RAKYATKU.COM — Tim SAR gabungan berhasil menemukan korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 di Pangkep dalam bentuk jenazah dengan total sembilan pack body part.
Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, menjelaskan bahwa istilah body part yang dimaksud dalam laporan lapangan tidak hanya merujuk pada bagian tubuh korban, tetapi juga bagian dari pesawat.
“Perlu kami jelaskan bahwa yang dimaksud dengan body part di lokasi operasi adalah bagian dari pesawat maupun bagian dari anggota tubuh korban. Hingga hari ini (22/01), total yang ditemukan adalah sembilan pack body part. Selain itu, terdapat enam korban yang saat ini masih dalam proses evakuasi oleh tim SAR gabungan,” ujar Mohammad Syafii.
Baca Juga : Black Box Pesawat ATR 42-500 Ditemukan Tim SAR
Ia menegaskan bahwa seluruh proses evakuasi dilakukan dengan hati-hati dan diukur dengan mengutamakan keselamatan personel, mengingat medan pencarian yang terjal serta kondisi cuaca yang tidak menentu. Seluruh temuan korban untuk selanjutnya akan diserahkan kepada pihak yang berwenang guna dilakukan proses identifikasi sesuai dengan prosedur yang berlaku.
Sementara itu, Asisten Operasi (Asops) Kodam XIV/Hasanuddin, Kolonel Dody Triyo Hadi, mengatakan enam jenazah tersebut ditemukan oleh tim Elang 1 hingga Elang 5 sejak pukul 09.30 Wita hingga 10.46 Wita. Posisi jenazah berada dalam radius sekitar 50 meter dari lokasi penemuan korban pertama, dengan jarak kurang lebih 250 meter dari puncak gunung.
“Posisi pemakaman berada di sisi selatan dari temuan pertama, sekitar seratus meter ke bawah,” kata Kolonel Dody kepada wartawan.
Baca Juga : Korban Kecelakaan Pesawat ATR 42-500 Dievakuasi Pakai Helikopter
Terkait kondisi korban, Kolonel Dody Menyebutkan bahwa sebagian besar jenazah dalam kondisi membengkak setelah enam hari berada di lokasi kejadian, sehingga menyulitkan proses pengenalan dan evakuasi.
“Kondisinya sudah membesar, sehingga cukup menyulitkan tim di lapangan, namun secara fisik terlihat bagian-bagian tubuh yang besar,” jelasnya.
Untuk proses evakuasi, tim SAR menggunakan teknik penyelamatan vertikal dengan metode jetring yang disiapkan dari puncak oleh tim penyelamatan Basarnas. Teknik tersebut sebelumnya juga digunakan saat mengevakuasi korban kedua, mengingat medan jurang yang hampir serupa.
Baca Juga : Evakuasi Korban Pertama Kecelakaan Pesawat ATR 42-500 Dilakukan 30 Jam
“Enam jenazah ini direncanakan diangkat seluruhnya menuju puncak, kemudian dievakuasi ke posko dan selanjutnya dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara,” kata Kolonel Dody.
Jika kondisi cuaca memungkinkan, evakuasi dari posko akan dilakukan menggunakan helikopter melalui lapangan sepak bola Desa Tompobulu. Namun, jika cuaca tidak mendukung, jalur darat tetap menjadi opsi utama seperti evakuasi sebelumnya. Kolonel Dody menegaskan tidak menetapkan target waktu tertentu demi mengutamakan keselamatan penyelamatan personel.
“Kita tidak menentukan estimasi agar tidak terburu-buru. Keselamatan personel tetap menjadi prioritas,” tegasnya.
