, kelompok ini dinilai memiliki peluang lebih besar untuk mengakumulasi aset.

Baca Juga : OJK Dorong Literasi Keuangan Masuk Kurikulum: Fondasi Investasi dan Ketahanan Ekonomi Generasi Muda

“Segmentasi usia muda menjadi target utama, karena mereka memiliki waktu yang cukup untuk memanfaatkan efek compounding dalam investasi,” jelas Muchlasin.

Namun demikian, tantangan utama tidak hanya pada akses, melainkan juga perubahan mindset—dari sekadar menyimpan uang menjadi mengelola aset secara aktif.

Reksa Dana: Instrumen Aksesibel dengan Risiko Terkelola

Baca Juga : OJK Sulselbar Perkuat Sinergi Lewat Halal Bihalal, Dorong Keuangan Inklusif dan Syariah

Sebagai langkah awal, OJK bersama Asosiasi Pelaku reksa dana dan investasi Indonesia dan Bursa Efek Indonesia memperkenalkan reksa dana sebagai instrumen investasi yang relatif mudah diakses.

Menurut Dewan Presidium APRDI, Marsangap P. Tamba, reksa dana memungkinkan masyarakat berinvestasi tanpa harus memiliki keahlian teknis mendalam.

“Dana dikelola oleh manajer investasi profesional dan ditempatkan di berbagai instrumen seperti pasar uang, obligasi, hingga saham,” ujarnya.

Baca Juga : Literasi Rendah, OJK Genjot Edukasi Pasar Modal untuk Cegah Investasi Bodong

Konsep diversifikasi yang diterapkan dalam reksa dana menjadi salah satu keunggulan utama. Dengan penyebaran aset, risiko dapat ditekan dibandingkan investasi tunggal.

Selain itu, fleksibilitas produk memungkinkan investor memilih sesuai profil risiko, mulai dari konservatif hingga agresif.

Risiko Tetap Ada, Edukasi Jadi Kunci

Baca Juga : Literasi Rendah, OJK Genjot Edukasi Pasar Modal untuk Cegah Investasi Bodong

Meski menawarkan potensi imbal hasil yang lebih tinggi dibanding tabungan, reksa dana tetap memiliki risiko fluktuasi nilai yang dipengaruhi kondisi pasar. Kinerja produk diukur melalui Nilai Aktiva Bersih (NAB), yang mencerminkan nilai portofolio investasi.

Karena itu, OJK menekankan pentingnya pemahaman sebelum berinvestasi, termasuk mengenali legalitas produk untuk menghindari praktik investasi ilegal yang masih marak.

Digitalisasi Percepat Inklusi Keuangan

Baca Juga : Literasi Rendah, OJK Genjot Edukasi Pasar Modal untuk Cegah Investasi Bodong

Perkembangan teknologi menjadi faktor pendorong lain dalam peningkatan partisipasi masyarakat. Kini, akses terhadap produk reksa dana semakin mudah melalui platform digital, yang memungkinkan investasi dilakukan secara cepat dan dengan nominal terjangkau.

Transformasi ini membuka peluang besar bagi peningkatan inklusi keuangan, khususnya di kalangan generasi muda yang akrab dengan teknologi.

Menuju Ekonomi Rumah Tangga yang Lebih Produktif

Baca Juga : Literasi Rendah, OJK Genjot Edukasi Pasar Modal untuk Cegah Investasi Bodong

Melalui edukasi berkelanjutan, OJK berharap terjadi pergeseran perilaku keuangan masyarakat dari konsumtif dan pasif menjadi lebih produktif dan terencana.

Jika berhasil, transformasi ini tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga berkontribusi terhadap pendalaman pasar keuangan nasional dan penguatan ekonomi domestik.

Reksa dana, dalam konteks ini, bukan sekadar produk investasi, melainkan pintu masuk bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam ekosistem ekonomi yang lebih luas dan berkelanjutan.

#OJK #reksa dana #investasi #literasi keuangan #pasar modal #APRDI #BEI #generasi muda #ekonomi indonesia #investasi pemula #Inklusi keuangan #keuangan pribadi