Dr. med.vet. drh. Abdul Rahman
Fungsional Medik Madya di Direktorat Kesehatan Hewan
Senin, 14 Juni 2021 13:09

Pemberian Serum Konvalesen sebagai Tindakan Potensial untuk Mengatasi Penyakit African Swine Fever (ASF)

Dr. med.vet. drh. Abdul Rahman.
Dr. med.vet. drh. Abdul Rahman.

Upaya penyediaan obat penyakit ASF harus dicari alternatif lainnya dengan tetap melakukan penelitian pengembangan vaksin yaitu melalui uji coba, produksi, dan pemberian serum konvalesen pada ternak babi untuk pengendalian penyakit ASF.

PENYAKIT "African Swine Fever" (ASF) merupakan salah satu penyakit vital pada babi yang sangat fatal dengan morbiditas dan mortalitas hampir 100 persen pada daerah baru.

Penyakit ini ditemukan 100 tahun yang lalu di Kenya dan penularan ke beberapa negara sekitar tiga dekade belakangan ini. Di Indonesia sendiri penyakit ASF ini telah mewabah sejak Desember 2019 pada beberapa wilayah di Sumatera Utara sesuai Keputusan Menteri Pertanian Nomor 820 Tahun 2019 tentang Pernyataan Wahah Penyakit Demam Babi Afrika (African Swine Fever) Pada Beberapa Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Utara.

Selanjutnya menyusul ribuan kematian babi suspek ASF telah terjadi pada beberapa wilayah seperti di Nusa Tenggara Timur dan Bali, dan penyakit ini cenderung menjadi daerah endemis. Pengendalian dan pencegahan ASF sangat sulit dilakukan, mengingat sampai saat belum ditemukan vaksin yang aman dan potensi efikasi.

Salah satu metoda yang efektif untuk mengatasi penyakit ASF dengan melakukan tindakan "biosafety" dan "biosecucity", namun masih sulit dilakukan di semua tingkat petani peternak. Upaya penyediaan obat penyakit ASF harus dicari alternatif lainnya dengan tetap melakukan penelitian pengembangan vaksin yaitu melalui uji coba, produksi, dan pemberian serum konvalesen pada ternak babi untuk pengendalian penyakit ASF.

Beberapa penelitian terkait serum konvalesen virus ASF dapat dijelaskan melalui hasil, seperti D H Schlafer 1994 melakukan penelitian mengenai babi bunting sembuh atau bertahan terhadap uji tantang virus demam babi Afrika dan antibodi tersebut diturunkan kepada anaknya melalui kolostrum.

Pengaruh infeksi virus ASF terhadap kinerja reproduksi babi yang sembuh dan babi tersebut sebagai bahan penelitian. Skematis percobaan serum konvalesen virus ASF secara in vivo pada uji coba keamanan dan potensi pada babi sebagai immunoprophylaksis tertera pada gambar 1 berikut di bawah ini.

Skema percobaan serum konvalesen virus ASF secara in vivo pada uji coba keamanan dan potensi pada babi sebagai immunoprophylaksis (J.M. Escribano et al. 2012)

Enam induk babi diinokulasi dengan isolat ASF 1979 dari Republik Dominika. Seekor induk babi dibiakkan pada hari 58 pasca inokulasi (PID) dan dibunuh pada hari 148 pasca inokulasi (PID). Empat induk babi dibiakkan 368-419 pasca inokulasi (PID) dan dipisah secara berjauhan.

Seekor induk tidak bunting sebagai kontrol. Sampel dikoleksi/dikumpulkan selama kebuntingan, saat melahirkan, dan selama menyusui diuji virusnya melalui kultur jaringan dan inokulasi kepada hewan tersebut untuk menentukan/membuktikan apakah virus ASF muncul kembali.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Virus ditemukan hanya dari jaringan babi yang dibunuh pada hari 148 pasca inokulasi (PID). Virus tidak terdeteksi dalam sampel jaringan dari 4 induk babi tersebut atau dari janin atau neonatus. Sera babi dan neonatus, melalui kolostral/kolostrum dan air susu diuji antibodi terhadap antigen virus ASF, menggunakan uji Antibody Immunosorbent Enzyme-linked (Elisa). Nilai antibodi dalam serum babi betina tidak banyak berubah selama hamil, beranak, atau menyusui.

Seekor babi dibesarkan dengan induknya. Sampel serum mingguan diuji untuk antibodi yang didapat secara pasif. Pada usia 7 minggu, ditantang virus dan dosis yang sama seperti yang digunakan untuk menginfeksi indukannya. Titer viremia, durasi viremia, dan perjalanan klinis berkurang.

