RAKYATKU.COM,GOWA - Enam bulan lagi, stadion berstandar FIFA hadir di Gowa. Rumputnya menggunakan Zoysia Matrella. Persis sama yang digunakan Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta.
Stadion Kalegowa menggunakan jenis rumput itu. Butuh waktu sekitar enam bulan sejak ditanam, sebelum digunakan.
"Oktober 2019 itu kita mulai menanam bukan dari bibit. Tapi dari sistem stolon. Batang yang menjadi akar," kata Fauzan Munsir, arsitek yang mengerjakan Stadion Kalegowa, kepada Rakyatku.com, Senin (3/2/2020).
Arsitek lulusan Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin itu mengatakan, renovasi stadion diperkirakan rampung Mei atau Juni 2020. Setelah itu baru bisa digunakan.
Rumput Zoysia Matrella punya sejarah tersendiri. Dijadikan FIFA sebagai standardisasi rumput stadion sepak bola bertaraf internasional.
FIFA sebagai induk tertinggi sepak bola dunia tentu bukan tanpa alasan menjadikan Zoysia martella sebagai ratunya rumput.
Sejumlah aspek pendukung membuat FIFA merekomendasikan rumput tersebut. Stadion-stadion terkemuka di dunia diketahui menggunakan rumput jenis ini.
Zoysia Matrella atau yang lazim dikenal sebagai rumput Manila, berasal dari keluarga Poaceae. Jenis rumput ini tumbuh dan berkembang di wilayah Asia.
Dikutip dari beberapa jurnal ilmiah botani, rumput Zoysia Matrella memiliki ciri daun yang rucing. Warna hijau pekat. Rigiditas yang rapat. Dilengkapi akar yang kuat membuat rumput jenis ini aman ketika bersentuhan langsung dengan sepul sepatu sepak bola.
Zoysia Matrella biasanya ditanam menggunakan media pasir dan juga memiliki tingkat elastisitas yang sangat baik. Dengan demikian, aliran bola sempurna menggelinding tanpa mengurangi kecepatannya karena tekstur akarnya sangat kuat.
Zoysia Matrella bisa dibilang rumput manja karena harus disiram sekali setiap hari plus diberi pupuk. Rumput tersebut juga minimal harus dipangkas per dua pekan dan dianjurkan hanya dipakai untuk pertandingan sepak bola.
Zoysia Matrella hadir di Indonesia bermula ketika Presiden Soekarno memiliki ide membuat stadion yang menjadi ikon kebangsaan bangsa. Penggarapan stadion yang terletak di kawasan Senayan itu pun tak main-main.
Bung Karno menyetujui anggaran dana yang tak kecil demi membuat stadion termegah ketika itu. Kedekatan antara Soekarno dan Uni Soviet pun berbuah dana pinjaman lunak senilai 12,5 juta dollar AS untuk mendirikan stadion kelas dunia pertama di Indonesia.
Presiden Soekarno mempercayakan pembangunan stadion kepada artitek kenamaan, Frederich Silaban. Pembangunan stadion tersebut dimulai pada pertengahan 1958.
Demi memuaskan hasrat Soekarno, Frederich Silaban merancang stadion yang mampu menampung kapasitas 120.800 kursi. Selain itu, sang arsitek juga merancang stadion ditutupi atap temu gelang yang ketika itu merupakan teknologi mutakhir di dunia olahraga.
Rancangan Frederich Silaban membuat Presiden Soekarno sangat antusias. Selama pembangunan, Sang Proklamator rajin mengunjungi proyek mercusuarnya tersebut.
Soekarno bahkan terlibat sampai urusan sepele seperti pemilihan batu bata, pasir, hingga rumput. Untuk urusan rumput, Frederich Silaban menawari Soekarno jenis yang setara dengan gengsi stadion tersebut. Tercetuslah ide pemilihan Zoysia Matrella, yang kala itu merupakan rumput mahal dan harus didatangkan dari luar negeri.
Dari segi historis, secara tidak langsung Zoysia Matrella sudah melekat di jantung stadion yang kini bernama Gelora Bung Karno tersebut. Makanya, ketika SUGBK direnovasi untuk Asian Games 2018, rumput Zoysia Matrella dipertahankan.
