RAKYATKU.COM, MAKASSAR — Upaya mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis komunitas terus diperkuat melalui pendekatan vokasi. Politeknik Pariwisata Makassar mengintegrasikan pembelajaran akademik dengan pemberdayaan masyarakat lewat pelatihan “Home Barista to Coffeepreneur”, yang menyasar potensi usaha kopi skala mikro.
Kegiatan ini bukan sekadar praktik perkuliahan, melainkan model intervensi ekonomi berbasis keterampilan. Sebanyak 30 warga Kelurahan Bongaya dilibatkan dalam pelatihan yang menggabungkan kemampuan teknis pengolahan kopi dengan pemahaman kewirausahaan—dua aspek yang menjadi fondasi penting dalam membangun usaha mandiri.
Di tengah pertumbuhan industri kopi nasional yang terus meningkat, peluang di sektor minuman berbasis kopi dinilai masih terbuka lebar, terutama di level usaha kecil. Namun, keterbatasan akses pengetahuan dan manajemen usaha kerap menjadi hambatan utama masyarakat untuk masuk ke sektor ini.
Baca Juga : Pemkot Makassar Ubah Skema Penertiban PKL, KUR Jadi Instrumen Naik Kelas UMKM
Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya belajar konsep manajemen, tetapi juga berperan sebagai fasilitator yang mentransfer pengetahuan langsung ke masyarakat. Pendekatan ini memperlihatkan pergeseran peran kampus vokasi—dari pusat pendidikan menjadi agen penggerak ekonomi lokal.
Materi pelatihan dirancang menyeluruh, mulai dari teknik penyeduhan, pemahaman karakteristik kopi, hingga strategi membangun produk yang memiliki nilai jual. Tak kalah penting, peserta juga dibekali keterampilan pemasaran digital dan pengelolaan keuangan sederhana, yang menjadi kunci keberlanjutan usaha di era kompetisi terbuka.
Wakil Direktur I, Muhammad Arfin Muhammad Salim, menegaskan bahwa transformasi dari sekadar peracik kopi menjadi pelaku usaha membutuhkan kombinasi keterampilan teknis dan pola pikir bisnis. Menurutnya, industri kopi saat ini tidak hanya menjual rasa, tetapi juga pengalaman dan branding.
Baca Juga : Pertamina Dorong UMKM Go Green dan Go Digital Lewat UMK Academy 2026 di Makassar
Keterlibatan pemerintah kelurahan dalam kegiatan ini menunjukkan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam membangun ekonomi berbasis masyarakat. Sinergi antara kampus, pemerintah, dan warga menjadi faktor krusial dalam menciptakan ekosistem usaha yang berkelanjutan.
Secara lebih luas, pelatihan ini mencerminkan strategi pemberdayaan ekonomi yang berorientasi pada penciptaan wirausaha baru. Dengan memanfaatkan tren konsumsi kopi yang terus tumbuh, masyarakat didorong untuk tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga produsen yang mampu bersaing.
Langkah ini menegaskan bahwa pendidikan vokasi memiliki peran strategis dalam menjawab tantangan ekonomi, terutama dalam membuka akses peluang usaha bagi masyarakat. Jika konsisten dilakukan, model seperti ini berpotensi menjadi katalis lahirnya pelaku usaha baru di sektor ekonomi kreatif, khususnya industri kopi di Makassar.
