Selasa, 15 September 2020 19:15

Diusir Erwin Aksa Setelah Terima Rp1,5 Miliar, Ini Penjelasan Eep Terkait Survei yang Unggulkan Appi-Rahman

Alief Sappewali
Konten Redaksi Rakyatku.Com
Suasana saat Eep melakukan presentasi survei di depan tim pemenangan Appi-Rahman.
Suasana saat Eep melakukan presentasi survei di depan tim pemenangan Appi-Rahman.

Masalah muncul setelah founder PolMark Indonesia, Eep Saefulloh Fatah membantah meme tersebut.

RAKYATKU.COM - Konsultan politik, PolMark Indonesia bikin geger. Mereka diberhentikan di tengah jalan setelah dibayar Rp1,5 miliar oleh tim pasangan Munafri Arifuddin-Abdul Rahman Bando.

Pemicunya, meme hasil survei yang disebar tim pemenangan Appi-Rahman. Hasil survei itu menunjukkan pasangan tersebut unggul jauh. Memimpin dengan elektabilitas 31,7 persen.

Jauh meninggalkan pesaingnya. Paling dekat pasangan Moh Ramdhan Pomanto-Fatmawati 26,8 persen, disusul Syamsu Rizal-Fadli Ananda 14,4 persen, dan Irman Yasin Limpo-Zunnun Nurdin Halid 3,4 persen.

Baca Juga : 

Hasil survei itu diserahkan PolMark ke tim Appi-Rahman. Tim kemudian menuangkan dalam bentuk meme yang kemudian beredar luas.

Masalah muncul setelah founder PolMark Indonesia, Eep Saefulloh Fatah membantah meme tersebut. Ada beberapa yang dia koreksi dalam materinya, sebagai berikut:

(1) Saya dan PolMark Indonesia tak pernah membuat bahan publikasi itu. Ada pihak lain yang membuatnya. Kami tak tahu menahu.

(2) Saya dan PolMark Indonesia tak bertanggung jawab atas isi bahan publikasi itu. Apapagi ada penggunaan gambar saya dengan keterangan yang redaksinya sama sekali tak bisa saya setujui: “Konsultan politik ternama yang memenangkan ….”.

Sepanjang 11 tahun memimpin dan mengelola PolMark Indonesia (dan PolMark Research Center), saya tak pernah menggunakan klaim dan glorifikasi diri sebagai bagian dari kerja kami. Itu bukan cara dan gaya saya/kami. Kami tak pernah gunakan frase atau kalimat semacam itu, apalagi sekadar untuk gimmicks marketing.

(3) Tentang hasil surveinya, silakan tanyakan pada yang mengedarkan. Jangan tanya ke saya.

Yang jelas, tertulis di sana *Data Agustus 2020*. Kami, PolMark Research Center/PolMark Indonesia tidak pernah mengadakan survei di Kota Makassar pada bulan Agustus. Survei kami terakhir adalah pada akhir Juli 2020. Bagaimana hasilnya? Kami tak punya kewajiban untuk menyampaikan hasilnya kepada siapapun kecuali kepada mitra kerja sama survei kami.

(4) Yang jelas, sekali lagi, saya/kami tak pernah membuat bahan publikasi itu, tak bertanggung jawab sama sekali pada isinya.

Inilah yang bisa saya jelaskan. Semoga maklum.

Tabik.

Tangerang Selatan, Senin 14 September 2020
Eep Saefulloh Fatah

Giliran Erwin Aksa yang berang. Dia merasa "dikerjai" Eep. Mungkinkah hasil survei yang mengunggulkan Appi-Rahman itu abal-abal?

"Mengecewakan. Pak Erwin Aksa selaku ketua tim pemenangan kecewa sekali dengan sikap Eep. Eep mengingkari hasil survei PolMark," kata juru bicara Appi-Rahman, Fadli Noor, dalam keterangan tertulis kepada wartawan, Selasa (15/9/2020).

Fadli mengakui, meme itu memang bukan dibuat oleh tim Eep. Namun, hasil survei tersebut benar datanya dari PolMark Indonesia.

"Tidak ada kebohongan dan pembohongan di dalamnya," kata Fadli.

Ketua PSI Sulsel itu juga membeberkan bahwa tim pemenangan Appi-Rahman telah membayar tunai PolMark Rp1,5 miliar untuk biaya pendampingan.

"Kontrak menyebutkan PolMark bekerja untuk tujuan politik memenangkan Appi-Rahman. Jadi PolMark itu merupakan bagian dari kerja besar pemenangan Appi-Rahman," tegas Fadli.

Sementara Erwin Aksa juga mengaku marah atas sikap Eep. Dia bahkan menunjukkan foto perjanjian kerja sama senilai Rp1,5 miliar antara pihaknya dan PolMark Indonesia. Tak hanya itu, Erwin juga memperlihatkan foto gepokan duit untuk membayar PolMark.

 

#PolMark Indonesia #Pilkada Makassar