RAKYATKU.COM, JAKARTA — Pemerintah membunyikan alarm serius terhadap ancaman misinformasi dan risiko ruang digital yang kian kompleks. Momentum wisuda Telkom University justru dimanfaatkan untuk menegaskan satu hal: generasi muda tak bisa lagi sekadar jadi pengguna teknologi, tapi harus menjadi penjaga ekosistem digital.
Menteri Komunikasi dan Digital RI, Meutya Hafid, secara tegas mengingatkan bahwa misinformasi kini telah menjadi ancaman global, bukan lagi isu lokal. Bahkan, World Economic Forum 2025 menempatkannya sebagai salah satu risiko terbesar dunia.
“Jangan hanya ikut arus digitalisasi. Jadilah penggerak, sekaligus penjaga kebenaran di tengah banjir informasi,” tegas Meutya dalam Sidang Terbuka Senat Wisuda Telkom University di Bandung.
Baca Juga : PINTU Masuk Kampus, Edukasi Crypto ke Mahasiswa UNM di Tengah Maraknya Informasi Menyesatkan
Pernyataan ini bukan tanpa dasar. Lonjakan penggunaan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), di satu sisi membuka peluang besar, namun di sisi lain memperbesar potensi penyebaran informasi menyesatkan, eksploitasi data, hingga ancaman terhadap anak di ruang digital.
Karena itu, pemerintah mendorong implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 (PP TUNAS) sebagai fondasi perlindungan anak dalam sistem elektronik. Regulasi ini menegaskan bahwa keamanan digital bukan hanya tanggung jawab negara, tetapi juga industri dan masyarakat.
TelkomGroup sebagai pemain utama industri digital nasional menegaskan dukungannya melalui penguatan keamanan siber, perlindungan data, hingga edukasi literasi digital di berbagai daerah.
Baca Juga : Elektrifikasi Digenjot, BYD Haka Dorong EV Jadi Pilar Baru Ekonomi dan Ketahanan Energi
Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini, bahkan menekankan bahwa lulusan hari ini tidak cukup hanya menjadi pencari kerja.
“Mereka harus menjadi problem solver dan agent of change yang menciptakan dampak nyata,” ujarnya.
Di tengah percepatan transformasi digital, perguruan tinggi pun dituntut tidak lagi hanya mencetak lulusan akademik, tetapi talenta adaptif yang siap menghadapi disrupsi teknologi.
Baca Juga : Kalla Institute Bongkar Strategi Tembus Beasiswa, Tekankan Mindset dan Perencanaan Karier Sejak Dini
Telkom University mencoba menjawab tantangan itu melalui deklarasi pengembangan Safe-AI berbasis human-centric, sebuah pendekatan yang menempatkan nilai kemanusiaan sebagai fondasi inovasi teknologi.
Dengan meluluskan 1.502 wisudawan pada periode ini, kampus berbasis teknologi tersebut menegaskan perannya sebagai salah satu pilar penting dalam mencetak talenta digital Indonesia.
Namun pesan utamanya jelas: di era digital yang makin liar, kompetensi saja tidak cukup—kesadaran, etika, dan tanggung jawab menjadi pembeda utama.
