RAKYATKU.COM, JAKARTA – Anak muda peserta Samsung Solve for Tomorrow (SFT) 2026 didorong tidak hanya mahir menggunakan Artificial Intelligence (AI), tetapi juga mampu menemukan masalah yang tepat untuk diselesaikan. Mereka belajar memahami kebutuhan pengguna, mengolah data, dan menentukan teknologi yang relevan agar AI digunakan sebagai solusi, bukan sekadar mengikuti perkembangan teknologi.
“Dalam mengembangkan solusi berbasis AI, peserta perlu memahami bahwa teknologi bukanlah titik awal. Mereka perlu terlebih dahulu mengidentifikasi masalah, memahami kebutuhan pengguna, dan melihat data yang tersedia. Dari sana, peserta dapat menentukan apakah AI memang dibutuhkan dan pendekatan apa yang paling sesuai,” ujar AI Engineer dan pengajar Technical AI Amplification Samsung Solve for Tomorrow 2026, Rahmat Fajri, dalam keterangannya, Kamis (10/9/2026).
Kemampuan tersebut menjadi relevan seiring pemanfaatan AI yang semakin berkembang, termasuk di dunia pendidikan. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mendorong pemanfaatan AI dan coding sebagai bagian dari transformasi pendidikan, termasuk melalui mata pelajaran pilihan mulai kelas lima SD.
Penerapan AI dan coding tersebut terus diperkuat melalui pelatihan guru serta penyediaan sarana dan prasarana. Sementara itu, Samsung Solve for Tomorrow 2026 mendorong generasi muda mengembangkan solusi berbasis Science, Technology, Engineering and Mathematics (STEM) untuk menjawab berbagai permasalahan di masyarakat.
Memasuki tahap semifinal, sebanyak 296 peserta dari 80 tim mengikuti pelatihan teknis AI Amplification. Jumlah tersebut merupakan hasil seleksi dari sekitar 4.000 pendaftar awal dan 2.600 peserta Design Thinking Workshop.
Sebelum Gunakan AI, Peserta Belajar Kenali Masalah
Di tengah akses AI yang semakin mudah, peserta diarahkan untuk tidak memulai proses inovasi dari pertanyaan teknologi apa yang akan digunakan. Mereka terlebih dahulu belajar menjawab masalah apa yang ingin diselesaikan dan siapa pengguna yang membutuhkan solusinya.
Dalam AI Amplification, peserta mempelajari cara mengidentifikasi permasalahan, memahami pengguna yang terdampak, menentukan kebutuhan data, memilih pendekatan AI, serta menetapkan tujuan dan output solusi. Proses tersebut menjadi dasar sebelum peserta menentukan teknologi yang akan digunakan.
Untuk pertama kalinya dalam penyelenggaraan Samsung Solve for Tomorrow di Indonesia, pelatihan teknis tahap semifinal digelar dengan format hybrid. Pengajar memberikan sesi secara langsung dari kantor Samsung Indonesia, sedangkan peserta mengikuti pembelajaran secara online pada 14, 15, 22, dan 23 Agustus 2026.
“Di awal, banyak peserta datang dengan ide dan langsung ingin menggunakan teknologi AI tertentu. Setelah mengikuti pembelajaran, mereka mulai memahami pertanyaan yang perlu dijawab terlebih dahulu: apa masalahnya, siapa penggunanya, data apa yang tersedia, dan apakah AI merupakan solusi yang tepat. Perubahan mindset ini sangat penting dalam mengembangkan solusi berbasis AI,” kata Rahmat.
Pembelajaran tersebut kemudian diterapkan melalui sesi hands-on dan tanya jawab pada proyek masing-masing peserta. Mereka menganalisis permasalahan, menentukan kebutuhan data, memilih kategori AI, menetapkan tujuan dan output, serta mempertimbangkan dampak dari solusi yang dikembangkan.
Setelah memahami permasalahan dan cakupan solusi, peserta mempelajari AI development pipeline untuk mengembangkan prototype AI. Materinya mencakup pengolahan data, pemilihan dan pengembangan model, evaluasi hasil, fine-tuning, serta transfer learning.
Peserta juga mempelajari integrasi AI ke dalam produk melalui pendekatan Edge AI dan Cloud AI. Pemahaman tersebut kemudian digunakan untuk menyempurnakan Concept Paper masing-masing.
Pada sesi pertama, peserta diperkenalkan dengan berbagai teknologi dan pendekatan AI. Materinya mencakup Artificial Intelligence, Machine Learning, Deep Learning, Generative AI, Computer Vision, Natural Language Processing (NLP), predictive AI, hingga sensor-based AI beserta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
Skill AI Tak Hanya soal Teknologi
Kemampuan mengembangkan solusi berbasis AI juga membutuhkan kemampuan memahami permasalahan dan kebutuhan pengguna. Peserta didorong mengembangkan problem solving, kolaborasi, kreativitas, dan komunikasi selain keterampilan teknis.
“Generasi muda punya potensi besar. Tugas kami adalah memberi mereka ruang, keterampilan STEM dan AI, dan kesempatan untuk menjawab tantangan nyata. Karena kami percaya, inovasi tidak lahir dari teknologi semata, tetapi dari keberanian untuk melihat masalah dengan cara yang berbeda,” ucap Head of Corporate Marketing Samsung Electronics Indonesia, Anggi Paramita.
"Bukan sekadar bisa membuat, tapi tahu apa yang perlu dibuat. Melalui tahap semifinal ini, kami tidak hanya mematangkan ide para peserta, tetapi juga menyiapkan mereka menjadi penggerak inovasi masa depan,” tambahnya.
Setelah menyelesaikan AI Amplification, para semifinalis selanjutnya mengikuti sesi mentoring untuk menyempurnakan solusi mereka. Peserta kemudian mengembangkan final paper, prototype, dan pitch video sebelum 10 tim terbaik dari masing-masing kategori Siswa dan Mahasiswa diumumkan pada 7 Oktober 2026 untuk melaju ke babak final.
Melalui Samsung Solve for Tomorrow, peserta tidak hanya belajar menggunakan dan mengembangkan AI. Mereka juga diajak lebih peka melihat masalah, memahami kebutuhan pengguna, mengolah data, dan menentukan teknologi yang tepat untuk menghasilkan solusi yang relevan. (*)
