RAKYATKU.COM, MAKASSAR — Pemprov Sulsel kembali menghidupkan rute penerbangan Makassar–Selayar melalui program subsidi, setelah sebelumnya sempat terhenti akibat tingginya harga tiket dan minimnya jumlah penumpang.
Program ini dijalankan melalui kerja sama dengan maskapai Fly Jaya Air, dengan frekuensi penerbangan tiga kali dalam sepekan untuk rute pulang-pergi. Kebijakan ini menjadi salah satu langkah strategis Pemprov Sulsel dalam membuka konektivitas wilayah sekaligus mendorong sektor pariwisata dan perputaran ekonomi di Kepulauan Selayar.
Dalam wawancara pada Sabtu, 28 Maret 2026, sejumlah penumpang mengaku merasakan langsung manfaat dari program subsidi tersebut, terutama saat momentum arus mudik dan balik Lebaran.
Baca Juga : Masjid Kubah 99 Asmaul Husna Jadi Lokasi Shalat Idul Fitri
Salah satu penumpang, drg. Lilies Anggarwati Astuti, mengungkapkan bahwa dirinya memanfaatkan penerbangan subsidi untuk mudik ke Selayar bersama keluarga.
“Iya, pas hari Lebaran, habis salat langsung terbang ke Selayar," sebutnya.
Awalnya berangkat rombongan bersepuluh orang, tapi hari itu yang kembali naik pesawat tinggal berempat orang, "Karena sebagian harus kembali kerja lebih dulu, saya seminggu di sana,” ujarnya.
Baca Juga : Gubernur Sulsel Lepas Peserta Mudik Gratis Jelang Idulfitri 2026
Ia menyebut, dengan adanya penerbangan rutin tiga kali dalam seminggu, mobilitas masyarakat menjadi jauh lebih mudah. Bahkan, menurutnya, potensi wisata Selayar sangat besar untuk berkembang.
“Saya sempat ke Pantai Pinang, snorkeling dan diving. Banyak wisatawan asing juga di sana. Kalau fasilitasnya makin dilengkapi dan akses jalannya bagus, saya yakin Selayar bisa jadi nomor dua setelah Bali,” katanya.
Lilies juga menyoroti harga tiket yang jauh lebih terjangkau. Ia mengaku hanya mengeluarkan sekitar Rp2 juta untuk lima orang saat keberangkatan, jauh lebih murah dibandingkan destinasi wisata lain.
Baca Juga : Pemprov Sulsel Siapkan Takjil Gratis di Rest Area Berbasis Masjid Selama Arus Mudik
Pendapat serupa disampaikan Ahmad Hidayah, warga Makassar yang kerap bepergian ke Selayar karena faktor pekerjaan keluarga. Ia menilai program subsidi ini sangat membantu masyarakat, terutama dari sisi biaya.
Sebelumnya tiket bisa sampai Rp700 ribu hingga Rp1 juta, sekarang di kisaran Rp300 ribu sampai Rp400 ribu. "Ini sangat membantu masyarakat, baik untuk wisata maupun kebutuhan pekerjaan,” ujarnya.
Ia berharap program tersebut dapat terus berlanjut dan bahkan ditingkatkan frekuensinya seiring meningkatnya jumlah penumpang.
Baca Juga : Kadis DBMBK Sulsel Ungkap Paket 6 Dirancang untuk Meningkatkan Kemantapan Jalan Provinsi
“Kalau bisa ke depan penerbangannya ditambah. Termasuk akses transportasi lanjutan dari bandara ke pusat kota Benteng dan sekitarnya agar lebih terhubung,” tambahnya.
Hal senada juga disampaikan Fathia, yang memanfaatkan penerbangan subsidi untuk kembali bekerja di Selayar setelah mudik di Makassar.
“Dulu sebelum ada penerbangan, cukup sulit ke Selayar. Sekarang sangat membantu, lebih cepat dan murah. Perbedaannya jauh sekali," katanya.
Baca Juga : Gubernur Sulsel - Kepala BPS RI Teken MoU Penguatan Data Statistik
Ia berharap program subsidi ini dapat dipertahankan bahkan ditingkatkan di masa mendatang.
“Saya berterima kasih kepada Pemprov Sulsel, khususnya kepada Gubernur. Semoga subsidi ini terus ada karena sangat membantu kami,” ujarnya.
Dari sisi operator, Station Representative Fly Jaya Air untuk wilayah Ujung Pandang (Makassar), Syarir, juga menyampaikan apresiasi atas program subsidi penerbangan tersebut.
Baca Juga : Gubernur Sulsel - Kepala BPS RI Teken MoU Penguatan Data Statistik
“Kami sangat berterima kasih kepada Pemprov Sulsel dapat mendukung program prioritas ini, khususnya untuk rute-rute di wilayah Sulawesi seperti Bone, Selayar, Kendari, dan juga ke Balikpapan,” katanya.
Ia berharap program ini dapat terus berlanjut guna mendukung konektivitas antarwilayah dan meningkatkan aktivitas transportasi udara di daerah.
Dengan kembali beroperasinya rute Makassar–Selayar melalui skema subsidi, Pemprov Sulsel tidak hanya mempermudah akses masyarakat, tetapi juga membuka peluang besar bagi pengembangan pariwisata dan pertumbuhan ekonomi daerah, khususnya di wilayah kepulauan.
