Selasa, 10 Maret 2026 15:02

OJK: Kinerja Perbankan Tetap Solid pada Awal 2026 Meski Risiko Global Meningkat

Lisa Emilda
Konten Redaksi Rakyatku.Com
Otoritas Jasa Keuangan menyatakan kinerja industri perbankan nasional pada triwulan I-2026 diperkirakan tetap solid dengan tingkat risiko yang terjaga, meskipun tekanan dari kondisi global masih membayangi.
Otoritas Jasa Keuangan menyatakan kinerja industri perbankan nasional pada triwulan I-2026 diperkirakan tetap solid dengan tingkat risiko yang terjaga, meskipun tekanan dari kondisi global masih membayangi.

OJK menyebut kinerja perbankan Indonesia pada triwulan I-2026 tetap solid dengan risiko terkendali meski tekanan geopolitik global meningkat.

RAKYATKU. COM, JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan menyatakan kinerja industri perbankan nasional pada triwulan I-2026 diperkirakan tetap solid dengan tingkat risiko yang terjaga, meskipun tekanan dari kondisi global masih membayangi.

Hal tersebut disampaikan Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, berdasarkan hasil Survei Orientasi Bisnis Perbankan OJK (SBPO) yang dilakukan pada Januari 2026.

Survei tersebut melibatkan 93 bank responden dengan porsi total aset mencapai 94,17 persen dari total aset bank umum berdasarkan data Desember 2025.

Baca Juga : OJK Sulsel: Kinerja Perbankan Tetap Tumbuh di Awal 2026, Kredit Tembus Rp173 Triliun

Optimisme industri tercermin dari Indeks Orientasi Bisnis Perbankan (IBP) triwulan I-2026 yang berada di angka 56, atau masuk zona optimistis.

“Optimisme ini didorong oleh proyeksi pertumbuhan kinerja perbankan serta keyakinan bahwa perbankan masih mampu mengelola risiko di tengah ekspektasi kenaikan inflasi dan pelemahan nilai tukar,” kata Dian dalam keterangan resmi di Jakarta, Senin (9/3/2026).

Namun demikian, ekspektasi terhadap kondisi makroekonomi justru menunjukkan kecenderungan lebih hati-hati. Indeks Ekspektasi Kondisi Makroekonomi (IKM) tercatat 45, atau masuk zona pesimis.

Baca Juga : OJK Sulselbar Gelar Edukasi Keuangan bagi Penyandang Disabilitas di Makassar

Penurunan tersebut dipicu oleh proyeksi meningkatnya inflasi dan potensi pelemahan nilai tukar rupiah. Kenaikan inflasi diperkirakan dipengaruhi faktor musiman seperti bulan Ramadan, perayaan Idul Fitri, serta Tahun Baru Imlek, yang biasanya mendorong kenaikan harga barang dan jasa.

Selain itu, efek basis rendah (low base effect) dari tahun sebelumnya juga turut memengaruhi perhitungan inflasi. Pada periode yang sama tahun lalu, pemerintah memberikan diskon tarif listrik yang tidak lagi berlaku pada awal 2026.

Dari sisi risiko perbankan, mayoritas responden menilai kondisi masih relatif aman. Indeks Persepsi Risiko (IPR) tercatat 57, menandakan risiko industri tetap berada dalam kategori terkendali.

Baca Juga : Fitch Pertahankan Rating Indonesia di BBB, Outlook Direvisi Negatif, OJK Pastikan Stabilitas Keuangan Terjaga

Hal ini didukung oleh kualitas kredit yang dinilai masih terjaga, serta posisi devisa netto (PDN) perbankan yang relatif rendah dengan aset valuta asing yang lebih besar dibandingkan kewajiban valas.

Sementara itu, dari sisi likuiditas, kondisi perbankan juga diproyeksikan tetap stabil. Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) diperkirakan masih lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit sehingga arus kas bersih (net cashflow) diprediksi meningkat.

Masuknya dana pemerintah daerah pada awal tahun juga diperkirakan turut memperkuat likuiditas perbankan.

Baca Juga : Ramadan Lebih Berkah 2026: Danamon Hadirkan Promo Cashback, Cicilan 0% hingga Proteksi Mudik

Optimisme industri juga terlihat pada Indeks Ekspektasi Kinerja (IEK) yang mencapai 67. Angka tersebut mencerminkan keyakinan bahwa penyaluran kredit masih akan terus tumbuh seiring meningkatnya permintaan pembiayaan.

Sektor industri pengolahan menjadi penyumbang terbesar penyaluran kredit perbankan. Pada Januari 2026, sektor ini mencatat pertumbuhan kredit sebesar 6,60 persen secara tahunan (yoy) dan diperkirakan tetap menjadi penggerak utama pertumbuhan kredit ke depan.

Meski begitu, OJK mengingatkan industri perbankan tetap mewaspadai dinamika global yang masih penuh ketidakpastian.

Baca Juga : OJK Nilai Sektor Jasa Keuangan Sulsel Tetap Stabil dan Resilien Sepanjang 2025

Dian menyoroti meningkatnya tensi geopolitik internasional, termasuk eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang memicu tekanan pada pasar keuangan global.

Ketegangan tersebut bahkan sempat berdampak pada pasar saham di kawasan Asia akibat aksi panic selling investor yang khawatir konflik akan memicu inflasi global dan memperlambat pertumbuhan ekonomi.

“Belajar dari berbagai krisis sebelumnya, situasi sulit seperti ini harus dimanfaatkan untuk memperkuat reformasi di berbagai sektor ekonomi,” ujar Dian.

Baca Juga : OJK Nilai Sektor Jasa Keuangan Sulsel Tetap Stabil dan Resilien Sepanjang 2025

Menurutnya, kebijakan ekonomi perlu dirumuskan secara terpadu dan selaras agar mampu mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan dan berdaya saing.

Di tengah ketidakpastian global, ekonomi Indonesia pada 2026 tetap diperkirakan tumbuh solid. Pertumbuhan tersebut didukung oleh stimulus fiskal, kebijakan moneter yang akomodatif, serta konsumsi rumah tangga dan sektor manufaktur yang masih menjadi motor utama perekonomian nasional.

Mayoritas bank responden dalam survei tersebut juga optimistis kredit UMKM akan terus tumbuh pada triwulan I-2026 dengan porsi yang meningkat terhadap total penyaluran kredit perbankan.

#OJK #perbankan Indonesia #ekonomi indonesia #SBPO #Kredit UMKM #Industri perbankan #Inflasi Indonesia #ekonomi global