Kamis, 02 April 2026 22:14
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menuntaskan empat agenda utama penguatan transparansi pasar modal Indonesia sebagai bagian dari reformasi besar untuk meningkatkan kredibilitas dan daya tarik investasi global
Editor : Lisa Emilda

RAKYATKU.COM, JAKARTA –Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menuntaskan empat agenda utama penguatan transparansi pasar modal Indonesia sebagai bagian dari reformasi besar untuk meningkatkan kredibilitas dan daya tarik investasi global.

 

Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari proposal strategis Indonesia kepada global index providers, termasuk MSCI, dalam upaya meningkatkan posisi pasar modal domestik di mata investor internasional.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, menegaskan bahwa capaian ini merupakan bagian dari 8 Rencana Aksi Percepatan Reformasi Integritas Pasar Modal yang dicanangkan sejak Februari 2026.

Baca Juga : GERAK Syariah 2026 Catat Lonjakan Signifikan, OJK Perkuat Literasi dan Inklusi Keuangan Syariah

“Empat proposal yang diajukan Indonesia telah diselesaikan sesuai target. Selanjutnya kami akan terus melakukan engagement dengan investor global dan menghimpun masukan untuk penguatan lanjutan,” ujar Hasan.

 

Empat Pilar Transparansi Baru

Empat agenda strategis yang telah diimplementasikan meliputi:

Baca Juga : Danamon Tebar Dividen Rp1,4 Triliun, Rombak Pucuk Pimpinan dalam RUPST 2026

Pembukaan data kepemilikan saham di atas 1% ke publik

Pengumuman High Shareholding Concentration (HSC)

Peningkatan granularitas data investor menjadi 39 klasifikasi

Baca Juga : OJK Hormati Putusan KPPU soal Kartel Bunga Fintech, Perketat Pengawasan Pinjaman Online

Kenaikan batas minimum free float menjadi 15%

Selain itu, transparansi juga diperkuat melalui pengungkapan beneficial owner untuk kepemilikan saham di atas 10 persen.

Langkah ini dinilai menempatkan Indonesia sejajar bahkan melampaui beberapa praktik terbaik global dalam hal keterbukaan informasi pasar.

Baca Juga : OJK dan Bareskrim Tangkap Tersangka Kasus BPR DCN Malang, Sempat Mangkir dari Pemeriksaan

Dorong Likuiditas dan Price Discovery

Dengan reformasi ini, OJK menargetkan terciptanya:

Likuiditas pasar yang lebih sehat

Baca Juga : Resmi Dilantik, Dewan Komisioner OJK 2026–2032 Siap Perkuat Pengawasan hingga Sektor Kripto

Proses price discovery yang lebih berkualitas

Peningkatan kepercayaan investor global

Pjs. Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menegaskan bahwa kebijakan free float 15 persen juga merupakan bagian dari harmonisasi dengan standar bursa internasional.

“Langkah ini diharapkan meningkatkan daya tarik pasar modal Indonesia, baik bagi investor domestik maupun global,” jelasnya.

Adopsi Praktik Global, Perkuat Proteksi Investor

Salah satu inovasi penting adalah penerapan High Shareholding Concentration (HSC), yang mengadopsi praktik dari Hong Kong Exchanges and Clearing (HKEX).

Direktur Utama KSEI, Samsul Hidayat, menyebut pengumuman HSC menjadi instrumen penting dalam meningkatkan transparansi sekaligus perlindungan investor.

Selain itu, integrasi data investor berbasis Single Investor Identification (SID) dan klasifikasi detail memperkuat kualitas informasi yang tersedia di pasar.

Reformasi Berlanjut, Produk Baru Disiapkan

OJK juga terus mendorong pendalaman pasar dari sisi produk dan investor, antara lain:

Pengembangan ETF berbasis emas melalui POJK No. 2 Tahun 2026

Program PINTAR Reksa Dana (Systematic Investment Plan/SIP) untuk memperluas investor ritel

Langkah ini menjadi bagian dari strategi memperkuat sisi supply dan demand pasar modal.

Penegakan Hukum Diperketat

Di sisi lain, OJK menunjukkan ketegasan dalam enforcement. Hingga 31 Maret 2026:

Rp96,33 miliar denda kepada 233 pihak

Rp29,30 miliar denda untuk kasus manipulasi pasar (11 pihak)

Sanksi tambahan berupa peringatan, pembekuan hingga pencabutan izin

“Penegakan hukum yang konsisten menjadi kunci menjaga kredibilitas pasar dan kepercayaan investor,” tegas Hasan.

Dengan reformasi transparansi yang semakin kuat dan penegakan hukum yang tegas, pasar modal Indonesia diarahkan tidak hanya tumbuh, tetapi juga menjadi lebih kredibel, transparan, dan kompetitif di tingkat global.

BERITA TERKAIT