Anwar Abugaza
Pemerhati Media Sosial
Senin, 30 November 2020 15:25

Menebak Hasil Akhir Pilwali Makassar 2020

Menebak Hasil Akhir Pilwali Makassar 2020

Dari waktu yang tersisa kurang dari 10 hari lagi, ada beberapa kemungkinan bisa terjadi.

MAKASSAR tidak lagi bisa terbantahkan sebagai barometer Indonesia, bukan saja Kawasan Timur Indonesia. Termasuk dalam urusan politik.

Perhelatan pilwalikot 2020 sungguh sangat menarik karena ini menjadi pendahuluan dari perhelatan pemilu negara ini yang akan memuncak pada 2024. Akan menjadi tempat belajar para politisi dalam mengelola strategi menarik perhatian pemilih milenial.

Makassar kali ini menawarkan pertarungan politik yang seru. Empat pasang calon yang disahkan KPU sebagai peserta pemilu cenderung memiliki kekuatan yang logika umum akan berimbang.

Dimulai dari pasangan nomor urut 1, Danny-Fatma. Pasangan ini pasti punya modal besar selain disokong oleh NasDem, Gerindra, PBB, dan Gelora. Tentu modal lima tahun menjadi wali kota bagi Pak Danny Pomanto sudah cukup menjadi kekuatan lebih dibanding calon lain.

Kemudian ada pasangan nomor urut 2, Appi-Rahman. Pasangan yang mencoba peruntungan kembali setelah kalah dari kotok kosong. Mengandeng pasangan baru Rahman Bando. Birokrat senior dan adik Bupati Enrekang, Muslimin Bando.

Pasangan ini pasti punya modal besar secara pendanaan dengan label kroni JK dan Aksa.

Kemudian ada pasangan nomor urut 3, Deng Ical-Fadli Ananda. Pasangan ini cukup percaya diri dengan Ilham Arief Sirajuddin sebagai king of cards campaign dan tentu modal Deng Ical sebagai wakil wali kota lima tahun.

Dan terakhir ada pasangan Irman-Zunnun. Didukung kekuatan parpol terbesar Golkar, PKS, dan PAN pasangan ini tentu cukup modal. Selain itu ada elektoral Irman yang masih tersisa hasil Pilwalikot Makassar 2013 silam.

Dari sini cukup kita membangun asumsi pertarungan ini akan seru dan persaingan dipastikan menguras energi sampai akhir. Semua pasangan punya modal dan kekuatan untuk bersaing.

Seperti lazimnya pertarungan politik, setiap pasangan ingin memulai kampanye dengan perhitungan dan kalkulasi yang ilmiah dengan "fatwa" lembaga survei. Ya tentu lembaga survei yang memiliki kredibilitas terpercaya untuk setidaknya menggiring opini publik dan pemberitaan.

Dari sumber pemberitaan, baik online maupun cetak, tidak sulit kita membaca pasangan mana yang ingin memulai dengan cara ini. Ya hampir semua bisa menebak pasangan nomor urut 2, Appi-Rahman. Bahkan sebelum KPU mengumunkan secara resmi pasangan calon tanggal 23 September 2020, melalui lembaga survei Polmark Indonesia pada 16 September 2020, hasilnya 33,2 persen untuk Appi Rahman, 28,8 persen Danny Fatma, 14,8 persen Dilan, dan 3,9 persen Imun.

Sayang opini yang berkembang lebih dominan konflik Eep Saefullah Fattah sebagai pemilik Polmark dan Ketua Tim Pemenangan Appi-Rahman, Erwin Aksa.

Tidak lama berselang, pada 12 Oktober 2020, CRC merilis hasil yang jauh berbeda dengan Polmark. Pasangan Danny-Fatma unggul cukup jauh dengan hasil 40,4 persen, Appi Rahman 23,5 persen, Deng Ical-Fadli 14,0 persen, dan Irman-Zunnun 6,5 persen.

Seolah-olah menguatkan hasil ini, SMRC melalui direktur risetnya juga merilis hasil pada 21 Oktober 2020 dimana Danny-Fatma tetap unggul dengan 41,9 persen.

Sampai di sini opini tentang Pilwali Makassar 2020 telah menggambarkan persaingan kembali "aktor kotak kosong" Danny Pomanto dengan Appi sang CEO PSM Makassar dengan berbagai bumbu yang kadang di luar nalar politik itu sendiri.

Terbaru kita coba melihat perkembangan dari rilis survei Script Survey Indonesia (SSI) yang diumumkan 18 November 2020. Survei terakhir yang menjadi referensi penulis, hasilnya Danny-Fatma masih di urutan 1 dengan 38,05 persen dan Appi Rahman 30,00 persen, Deng Ical-Fadli 13,41 persen, dan Irman-Zunnun 9,76 persen.

Hasil ini menghidupkan kembali persaingan. Setidaknya menurut temuan SSI, masih ada 39,76 persen pemilih yang akan berubah pilihannya.

Pemilih Milenial dan Media Sosial Jadi Penentu Kemenangan

Masih mengambil referensi dari survei SSI, tentu masing-masing calon memiliki optimisme berbeda. Pasangan Appi-Rahman, misalnya, melihat tren dimana jagoan mereka terus naik (dengan mengabaikan hasil dari Polmark).

Pasangan nomor urut 3 dan 4 melihat ini pertarungan belum selesai. Masih ada pemilih yang mengambang. Pasangan nomor urut 1 tentu melihat ini sebagai koreksian atas kerja tim selama ini.

Angka 39,76 persen sangat berarti untuk menentukan siapa pemenang di 9 Desember mendatang. Penulis mencoba melihat dengan pengalaman pilkada. Umumnya pemilih yang belum menentukan pilihan dan atau bisa berubah adalah pemilih cerdas, kritis, pemula yang biasa kita bahasakan secara umum pemilih milenial.

Dari waktu yang tersisa kurang dari 10 hari lagi, ada beberapa kemungkinan bisa terjadi. Namun, kecil kemungkinan akan ada perubahan secara signifikan. Hal ini disebabkan beberapa hal.

Pertama, kita coba membaca pasangan 1, Danny-Fatma sebagai poros pertarungan. Setelah melihat hasil survei SSI, langkah cerdas mereka ambil dengan melakukan perubahan kampanye untuk "reborn" dengan fokus pada pemilih milenial.

Terbaru, pada debat kedua, pasangan ini full menampilkan garapan segmen milenial dengan simbol baju yang mereka gunakan. Semua kanal social media mereka maksimalkan. Gaya seorang Danny Pomanto berubah sangat milenial dan gagasan tentang startup lorong yang menjadi simbol ekonomi kaum milenial dikuatkan. Hasilnya cukup signifikan, ketertinggalan dari nomor 2 dan 3 di segmen ini mereka bisa pangkas.

Kedua, tentu partisipasi pemilih yang diprediksi akan rendah karena pandemi Covid-19 akan berpengaruh pada pasangan penantang terutama nomor 2 Appi-Rahman yang membutuhkan banyak pemilih tambahan untuk mengejar ketertinggalan elektoralnya dan tentu pemilih ini mereka bisa peroleh dari pertarungan di social media yang sudah mereka gunakan secara maksimal sejak awal kampanye.

Ketiga, penggunaan social media yang cukup signifikan dalam kampanye kali ini, namun terdistribusi penggunaannya dengan merata ke seluruh kandidat. Betul-betul mereka gunakan secara maksimal sampai pada kampanye berbayar dengan konten yang kreatif. Tidak ada pasangan dominan di kampanye social media karena masing-masing kandidat masih representatif pemimpin milenial.