Sabtu, 11 September 2021 15:14

Puji Topik Skripsi Mahasiswa STIBA, Wakor Kopertais Wilayah VIII: Pembahasannya Aktual, Beda dengan PT Lain

Alief Sappewali
Konten Redaksi Rakyatku.Com
Wakil Koordinator Kopertais Wilayah VIII Dr KH Hamzah Harun al-Rasyid, Lc, MA menerima cendera mata dari Ustaz Dr Rahmat Abdurrahman pada wisuda STIBA, Sabtu (11/9/2021). (Foto: Humas STIBA)
Wakil Koordinator Kopertais Wilayah VIII Dr KH Hamzah Harun al-Rasyid, Lc, MA menerima cendera mata dari Ustaz Dr Rahmat Abdurrahman pada wisuda STIBA, Sabtu (11/9/2021). (Foto: Humas STIBA)

Wakor Kopertais Wilayah VIII, Dr KH Hamzah Harun al-Rasyid, Lc, MA termasuk salah seorang penguji dalam sidang skripsi mahasiswa yang saat ini mengikuti prosesi wisuda.

RAKYATKU.COM -- Wakil Koordinator Kopertais Wilayah VIII Dr KH Hamzah Harun al-Rasyid, Lc, MA menyampaikan orasi ilmiah dalam wisuda IV STIBA Makassar, Sabtu (11/9/2021).

Tema yang dibawakan oleh Wakil Ketua Umum MUI Sulsel tersebut adalah “Kearifan Lokal Ulama Bugis Makassar dan Tantangan Dakwah Masa Depan”.

Kiai Hamzah Harun al-Rasyid mengatakan, antara Islam dan kearifan lokal pada suatu masyarakat tidak bisa dipisahkan. Keduanya merupakan bagian yang saling mendukung. Islam sebagai agama yang diturunkan Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk semua umat manusia telah memainkan peranannya dalam mengisi kehidupan manusia di muka bumi ini.

Kehadiran Islam di tengah-tengah masyarakat yang sudah memiliki budaya tersendiri ternyata membuat Islam dengan budaya setempat mengalami akulturasi. Pada akhirnya, tata pelaksanaan ajaran Islam sangat beragam.

Baca Juga : Muskerta Digelar di Tengah Cuaca Ekstrem, Ketua STIBA Ungkap Doa "Tolak Bala" Rasulullah

Kendati demikian, Kiai Hamzah mengatakan bahwa Al-Qur’an dan sunah sebagai sumber hukum Islam tetap menjadi ujung tombak dalam satu masyarakat muslim.

Meskipun memberikan banyak dampak positif, kearifan lokal terkadang juga menyimpang dari ajaran Islam. Dalam kearifan lokal yang berbungkus adat istiadat tidak sedikit tradisi atau adat istiadat yang mayoritas dianut oleh masyarakat Bugis-Makassar sangat jauh dari nilai-nilai murni Al-Qur’an dan sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

 

Karena itu, masyarakat perlu dijauhkan dari kebiasaan-kebiasaan nenek moyang terdahulu yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Baca Juga : Teken Kerja Sama dengan Unimerz, Ketua STIBA Makassar Buka Rahasia Institusinya Banyak Peminat

Hal tersebut sebagaimana difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al-Qur’an dalam surat Al-Baqarah ayat 180.

Sponsored by MGID



“Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah', mereka menjawab, '(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami'. (Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?" (QS. Al-Baqarah: 180)

Menurut Kiai Hamzah, ayat tersebut menjelaskan kepada kita tentang orang-orang yang lebih patuh kepada ajaran dan perintah nenek moyangnya dari pada syariat yang diwahyukan oleh Allah dalam Al-Qur'an.

Baca Juga : Danny Pomanto Ajak Peserta Wisuda STIBA Kawal Kota Makassar Tetap di Jalan Lurus

Dalam suku Bugis-Makassar, dikenal banyak prinsip dan nilai-nilai kehidupan yang dijunjung tinggi oleh masyarakatnya. Mereka juga mengenal beberapa simbol falsafah yang biasanya dijadikan oleh masyarakat Bugis-Makassar sebagai motivasi dalam mengarungi kehidupannya.

Simbol-simbol tersebut antara lain adalah ininnawa, sitinaja, siri na pacce, sipakainge, sipakatau, sipakalebbi, dan taro ada taro gau.

“Simbol-simbol ini sangat sesuai dengan ajaran yang kita anut yaitu ajaran Islam,” ujar Kiai Hamzah di hadapan peserta wisuda IV yang digelar secara hybrid.

Baca Juga : Wisuda 482 Mahasiswa Digelar Hybrid, Ketua STIBA Sampaikan Permohonan Maaf

Pada penutup sambutannya, ia menyimpulkan tiga hal yang dibutuhkan seorang sarjana. Pertama, ilmu yang mumpuni. Kedua, akhlakul karimah. Ketiga, pengabdian.

Wakor Kopertais Wilayah VIII termasuk salah seorang penguji dalam sidang skripsi mahasiswa yang saat ini mengikuti prosesi wisuda. Terkait skripsi mahasiswa yang diujinya, Kiai Hamzah mengatakan bahwa topik kajiannya berbeda dengan mahasiswa-mahasiswa di PT yang pernah ia uji.

“Topik-topik skripsinya ter-update. Mampu keluar dari arus mainstream dan pembahasannya aktual,” katanya.

Baca Juga : Pengajar dari Timur Tengah, Program Kaderisasi Ulama STIBA Hanya Terima 10 Peserta yang Hafal Qur'an 30 Juz

"Karena itu, ke depan kita tidak boleh membiarkan STIBA tetap dalam bentuk sekolah tinggi, tapi kita dorong dan bagaimana ia bisa bertransformasi dari sekolah tinggi menjadi institut. Dan di saatnya nanti kita akan mendorong menjadi universitas,” lanjutnya.

Ungkapannya tersebut bukan tanpa alasan. Ia melihat dari sisi finansial, sisi kualitas dosen, dan sisi minat masyarakat untuk memasukkan anaknya di sekolah ini semakin hari semakin dirasakan. Menurutnya itu adalah salah satu syarat pokok yang mesti dimiliki oleh sekolah tinggi yang ingin melakukan transformasi.

“Karena itu saya selaku wakil koordinator Kopertais Wilayah VIII Sulawesi-Maluku-Papua mengapresiasi dan sangat berterima kasih atas segala upaya yang dilakukan oleh seluruh sivitas akademika STIBA Makassar yang telah mampu mengantarkan anak-anak kita menjadi alumni-alumni yang berkualitas,” katanya.

Baca Juga : Pengajar dari Timur Tengah, Program Kaderisasi Ulama STIBA Hanya Terima 10 Peserta yang Hafal Qur'an 30 Juz

 

#STIBA Makassar