Rabu, 23 Juni 2021 10:41

Ingin Cepat Divaksin Covid-19, Orang Kaya Indonesia Ramai-ramai ke Amerika

Fathul Khair Akmal
Konten Redaksi Rakyatku.Com
Ingin Cepat Divaksin Covid-19, Orang Kaya Indonesia Ramai-ramai ke Amerika

Orang-rang Kaya di Indonesia disebut beramai-ramai berkunjung ke Amerika Serikat untuk mendapat vaksin Covid-19.

RAKYATKU.COM - Orang-rang Kaya di Indonesia disebut beramai-ramai berkunjung ke Amerika Serikat demi mendapatkan vaksin covid-19 lebih cepat.

Hal itu diakui oleh Muhammad Risqy Putra. Dia mengungkapkan, sudah memesan tiket pesawat ke AS untuk mendapat vaksinasi.

Risqy menuturkan, selama di Indonesia, dirinya belum berhasil mendapatkan vaksin covid-19 karena tak tergolong prioritas.

Baca Juga : Pakar: Vaksin Selamatkan 50 Juta Nyawa, tapi COVID-19 Ancam Kemajuan Masa Depan

Ini akan menjadi perjalanan pertamanya ke luar negeri saat pandemi covid-19.

“Kebetulan saya belum mendapatkan vaksin di sini (Indonesia),” kata Risqy.

 

“Jadi sekalian ke sana dan mendapatkan vaksinasi,” ujar pria berusia 25 tahun ini kepada kantor berita Reuters.

Baca Juga : Pria Ini Berkelakar soal Pandemi dan Vaksin, Akhirnya Meninggal karena COVID-19

Risqy rencananya ke Amerika Serikat ditemani kedua orangtuanya yang juga akan divaksinasi.

Sponsored by MGID

Negara-negara maju seperti Amerika Serikat memiliki program vaksinasi yang dinilai lebih cepat, membuat orang-orang kaya di negara berkembang seperti Indonesia, Thailand atau Meksiko, rela pergi ke luar negeri demi vaksin.

ATS Vacations adalah salah satu agen perjalanan di Indonesia yang menawarkan “tur vaksin” seperti itu.

Baca Juga : Mulai Terungkap, Alasan COVID-19 Varian Delta Lebih Mudah Menyebar

Selama pandemi bisnis perjalanan mereka mengalami penurunan hingga 75 persen.

Mereka berharap dengan “tur vaksin” tidak hanya akan menguntungkan industri perjalanan di Indonesia, tapi juga membantu mereka yang ingin divaksinasi lebih cepat.

“Kita membantu mereka yang ingin divaksinasi, tapi sulit mendapatkannya di sini,” ujar Lilik Budiman, direktur pemasaran ATS.

Baca Juga : Sudah Divaksinasi Lengkap, Dokter Ini Terinfeksi 2 Varian COVID-19 Sekaligus

“Karena mereka mau jalan-jalan juga, jadi kenapa tidak menggabungkan keduanya sekaligus.”

Dalam promosinya disebutkan “kesempatan untuk vaksin gratis” dengan foto satu dosis suntikan keluaran Johnson & Johnson.

Lebih dari seratus orang sudah memesan program vaksin tersebut, dengan jadwal keberangkatan di bulan ini hingga November, tergantung apakah mereka bisa mendapatkan visa.

Baca Juga : China Menolak Penyelidikan Asal-Usul Virus Corona, Gedung Putih: Ini Bukan Waktunya Menghalangi!

Berapa biayanya? Untuk minimal delapan hari perjalanan, biayanya berkisar lebih dari Rp15 juta hingga Rp53 juta lebih, tergantung apakah berpergian dalam grup atau privat.

Dewiana (33 tahun) juga berencana untuk ikut tur vaksin ini di akhir September nanti.

Ia mengatakan kesempatan untuk mendapat merk vaksin pilihannya menjadi salah satu alasan mengapa ia ingin divaksinasi di luar negeri.

Baca Juga : China Menolak Penyelidikan Asal-Usul Virus Corona, Gedung Putih: Ini Bukan Waktunya Menghalangi!

“Dari brosur yang saya pelajari, vaksin yang akan kami dapatkan adalah Johnson & Johnson,” ujarnya kepada Reuters.

Tapi amankah untuk melakukannya?

Menurut dr Pandu Riono, epidemiolog dari Universitas Indonesia, pergi ke luar negeri untuk mendapatkan vaksin adalah “biasa dan tidak dilarang” bagi mereka yang mampu melakukannya.

Baca Juga : China Menolak Penyelidikan Asal-Usul Virus Corona, Gedung Putih: Ini Bukan Waktunya Menghalangi!

Sementara juru bicara Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta mengatakan berpergian ke Amerika Serikat untuk vaksinasi diperbolehkan.

“Mendapatkan perawatan medis ke Amerika Serikat adalah tujuan perjalanan yang diperbolehkan bagi individu yang memiliki visa kunjungan yang sah,” ujar Michael Quinlan.

Baca selanjutnya...

Baca Juga : China Menolak Penyelidikan Asal-Usul Virus Corona, Gedung Putih: Ini Bukan Waktunya Menghalangi!

sumber: suara.com

Sponsored by advertnative
 
#Vaksin Covid-19 #Covid-19 #Amerika Serikat