Kamis, 27 Agustus 2020 15:02

Dijemput di Belakang Rumah, Pasangan 90 dan 85 Tahun Ini Ungkap Sensasi Naik Helikopter Hadiri Pernikahan Cucu

Alief Sappewali
Konten Redaksi Rakyatku.Com
ILUSTRASI
ILUSTRASI

Saat helikopter terbang lebih rendah dari penerbangan komersial, mantan perwira kereta api itu mengatakan rasanya seperti meluncur di awan tanpa tekanan kabin atau masalah telinga yang biasanya terkait dengan penerbangan komersial.

RAKYATKU.COM -- Pasangan lanjut usia (lansia) ini mungkin yang paling bahagia di dunia. Terutama di tengah pandemi Covid-19.

Pasangan yang berusia 90 dan 85 tahun itu bisa menghadiri pernikahan cucunya. Tak sekadar hadir. Dia juga mendapat pengalaman langka. Naik helikopter pergi pulang.

Pasangan lansia itu terbang dari Kerala ke Bengaluru, India. Jarak kedua kota dalam perjalanan darat mencapai 394 kilometer.

Baca Juga : 

"Rasanya seperti terbang dari halaman belakang saya ke Bengaluru dan kembali lagi. Saya tidak berpikir ini akan terjadi," kata Lakshminarayan (90), kakek itu seperti dikutip dari IANS.

Lakshminarayan adalah mantan perwira IRTS. Mereka terbang ke Bengaluru pada hari Sabtu dan kembali dengan helikopter sewaan yang sama pada hari Senin.

Cucu laki-lakinya menikah di kuil ISCKON. Dia yang mengatur penerbangan helikopter sehingga kakek-neneknya bisa hadir sekaligs menghindari ancaman infeksi virus corona.

Lakshminarayanan membayangkan betapa repotnya jika dia menempuh penerbangan biasa. Dibutuhkan sekitar tiga hingga empat jam hanya untuk mencapai bandara di Kochi dan dua jam ke bandara Coimbatore.

“Melaporkan ke bandara dua jam sebelumnya. Terutama dalam situasi Covid-19 ini, melalui semua prosedur ini dan kami masih memiliki peluang terkena infeksi. Saya benar-benar dijemput dari halaman belakang rumah saya,” katanya menjelaskan kemudahan perjalanan helikopternya.

Saat helikopter terbang lebih rendah dari penerbangan komersial, mantan perwira kereta api itu mengatakan rasanya seperti meluncur di awan tanpa tekanan kabin atau masalah telinga yang biasanya terkait dengan penerbangan komersial.

“Saat terbang ke Bengaluru, kami terbang sangat rendah. Saya pikir itu 6.000 kaki di atas tanah. Saat mengembalikannya sama. Rasanya seperti melayang di atas awan. Hanya dalam 1 jam 10 menit kami sudah sampai di Bengaluru,” ujarnya.

Lakshminarayan mengatakan layanan helikopter seharusnya dilarang selama penguncian.

“Saya harus memberi tahu Anda sesuatu, helikopter adalah moda transportasi untuk situasi apa pun. Ini adalah moda transportasi ketika semua moda lainnya gagal. Bahkan bisa menembus hutan lebat kalau ada tempat untuk mendarat,” kata mantan petugas IRTS itu.

Menurutnya, perjalanan helikopter akan sangat membantu orang-orang seperti dia selama penguncian karena banyak orang kehilangan orang tua dan orang-orang terdekat dan tersayang yang bisa dengan mudah dikunjungi dengan helikopter.

“Hanya di antara dua kota, mereka tidak bisa menghadiri pemakaman. Tapi kalau tidak dihentikan, bisa digunakan untuk keperluan seperti itu,” tandasnya.

Karena helikopter terbang dengan 4-5 penumpang, mereka adalah anggota keluarga terbang yang tinggal di bawah satu atap atau menerbangkan grup perusahaan yang bekerja bersama di kantor yang sama. Tidak ada masalah social distancing di dalam helikopter karena mereka sudah tinggal bersama atau bekerja sama.

Pasangan lansia itu membayar Rs90.000 atau sekitar Rp17,7 juta per jam untuk penerbangan helikopter sewaan mereka.

#Sewa Helikopter #pernikahan