Satu babi muda tidak mengalami demam, viremia, penyakit klinis, atau respons antibodi terhadap paparan tantangan virus. Pemberian antibody pasif dapat melindungi babi dari virus ASF. Mekanisme perubahan infeksi dikaitkan dengan efek protektifitas antibodi yang didapat secara pasif. Contoh kemasan obat serum konvalesen, sebagaimana tertera pada (gambar 2) berikut di bawah ini.

 

Contoh kemasan botol obat anti serum (serum konvalesen) sebagai pengobatan dalam bentuk baik sebagai imunprophilaksis maupun imunterapi siap diinjeksikan kepada ternak babi guna protektifitas terhadap serangan penyakit ASF.

Penelitian lainnya mengenai “Netralisasi Yang Dimediasi Antibodi Dari Virus Demam Babi Afrika (ASF) antara Mitos dan Fakta (José M. Escribano, at all. 2012).

Penelitian ini menjelaskan bahwa virus ASF memiliki beberapa keunikan antara lain; hilangnya kerentanan terhadap netralisasi oleh bagian kultur sel sebagai akibat perubahan komposisi fosfolipid membran virus dan/atau adanya antibodi penghambat serum netralisasi secara lengkap.

Namun, sejumlah protein virus ASF pasti terlibat dalam induksi antibodi netralisasi selama infeksi dengan fungsi pada mekanisme netralisasi. Sebagai tambahan bahwa beberapa epitop dalam netralisasi telah diidentifikasi yaitu protein p72 dan p54.

Netralisasi yang diperantarai antibodi merupakan mekanisme pertahanan utama terhadap infeksi virus. Selain itu, mekanisme kekebalan yang dimediasi sel dapat memberikan kontribusi yang signifikan pada protektifitas terhadap virus ASF, seperti pada virus lain yang menginfeksi makrofag.

Data ini memberikan motivasi untuk mengeksplorasi formulasi vaksin dengan tujuan untuk memaksimalkan induksi dan antibodi netralisasi yang kuat. Strategi untuk merangsang produksi antibodi netralisasi secara maksimal sangat perlu/layak untuk mendesain program pengembangan vaksin ASF.

Sebagaimana telah dijelaskan pada tulisan kami sebelumnya mengenai Potensial Epitop Virus ASF Dalam Menstimulasi Respon Imun diterbitkan pada majalah vetnesia edisi 25 Mei 2021 bahwa pentingnya identifikasi potensial epitope virus ASF dalam rangka mencari dan menemukan protein imunogen sebagai kandidat vaksin ASF.

Meskipun sampai saat ini belum berhasil menemukan protein imunogen yang protektif secara optimal dan bersifat cross protection dalam melindungi penularan penyakit ASF. Oleh karena itu, agar penyakit ASF dapat dikendalikan perlu dilakukan upaya lainnya yaitu pemberian serum konvalesen virus ASF sebagaimana telah banyak diteliti dan diuji coba keefektifan dari serum konvalesen tersebut sejak beberapa dekade yang lalu.

Saat ini pemerintah Indonesia sedang melakukan uji efikasi serum konvalesen virus ASF pada beberapa wilayah di Indoneisa seperti Sumatera Utara dan Nusa Tenggara Timur. Tujuannya untuk mendapatkan serum konvalesen yang aman dan potensi efikasi saat digunakan baik sebagai imunprophylaksis maupun imunterapi.

Percobaan pertama di Sumatera Utara dengan melibatkan pemerintah cq Kementerian Pertanian dan perguruan tinggi dengan hasil menunjukkan bahwa serum konvalesen dapat melindungi babi dari serangan virus ASF. Untuk itu uji efikasi lebih lanjut di lapangan sangat diperlukan guna mendapatkan legitimasi dalam penggunaan skala yang lebih luas.

Hasil pengujian serum konvalesen ini diharapkan memenuhi persyaratan agar dapat digunakan dalam pengendalian penyakit ASF di Indonesia. Hal ini dapat membangkitkan semangat petani peternak babi untuk giat beternak kembali dalam rangka kepentingan ekonomi dan pemenuhan protein asal hewani, mendukung program pemerintah dalam ketahanan pangan nasional.

Kolom Populer
Kepala Bidang Kualitas Hidup Perempuan
Mahasiswa Jurnalistik UIN Alauddin Makassar
Mahasiswa Jurnalistik UIN Alauddin Makassar
Dosen Ilmu Hukum Sekolah Pascasarjana Universitas Indonesia Timur, Advokat Senior, dan Praktisi Hukum Pemilu/Konstitusi