Waspada Santing
Dosen Fakultas Hukum Universitas Bosowa Makassar
Rabu, 23 Februari 2022 08:13

Quantum Ikhlas

Waspada Santing, Dosen Fakultas Hukum Universitas Bosowa Makassar.
Waspada Santing, Dosen Fakultas Hukum Universitas Bosowa Makassar.

Iblis berkata: "Ya Tuhanku, Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya. Kecuali hamba-hamba Engkau yang ikhlas di antara mereka." (QS. Al-Hijr/15: 39-40)

 

Ikhlas, menurut ahli bahasa Arab, diambil dari kata khalasha-yakhlusu yang berarti tanqiyah asy-syai wa tahdzibuhu (mengosongkan sesuatu dan membersihkannya). Ikhlas, secara etimologis berarti: bersih, jernih, suci dari campuran maupun pencemaran; murni, bebas dari segala bentuk kotoran; bersih; tuntas; tak terkontaminasi dengan sesuatu, apa pun, baik yang bersifat lahiriah maupun batiniah atau baik materi ataupun immateri.

Ikhlas, secara terminologi adalah kejujuran seorang hamba dalam keyakinan atau akidah dan perbuatan yang hanya ditujukan kepada Allah Swt; mengerjakan segala sesuatu yang digariskan Allah dan rasul-Nya (ibadah) dengan penuh ketulusan, semata-mata untuk mendapat keridhaan-Nya, baik di dunia maupun di akhirat.

Ibnu Qayyim al-Jauzi menjelaskan, ikhlas secara syar’i adalah memfokuskan tujuan dan maksud suatu amalan hanya kepada Allah Swt, sebagai wujud ketaatan hanya kepada-Nya, tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu, apa pun.

Menurut Abu Thalib, ikhlas adalah pemurnian agama dari nafsu dan perilaku menyimpang; pemurnian amal dari bermacam penyakit dan noda yang tersembunyi; pemurnian ucapan dari kata yang tidak berguna; dan pemurnian budi pekerti, mengikuti kehenak Tuhan.

Menurut al-Qusyairi, ikhlas adalah penunggalan al-Haqq dalam mengarahkan orientasi ketaatan. Ketaatan mendekatkan diri kepada Allah swt., tanpa yang lain, tanpa dibuat-buat, tanpa ditujukan untuk makhluk, tidak untuk mencari pujian atau makna-makna lain, selain kepada-Nya.

***

Ikhlas, kata yang sangat sering diungkapkan dalam pergaulan antar sesama manusia, sehari-hari. Entah sebagai ungkapan ketika seseorang memberikan sesuatu, atau bentuk ajakan kepada seseorang untuk mendermakan sesuatu yang dimilikinya.

Ikhlas, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diartikan: tulus hati; hati yang bersih dan jujur. Tulus adalah sungguh-sungguh bersih hati, tidak berpura-pura atau tidak berlaku culas. Sedangkan jujur adalah lurus hati dan tidak curang. Keikhlasan adalah kerelaan karena ketulusan. Keikhlasan bersandar pada hati yang jujur, bertumpu pada nurani yang sungguh-sungguh.

Ikhlas dan keikhlasan ringan dalam ucapan. Jujur dan kejujuran enteng dalam ungkapan. Sering, tanpa beban, tulus dan ketulusan berlalu tak bermakna. Maka, ketika ikhlas diucapkan, keikhlasan justru menjauh; saat jujur diungkapkan, kejujuran kian tidak tergapai; ketulusan tidak terjangkau karena hanya “pemanis” bibir. Tantangan dan godaan meneguhkan keikhlasan, itu berat. Ranjau ria; perangkap pamrih; terlena oleh puja-puji dan sanjungan, menghadang tiap waktu.

***

Seorang kawan mengirimkan pandangan bernas: Ikhlas itu, ketika nasihat, kritik, bahkan fitnah, tak mengendorkan amal dan tidak membuat semangat punah; ketika hasil tidak sebanding harapan, tidak membuat kita menyesali amal dan tidak membuat kita tenggalam dalam kesedihan.

Ikhlas itu, ketika niat baik disambut prasangka, kita berjalan tanpa berpaling muka; ketika kita lebih ‘’merisaukan’’ karya bermanfaat yang telah dilakukan dibanding posisi; ketika fokus pada peran yang ditunaikan dibanding kedudukan; ketika perhatian lebih tertuju pada amanah yang dituntaskan dibanding jabatan.

Ikhlas itu, ketika ketersinggungan pribadi tidak menyebabkan kita keluar dari barisan dan merusak tatanan kebersamaan; ketika posisi di atas tidak membuat kita jumawa, dan ketika posisi di bawah tidak mengurangi semangat kerja, apalagi menjadi iri hati.

Ikhlas itu, ketika kekhilafan mendorong untuk meminta maaf; ketika kesalahan mendorong kita berbenah; ketika dizalimi tak pernah terlintas upaya membalas dengan kezaliman; Ikhlas itu, ketika kita menghadapi wajah marah dengan senyum ramah; menghadapi kata kasar dengan jiwa besar nan sabar; menghadapi dusta dengan menyodorkan fakta.

***

Setan diberikan Allah Swt. diskresi untuk bebas menggoda manusia tanpa jeda. Namun, syetan mengaku kalah, tak berdaya menyesatkan hamba-hamba-Nya yang ikhlas, sepanjang waktu (QS. Al-Hijr/15: 39-40). Ikhlas itu memang tidak mudah, tetapi tidak mustahil diraih jika hati terus ditempah.

Tulus dan ikhlas, tidak harus dengan kata-kata. Surat al-Ikhlas tidak menyertakan satu pun kata ikhlas di dalamnya, tetapi substansi adalah keikhlasan. Keikhlasan, perisai yang kokoh dalam menjaga dan membentengi jiwa-jiwa yang mukhlisin sehingga tidak akan pernah tersesat dalam hidupnya. (*)

Wassalahu a’lam Bish-Shawab.

Makassar, 23 Febaruari 2022.