RAKYATKU.COM, MAKASSAR —Kalla Institute memperkuat perannya dalam pengembangan sumber daya manusia melalui program edukatif Edutalk “Scholarship Hacks & Future Career Planning”, yang membedah strategi lolos beasiswa sekaligus membangun perencanaan karier jangka panjang bagi siswa tingkat akhir.
Program ini hadir sebagai respons atas meningkatnya kebutuhan informasi dan kompetisi dalam akses pendidikan tinggi, khususnya terkait beasiswa yang kini menjadi salah satu jalur utama mobilitas sosial generasi muda.
Beasiswa Bukan Sekadar Nilai Akademik
Baca Juga : Unismuh Makassar Bakal Gelar Wisuda Ke-89, 1.598 Lulusan Siap Dikukuhkan
Rektor Kalla Institute, Syamril, menegaskan bahwa keberhasilan meraih beasiswa ditentukan oleh kombinasi tiga faktor utama: kemauan, kemampuan, dan konsistensi waktu.
“Tiga hal ini menjadi fondasi. Tidak cukup hanya pintar, tetapi juga harus punya kemauan kuat dan konsisten mencari peluang,” ujarnya.
Pendekatan ini menegaskan bahwa seleksi beasiswa saat ini semakin menekankan pada kesiapan holistik, bukan sekadar capaian akademik.
Aktivitas Non-Akademik Jadi Penentu
Sekretaris Dinas Pendidikan Sulawesi Selatan, Mustaqim, menambahkan bahwa siswa perlu memperkuat portofolio melalui kegiatan non-akademik seperti organisasi, olahraga, dan aktivitas sosial.
“Keaktifan di luar kelas menunjukkan karakter, kepemimpinan, dan kemampuan adaptasi, yang menjadi nilai tambah dalam seleksi beasiswa,” jelasnya.
Baca Juga : Tujuh Dekade Asuransi Astra: Dari Makassar, Kepercayaan Tumbuh Saat Janji Perlindungan Terbukti
Pentingnya Self-Awareness dan Perencanaan Karier
Dari sisi psikologis, Kepala Career Development Center Kalla Institute, Abdi Winarni Wahid, menekankan pentingnya pemahaman diri (self-awareness) dalam menentukan jurusan dan arah karier.
Menurutnya, penerima beasiswa umumnya memiliki visi yang jelas serta orientasi kontribusi terhadap lingkungan.
Baca Juga : Unismuh Makassar Bakal Wisuda 1.600 Lebih Lulusan
“Beasiswa tidak hanya mencari individu cerdas, tetapi juga yang memiliki arah hidup dan dampak yang ingin dicapai,” tegasnya.
Sebagai bagian dari pendekatan ini, peserta juga mengikuti tes minat dan bakat, guna membantu mereka mengenali potensi serta menentukan jalur pendidikan yang tepat.
Visi Jangka Panjang Jadi Kunci Lolos Beasiswa Global
Baca Juga : Tampil Memukau di TSM Makassar, Tiga Pemenang Duta LIK 2026–2027 Siap Jadi Mitra OJK
Pengalaman praktis disampaikan oleh Rahmat Syarif, dosen Kalla Institute sekaligus alumni penerima beasiswa LPDP di Australia. Ia menekankan pentingnya visi jangka panjang sebagai faktor pembeda dalam seleksi.
“Pelamar yang kuat biasanya memiliki rencana 5 hingga 10 tahun ke depan, termasuk kontribusi yang akan diberikan,” ujarnya.
Hal ini menunjukkan bahwa lembaga pemberi beasiswa kini semakin selektif dalam memilih kandidat yang tidak hanya berprestasi, tetapi juga memiliki impact-oriented mindset.
Baca Juga : Tampil Memukau di TSM Makassar, Tiga Pemenang Duta LIK 2026–2027 Siap Jadi Mitra OJK
Integrasi Pendidikan dan Dunia Industri
Sebagai kampus berbasis bisnis dan teknologi, Kalla Institute menawarkan pendekatan pembelajaran yang terintegrasi dengan dunia industri, mulai dari interaksi langsung dengan praktisi, kunjungan industri, hingga peluang membangun usaha sejak masa kuliah.
Model ini dinilai relevan dalam menjawab kebutuhan pasar kerja yang semakin dinamis dan kompetitif.
Baca Juga : Tampil Memukau di TSM Makassar, Tiga Pemenang Duta LIK 2026–2027 Siap Jadi Mitra OJK
Dorong Akses Pendidikan dan Daya Saing SDM
Melalui program ini, Kalla Institute tidak hanya memberikan edukasi teknis terkait beasiswa, tetapi juga mendorong peningkatan daya saing generasi muda melalui penguatan mindset, keterampilan, dan perencanaan karier.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya lebih luas dalam menciptakan SDM unggul yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun global.
