Selasa, 11 Agustus 2020 15:33

Sepekan Setelah Ledakan Beirut, PM Lebanon dan Seluruh Menteri Mundur Massal

Fathul Khair Akmal
Konten Redaksi Rakyatku.Com
 (AFP Photo/STR)
(AFP Photo/STR)

Menteri Kesehatan Lebanon, Hamad Hassan lebih dulu mengonfirmasi pemerintahan mengundurkan diri saat berbicara kepada wartawan setelah rapat kabinet pada Senin.

RAKYATKU.COM - Perdana Menteri Lebanon, Hassan Diab dan seluruh menteri pemerintahan negara tersebut mengundurkan diri setelah ledakan mematikan Beirut menewaskan sedikitnya 160 orang.

Dalam pidato singkat yang disiarkan televisi Senin malam, Diab mengatakan dia mengundurkan diri agar bisa bersama rakyat berjuang demi perubahan.

"Saya mengumumkan hari ini pengunduran diri pemerintah. Semoga Tuhan melindungi Lebanon," terangnya, dilansir Sky News, Selasa (11/8).

Baca Juga : 

Dia mengulang pernyataan tersebut tiga kali.

"Kami bersama rakyat menyerukan persidangan bagi mereka yang bertanggung jawab atas kejahatan ini," lanjutnya.

Para pengunjuk rasa menuntut perubahan politik setelah ledakan Beirut pada 4 Agustus pekan lalu yang menewaskan lebih dari 160 orang dan melukai sekitar 6.000 orang.

 

Tekanan kepada kabinet meningkat setelah beberapa menteri mengundurkan diri atau mengungkapkan keinginannya mundur dalam beberapa hari terakhir.

"Seluruh pemerintahan mundur," kata Hamad.

Kabinet PM Diab saat ini menjadi kabinet sementara sampai pemerintahan baru terbentuk.

Unjuk rasa direncanakan di luar markas pemerintahan bertepatan dengan rapat kabinet.

Menteri Kehakiman, Marie Claude Najm telah mengundurkan diri sebelumnya pada Senin.
Najm, yang disiram air dan diserang secara verbal saat mengunjungi wilayah yang hancur terdampak ledakan, adalah menteri ketiga yang mundur sebelum seluruh pemerintahan mengundurkan diri.

Hakim mulai memeriksa Kepala Keamanan Negara, Mayor Jenderal Tony Saliba terkait ledakan. Namun tak ada informasi lebih rinci siapa jenderal lainnya yang dijadwalkan akan diperiksa. Diyakini ledakan disebabkan 2.750 ton amonium nitrat yang disimpan dalam sebuah gudang di pelabuhan Beirut selama enam tahun.

Keamanan Nasional telah mengumpulkan sebuah laporan terkait bahaya penyimpanan bahan tersebut dan mengirim salinan dokumen ke presiden dan perdana menteri pada 20 Juli.

Penyelidikan fokus bagaimana amonium nitrat bisa disimpan di pelabuhan dan kenapa tak ada tindakan apapun yang dilakukan. Sekitar 20 orang ditahan terkait ledakan, termasuk Kepala Departemen Bea Cukai Lebanon dan pendahulunya, termasuk kepala pelabuhan.

Puluhan orang telah diperiksa, termasuk dua mantan menteri, menurut pejabat pemerintah.

Kemarahan publik meningkat sejak ledakan, yang meluluhlantakkan wilayah ibu kota, menyebabkan 300.000 orang kehilangan tempat tinggal. Kerugian akibat ledakan diperkirakan Rp 154 triliun sampai Rp 231 triliun.

sumber: merdeka.com

#Lebanon