RAKYATKU.COM, MAROS - Warga Desa Sambueja Dusun Tanalompoa yang terletak di wilayah Kabupaten Maros kini menorehkan langkah maju dalam pengembangan sektor pertanian dan peternakan berbasis ramah lingkungan. Pasalnya, warga setempat secara resmi membentuk Kelompok Tani Ternak Organik sebagai wadah bersama untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.
Pembentukan kelompok ini merupakan hasil dari inisiatif warga yang selama ini telah menjalankan aktivitas pertanian dan peternakan secara mandiri dengan Pendampingan Yayasan Hadji Kalla melalui Lembaga Amil Zakat (LAZ). Melihat potensi besar yang dimiliki serta tantangan yang dihadapi, seperti tingginya biaya pakan dan ketergantungan terhadap bahan kimia, masyarakat sepakat untuk bersatu dalam sebuah organisasi yang terstruktur dan berorientasi pada sistem organik.
Pembentukan kelompok dilaksanakan secara sederhana dan penuh semangat kebersamaan dan Kegiatan ini dihadiri oleh tokoh masyarakat, para petani, peternak, serta pemuda setempat yang memiliki kepedulian terhadap pengembangan pertanian berkelanjutan. Dalam musyawarah tersebut, disepakati nama kelompok, struktur kepengurusan, serta arah program kerja ke depan.
Baca Juga : Wakil Bupati Maros Terima 360 Mahasiswa Unhas Mulai KKN Tematik
Usai pembentukan kelompok, kemudian dilanjutkan dengan pemberian Materi Pestisida Organik melalui Workshop dan Pelatihan Pembuatan Pestisida Organik Cair.
Ketua kelompok yang terpilih dalam forum tersebut, Jusman menyampaikan bahwa pembentukan Kelompok Tani Ternak Organik ini bukan hanya sekadar formalitas organisasi, melainkan langkah nyata untuk meningkatkan kualitas hasil pertanian dan peternakan. Ia menegaskan bahwa sistem organik menjadi pilihan utama karena dinilai lebih sehat, ekonomis dalam jangka panjang, dan ramah lingkungan.
“Selama ini kita bekerja sendiri-sendiri. Dengan adanya kelompok ini, kita bisa saling belajar, berbagi pengalaman, dan memperkuat posisi kita sebagai petani dan peternak,” ujarnya dalam sambutan, Selasa (05/5/2026).
Baca Juga : Bupati Maros Ajak Ayah Lebih Terlibat Lewat Gerakan Mengambil Rapor
Kelompok ini dirancang untuk mengintegrasikan kegiatan pertanian dan peternakan secara terpadu. Limbah dari ternak akan dimanfaatkan sebagai pupuk organik, sementara hasil pertanian dapat digunakan sebagai pakan alami. Pola ini diharapkan mampu menciptakan sistem yang efisien dan berkelanjutan tanpa ketergantungan pada bahan kimia sintetis.
Selain itu, kelompok ini juga berkomitmen untuk mengembangkan pembuatan pestisida organik secara mandiri. Hal ini sejalan dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya produk pangan yang sehat dan bebas dari residu kimia berbahaya. Pelatihan dan workshop akan menjadi bagian dari program kerja untuk meningkatkan kapasitas anggota.
Menurutnya, selama ini banyak petani dan peternak yang kesulitan dalam mengakses informasi dan teknologi. Dengan adanya kelompok, semua anggota dapat memperoleh pengetahuan baru yang dapat meningkatkan produktivitas.
Baca Juga : Bupati Maros Terbitkan Surat Edaran Larangan Petasan, Miras dan Narkoba
“Tidak hanya fokus pada produksi, Kelompok Tani Ternak Organik Dusun Sambueja juga berencana untuk mengembangkan sistem pemasaran bersama. Produk-produk organik yang dihasilkan nantinya akan dipasarkan secara kolektif dengan branding yang lebih kuat, sehingga memiliki nilai jual yang lebih tinggi di pasar,” tuturnya.
Di sisi lain, aspek lingkungan juga menjadi perhatian utama. Praktik pertanian dan peternakan organik diyakini mampu menjaga kesuburan tanah, mengurangi pencemaran air, serta melestarikan keanekaragaman hayati. Hal ini sejalan dengan upaya global dalam menghadapi perubahan iklim dan degradasi lingkungan.
Ditempat yang sama, Tim Narasumber dari Yayasan Forum Komunitas Hijau, Hamzah menyebutkan keaktifan warga dalam menerima materi begitu besar sehingga pihaknya terus aktif berdiskusi dengan warga.
Baca Juga : Pemkab Maros Buat Skema Penanganan Banjir di Moncongloe
“Kami dari tim narasumber FKH sangat mengapresiasi antusiasme masyarakat dalam mengikuti pelatihan pembuatan pestisida cair organik ini. Kegiatan ini menjadi langkah awal yang baik dalam mengurangi ketergantungan terhadap bahan kimia sintetis di sektor pertanian,” sebutnya.
“Pestisida cair organik yang dibuat dari bahan alami terbukti lebih ramah lingkungan serta aman bagi kesehatan petani dan konsumen. Kami berharap pengetahuan ini dapat diterapkan secara berkelanjutan di tingkat kelompok tani,” sambungnya.
Sementara itu, Program Manager Humanity and Environment LAZ Hadji Kalla, Sapril Akhmady, menilai bahwa langkah tersebut merupakan bentuk kemandirian warga dalam menjawab tantangan ekonomi dan lingkungan. Menurutnya, jika dikelola dengan baik, kelompok ini dapat menjadi contoh bagi dusun lain di wilayah Maros.
Baca Juga : Banyak Sawah di Maros Beralih Fungsi: Pemkab Perketat Penetapan LP2B
“Ini adalah langkah yang sangat positif. Kita berharap pemerintah juga bisa memberikan dukungan, baik dalam bentuk pelatihan, bantuan sarana, maupun akses pemasaran kedepannya,” ungkapnya.
Dukungan dari berbagai pihak memang menjadi salah satu faktor penting dalam keberhasilan kelompok ini. Oleh karena itu, pengurus kelompok berencana untuk menjalin kerja sama dengan instansi terkait, lembaga swadaya masyarakat, serta pihak akademisi guna mendapatkan pendampingan teknis dan penguatan kapasitas.
Disisi lain, Kelapa Desa Sambueja Maros, Darawati menyebutkan Pembentukan kelompok ini diharapkan dapat menarik minat generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian.
Baca Juga : Banyak Sawah di Maros Beralih Fungsi: Pemkab Perketat Penetapan LP2B
“Selama ini, banyak anak muda yang kurang tertarik karena menganggap pertanian sebagai pekerjaan yang kurang menjanjikan. Dengan pendekatan modern dan berkelanjutan, citra tersebut diharapkan dapat berubah,” tutupnya.
