Jumat, 27 Mei 2022 20:49

Epidemiolog: Munculnya Virus PMK di Indonesia Bisa karena Perubahan Iklim

Nur Hidayat Said
Konten Redaksi Rakyatku.Com
Ilustrasi.
Ilustrasi.

Daerah dengan topografi datar memiliki risiko lebih tinggi terjadi penularan melalui udara dibandingkan dengan daerah berbukit.

RAKYATKU.COM, KUPANG - Epidemiolog asal Nusa Tenggara Timur, Ewaldus Wera, mengatakan perubahan iklim bisa menjadi salah satu faktor munculnya virus seperti penyakit mulut dan kuku (PMK) yang saat ini menyerang ternak sapi di sejumlah daerah di Indonesia.

Menurutnya, saat ini perubahan iklim yang ditandai dengan peningkatan suhu sebagai dampak dari berkurangnya hutan tropis mendorong hewan-hewan liar bermigrasi dan bahkan berinteraksi dekat dengan manusia.

Kelelawar dan kera hutan sudah memasuki permukiman penduduk dalam mendapatkan makanan. Banyak hewan liar memiliki penyakit yang sama dengan manusia dan bisa jadi awal mula munculnya pandemi.

Baca Juga : Hadapi Krisis Pangan Global, Kementan - ICMI Bogor Gelar Pelatihan Pertanian Geo Ekonomi Hijau

Dalam konteks virus PMK yang kembali mewabah di Indonesia, Ewaldus menyampaikan penyebaran virus PMK sangat mungkin berkaitan dengan perubahan iklim. Kata dia, pemanasan global memungkinkan menjadi pendorong terjadinya perbedaan tekanan udara.

Konsekuensinya adalah meningkatnya kecepatan angin dari satu daerah ke daerah yang lain dan bisa jadi memunculkan wabah penyakit pada hewan.

"Saya pikir sangat mungkin terjadi karena perubahan iklim yang terjadi saat ini berdampak serius pada kesehatan hewan dan mempercepat penyebaran penyakit. Kelembapan udara yang tinggi dan peningkatan kecepatan angin dapat mempercepat penularan virus PMK dari satu farm ke farm lainnya," ujar Ewaldus, Jumat (27/5/202).

Baca Juga : Mentan SYL Ungkap Sosok Tjahjo Kumolo, Ahli Ibadah dan Pembela Rakyat

Lebih lanjut Ewaldus menyampaikan penyebaran virus PMK melalui udara dalam jarak yang jauh sangat mungkin terjadi, bisa mencapai 60-300 kilometer. Menurutnya, ada beberapa faktor yang mendukung penularan jarak jauh melalui udara. yaitu jumlah virus, kelembapan udara, kecepatan angin, dan topografi daerah.

Sponsored by MGID

Daerah dengan topografi datar memiliki risiko lebih tinggi terjadi penularan melalui udara dibandingkan dengan daerah berbukit.

"Untuk Jawa Timur dengan kelembapan udara yang tinggi, lebih dari 60 persen dan kecepatan angin 10-30 kilometer per jam, sangat memungkinkan virus PMK stabil di udara dan tetap mempertahankan daya infeksi sampai menemukan host baru," katanya.

Baca Juga : Duka Mentan SYL atas Kepergian Menpan RB Tjahjo: Sahabat Saya, Guru Kita Semua

Jika dianalogikan, kata Ewaldus, iklim tropis dengan kelembapan udara di atas 60 persen yang ada di Indonesia maka sangat memungkinkan bagi penyebaran virus PMK menular melalui udara. Apalagi virus tersebut bisa bertahan hidup dalam udara bebas sampai pada suhu 27 derajat Celcius.

"Untuk itu pemahaman yang lebih baik tentang wilayah geografis yang memiliki risiko penyebaran PMK melalui udara sangat penting dalam mendesain program pencegahan penularan virus," ucapnya.

Namun, dari pada itu, hal yang lebih penting adalah pemerintah harus mendorong peternak untuk memotong ternak yang bergejala klinis PMK melalui tempat yang sudah ditentukan. Hal ini akan mengurangi jumlah virus yang menular lewat udara maupun kontak langsung.

Baca Juga : Kementan Gelar Pelatihan Cegah PMK

"Pemotongan bisa dilakukan di RPH (rumah potong hewan) atau tempat yang sudah ditentukan," ujarnya. (*)

#Kementerian Pertanian #Penyakit Mulut dan Kuku