Senin, 08 Februari 2021 12:02

Setelah Gempa, Kasus COVID-19 di Sulbar Naik 70 Persen

Nur Hidayat Said
Konten Redaksi Rakyatku.Com
Salah satu titik pengungsian di Sulawesi Barat. (Foto: Akbar Tado/Antara Foto)
Salah satu titik pengungsian di Sulawesi Barat. (Foto: Akbar Tado/Antara Foto)

Mengutip rekap data COVID-19 Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Barat, per 6 Februari 2021, jumlah kumulatif positif COVID-19 berjumlah 4.380, naik 73 persen dibandingkan data 14 Januari yang hanya 2.529 kasus.

RAKYATKU.COM - Kasus terkonfirmasi positif COVID-19 di Provinsi Sulawesi Barat meningkat 70 persen. Hal itu terjadi hanya beberapa pekan setelah bencana gempa bumi.

"Artinya untuk relawan dan pengungsi ditemukan banyak sekali ditemukan kasus baru COVID-19," kata dr. Tri Maharani, Emergency Medical Team (EMT) Ikatan Dokter Indonesia (IDI), dikutip dari VOA Indonesia, Senin (8/2/2021).

Mengutip rekap data COVID-19 Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Barat, per 6 Februari 2021, jumlah kumulatif positif COVID-19 berjumlah 4.380, naik 73 persen dibandingkan data 14 Januari yang hanya 2.529 kasus.

Baca Juga : Rusak Akibat Gempa, Masjid Babul Jannah Majene Kembali Dibangun

Artinya dalam rentang 23 hari terjadi penambahan 1.851 kasus di enam wilayah kabupaten. Dari angka kumulatif 4.380 pada 6 Februari, 2.415 diantaranya dinyatakan sembuh, dirawat 256, menjalani isolasi mandiri 1.625 dan kematian akibat COVID-19 berjumlah 84.

Sebelum gempa, Rumah Sakit Regional Mamuju menjadi tempat isolasi bagi pasien yang terpapar COVID-19. Namun, kini rumah sakit itu rusak akibat gempa sehingga perlu segera dibuat tempat khusus untuk isolasi darurat.

 

Kepala Seksi Bidang Pencegahan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Sulawesi Barat, Swandy, mengungkapkan saat ini sudah tersedia lima tenda yang dikhususkan untuk tempat isolasi bagi penderita COVID-19.

Baca Juga : Dompet Dhuafa Kembali Salurkan Bantuan Sembako untuk Korban Gempa Sulbar

Tenda tersebut dibangun di sekitar Rumah Sakit Regional Mamuju. Diakuinya yang perlu mendapat perhatian adalah penderita tanpa gejala yang menjalani isolasi mandiri sehingga bisa menularkan kepada orang lain.

Sponsored by MGID

“Karena disisi pencegahannya tentu akan sangat berat membatasi pergerakan orientasi dari pasien tanpa gejala tersebut,” ucapnya.

Menurut Swandy, apabila sewaktu-waktu terjadi guncangan gempa susulan, pasien tanpa gejala akan meninggalkan tempat di mana mereka menjalani isolasi mandiri.

Baca Juga : Asmo Sulsel dan Komunitas Motor Honda Salurkan Donasi kepada Korban Gempa Sulbar

“Setiap ada gerakan (guncangan gempa) masyarakat itu berbondong-bondong melakukan evakuasi dan ini akan berdampak pada terjadinya transmisi lokal yang berdampak pada tingkat penyebaran yang tentu sedikit membesar,” jelas Swandy.

Kepala Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) BNPB, Raditya Jati, mengimbau para relawan yang hadir di Sulawesi Barat untuk selalu mematuhi protokol kesehatan mencegah tertular COVID-19.

“Kami mohon teman-teman relawan, teman-teman yang bergerak di sana tetap menerapkan protokol kesehatan, jangan sampai yang jadi relawan justru terpapar,” imbau Raditya Jati.

Baca Juga : Gandeng Ije Squad Makassar, Partai Islam Se-Malaysia Ikut Bantu Korban Gempa Sulbar

BNPB, kata dia, akan berkoordinasi dengan satgas penanganan bencana di Sulbar untuk menyiapkan lokasi isolasi mandiri yang juga dapat memanfaatkan tempat-tempat penginapan.

Sementara itu, warga yang khawatir dengan penularan COVID-19 sudah mempertimbangkan pilihan untuk kembali. Mereka berencana untuk membuat tenda terpal sebagai tempat tinggal sementara di halaman rumah mereka yang rusak akibat gempa.

“Yah, mungkin di luar teras saja diratakan kita tidur saja nginap di sana karena di lokasi pengungsian kan orang ramai takutnya COVID. Kita tidak tahu yang mana terkena COVID, mana yang tidak,” kata Rizal Jufli, salah seorang warga.

Sponsored by advertnative
 
#gempa sulbar #COVID-19 Sulbar