Minggu, 28 Februari 2021 15:05

Tidak Langsung Kebal Covid-19, Butuh 21-60 Hari Usai Suntikan Vaksin Dosis Kedua

Fathul Khair Akmal
Konten Redaksi Rakyatku.Com
Ilustrasi penyuntikan vaksin Covid-19
Ilustrasi penyuntikan vaksin Covid-19

Vaksin pertama bertujuan untuk pembentukan limfosit B memory cells.

RAKYATKU.COM - Sebagian masyarakat Indonesia sudah menjalani vaksinasi corona. Pemerintah menargetkan 181,5 juta warga disuntik vaksin untuk mencapai kekebalan kelompok (herd immunity).

Bagi yang sudah menjalani vaksinasi, baik suntikan pertama maupun kedua, tetap wajib menjalankan protokol kesehatan 3M (memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak). Sebab, antibodi usai vaksinasi tidak serta merta langsung muncul di tubuh seseorang.

"Habis divaksinasi itu bukan langsung kebal, lho," ujar dokter spesialis patologi klinik, Tony Loman, Minggu (28/2/2021).

Baca Juga : Kakanwil dan Pejabat Kemenkumham Sulsel Jalani Vaksinasi Kedua, Kadiv Pemasyarakatan Rasakan Ini

dr Tony menjelaskan masing-masing tujuan vaksin saat suntikan pertama dan kedua. Vaksin pertama bertujuan untuk pembentukan limfosit B memory cells.

"Sehingga pada saat [vaksin pertama] ini belum terjadi pembentukan antibodi, atau baru pengenalan terhadap protein virus," kata Tony saat dihubungi kumparan.

 

"Butuh waktu 4-8 minggu setelah suntikan pertama untuk timbulnya antibodi yang protective," sambungnya.

Baca Juga : Google Luncurkan Fitur Jadwalkan Vaksinasi dalam 28 Bahasa

Adapun suntikan kedua bertujuan untuk merangsang limfosit B memory cells yang sudah mengenal protein virus corona. Sehingga, bisa membentuk antibodi terhadap virus tersebut.

Tony yang menghabiskan profesinya di laboratorium ini lantas mencoba memeriksa antibodi spesifik yang timbul usai divaksinasi. Tony pun membagikan hasilnya:

Antibodi Kuantitatif (Positif bila > 0,8 u/ml)

Baca Juga : 10.505.334 Penduduk Indonesia Sudah Disuntik Vaksin Covid-19 Dosis Pertama

Tony = 0,4 u/ml (negatif) (H1 + 18 hari usai vaksin)

Anak kedua = 26,8 u/ml (H2 + 8 hari usai vaksin)

Menantu = 2.80 u/ml (H2 + 5 hari usai vaksin)

Baca Juga : Izin Vaksin Sputnik V di Indonesia Keluar April

Anak pertama = 59,04 u/ml (H2 + 16 hari usai vaksin)

*H1 = suntikan pertama

*H2 = suntikan kedua

Baca Juga : 9.955.433 Penduduk Indonesia Sudah Divaksin Covid-19 Dosis Pertama

(Berselang dua minggu dari H1).

Trlihat, H1 + 18 hari usai vaksinasi belum terjadi pembentukan antibodi (0.4 u/mL). Ia menegaskan, semua pembentukan antibodi baru terjadi setelah suntikan kedua.

"Semakin lama hari setelah penyuntikan kedua, titer antibodi akan semakin tinggi. Titer antibodi H2+16 hari (58.04 u/mL) lebih tinggi dari H2 + 8 hari (26.8 u/mL) dan H2 + 8 hari lebih tinggi dari H2 + 5 hari (2.80 u/mL). Jadi semua antibodi yang terbentuk masih sesuai teori," tutur Tony dikutip dari kumparan.

Baca Juga : 9.955.433 Penduduk Indonesia Sudah Divaksin Covid-19 Dosis Pertama

'Terlihat bahwa saya yang sudah 66 tahun, responsnya sudah lambat sekali. Semoga [timbul] setelah suntikan kedua pada lansia selang dengan H1 adalah 4 minggu, beda dengan orang muda cuma dua minggu," tutur Tony.

Tony menuturkan, untuk mengetahui apakah seseorang sudah kebal COVID-19 atau belum, ia menganjurkan untuk memeriksakan diri di laboratorium. Antara usia produktif dan lansia, jangka waktu pemeriksaan antibodi pun berbeda.

"Dianjurkan tes antibodi pada hari ke 28 - 60 pascavaksin kedua pada lansia usia lebih dari 60 tahun dan hari ke 21-60 pasca vaksin kedua pada usia kurang dari 60 tahun," ungkapnya.

Baca Juga : 9.955.433 Penduduk Indonesia Sudah Divaksin Covid-19 Dosis Pertama

Sehingga, Tony menegaskan, saat ini dirinya belum kebal COVID-19. Itulah alasannya masyarakat harus tetap mempertahankan 3M.

"3M harus tetap dipertahankan hingga pandemi Covid 19 selesai , karena hingga saat ini belum diketahui berapa lama efektivitas dari vaksinasi COVID-19, perkiraan sementara ini adalah 4-8 bulan, masih menunggu hasil penelitian lebih lanjut. Bukti di lapangan ada beberapa teman saya yang tertular COVID-19 setelah vaksinasi H1," pungkasnya.

#Vaksin Covid-19