Waspada Santing
Dosen Fakultas Hukum Universitas Bosowa Makassar
Rabu, 05 Januari 2022 09:27

Kefakiran Moral

Waspada Santing.
Waspada Santing.

Katakanlah (Muhammad), "Wahai hamba-hamba-Ku yang melampui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asah dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya (kecuali dosa syirik). Sesungguhnya, Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. Az-Zumar/39: 53)

Tanggal 3 Januari setiap tahun adalah hari yang istimewa bagi masyarakat muslim Indonesia. Saat itu, 76 tahun yang silam, dalam penanggalan miladiyah, Kementerian Agama didirikan pemerintah Republik Indonesia. Keputusan pembentukan Kementerian Agama sebagai respons atas aspirasi umat Islam, walaupun tidak sepi dari kontroversi.

Dalam kurun selama 76 tahun itu, Kementerian Agama telah dipimpin oleh 24 Menteri--selain menteri ad-interim. H.M. Rasjidi adalah menteri yang pertama (Kabinet Syahrir I & II). Menteri yang ke-24, sekarang, Yaqut Chalil Qounas (Kabinet Indonesia Maju).

Menteri Agama, dari waktu ke waktu selalu berusaha mengembangkan program dalam kepemimpinannya sesuai dengan dinamika perkembangan problematika kehidupan umat yang dihadapi. Biasanya, disertai slogan baru. Kendati slogan antara seorang menteri dengan menteri berikutnya dalam formulasi kosakata "berbeda", tujuannya sama: mendorong jajaran Kementerian Agama berkhidmat lebih maksimal.

Salah satu slogan yang sangat melekat dalam hati umat adalah Ikhlas Beramal. Slogan itu dikemukakan "pertama kali" oleh Lukman Hakim Saifudin setelah dilantik sebagai Menteri Agama, Senin 9 Juni 2014 --menggantikan Suryadharma Ali yang diberhentikan oleh presiden karena kasus korupsi. Lukman berusaha memberikan citra baru Kementerian Agama dengan menempatkan slogan baru itu.

Ikhlas Beramal, diharapkan mampu mengembalikan kepercayaan masyarakat dan moral para pegawai. Bagi Lukman, Kementerian Agama adalah ladang amal dalam pengkhidmatan kepada umat. "Jadikan segala kiprah menjalankan fungsi dan tugas itu bagian dari ibadah," kata Lukman di Istana Negara, usai dilantik.

Semangat beribadah bagi Lukman, dapat menghindarkan dari praktik atau tindakan melawan hukum, baik hukum positif, apatah lagi hukum agama. Dalam beribadah, tidak ada orang yang memiliki niat berbuat maksiat atau melanggar aturan. "Saya mengajak agar seluruh aktivitas dalam mengabdi di Kementerian Agama dilandasi motivasi ibadah," tandasnya.

Putra Menteri Agama yang ke-10, K.H. Siafuddin Zuhri ini memahami bahwa situasi dan dinamika di Kementerian Agama menjadi tantangan yang sangat sulit. Ketika itu, sebagian besar pegawai dan pejabat mengalami demoralisasi. Tingkat kepercayaan masyarakat berada di titik terendah.

"Budaya kerja tak mudah diubah, tapi tuntutan masyarakat luar biasa," kata Lukman. Dengan Ikhlas Beramal, seluruh aktivitas diniatkan sebagai bagian dari ibadah akan mengembalikan kepercayaan masyarakat sehingga Kementerian Agama melaksanakan tugas dan fungsi secara ikhlas.

***

Slogan Ikhlas Beramal itu, masih sangat relevan dengan situasi dan dinamika dalam kehidupan masyarakat muslim, kini. Dengan ikhlas beramal, kita akan semakin arif dalam menyikapi berbagai persoalan keumatan. Salah satu persoalan keumatan adalah kefakiran: fakir moral.

Kefakiran moralitas, telah menyebabkan kehidupan masyarakat Indonesia, termasuk masyarakat muslim akrab dengan beragam sikap anomali. Misalnya, ada yang rajin "berdakwah:, tetapi dakwahnya tidak dilandasi kasih sayang sehingga justru menyuburkan persaingan tak sehat. Dakwahnya bukan mengajak, tetapi mengejek; bukan merangkul, tetapi memukul; bukan mendidik, tetapi membidik; bukan membina, tetapi menghina; bukan mencerahkan, tetapi mencemarkan; bukan memberi solusi, tetapi sekadar berharap simpati. Akibatnya, dakwah yang harusnya menjadi wadah menebar rahmatan lil’alamin, tak jarang menjadi ajang saling melaknat.

Kondisi lebih runyam karena tokoh publik yang diharapkan dapat berperan memperbaiki suasana, tidak berdaya. Bahkan ada yang ikut memanfaatkan situasi. Kefakiran moral umat dari hari ke hari kian memburuk. Buya Syafii Ma’arif merasa kehilangan kosakata menggambarkannya. Keretakan antara kata dan laku makin parah; kata bertutur agar berbuat baik, laku makin jauh menempuh jalan menyimpang. Manusia lebih piawai menebar godaan pada sesama. Iblis minta “pensiun dini”, khawatir berbalik tergoda (Tuhan Menyapa Kita, 2020: 103).

***

Allah Swt. yang Maha Rahman dan Rahim, melalui kitab sucinya, menyerukan agar kita tidak pernah putus harapan. Jalan pertobatan yang lempang selalu terbuka menuju ampunan, sepanjang kita tidak tergelicir dalam ceruk kata dan laku syirik (QS. Az-Zumar/39: 53). Di tengah suasana miladnya yang ke-76, kita berharap Kementerian Agama kembali meneguhkan tugas dan fungsinya sebagai institusi benteng moral.

Selamat Milad. Tetaplah Ikhlas Beramal.

Wallahu ‘alam Bish-shawab.

Makassar, 5 Januari 2022