Sabtu, 04 April 2020 14:30

Pemprov Jabar Akan Tes Massal 5.000 Kiai, Ada yang Menolak dengan Alasan Malu Kalau Positif

Alief Sappewali
Konten Redaksi Rakyatku.Com
ILUSTRASI
ILUSTRASI

Tradisi di gereja dan pesantren dikhawatirkan jadi media penyebaran virus corona. Kasus di Gereja Bethel Bandung mencengangkan.

RAKYATKU.COM - Tradisi di gereja dan pesantren dikhawatirkan jadi media penyebaran virus corona. Kasus di Gereja Bethel Bandung mencengangkan.

Pasca pendeta meninggal akibat positif corona, seribuan jemaat langsung jalani rapid test. Hasilnya, 226 jemaat dinyatakan positif.

Namun, data itu masih sementara diuji dengan tes swab di laboratorium. Sebelumnya, hasil rapid test di Setukpa Sukabumi juga menemukan 300 siswa positif.

Namun, dalam data resmi yang dirilis pemerintah pusat, kasus positif di Jawa Barat baru 225 orang. Sebab, hasil tes laboratorium 526 jemaat dan siswa calon perwira itu belum keluar.

Berkaca dari kasus itu, Pemprov Jawa Barat berencana mengetes 5.000 ulama. Mereka yang dimaksud mulai dari tokoh agama di kampung dan desa hingga pimpinan pondok pesantren. 

Wakil Gubernur Jawa Barat, Uu Ruzhanul Ulum mengatakan, pesantren berpotensi menjadi kluster baru penularan virus Covid-19. 

Kiai atau sesepuh ponpes sering menerima tamu atau bersalaman dengan santri. Bahkan, santri dengan niat tawasul mencium tangan para kiai. Hal itu berpotensi penularan virus Covid-19. 

"Kiai itu masuk kategori B, orang yang sering didatangi dan dikunjungi orang," kata Uu seperti dikutip dari Kompas.com.

Masalahnya, banyak kiai yang enggan menjalani tes Covid-19. Alasannya malu pada jemaah dan masyarakat kalau hasilnya positif.

Namun Uu mengaku pihaknya terus memberikan pemahaman bahwa tes Covid-19 itu untuk kepentingan bersama, bukan hanya bagi kiai sendiri. 

"Saya bilang justru itu untuk kepentingan kiai, jemaah, lembaga dan masyarakat. Kalau kita tak diperiksa, nanti seperti klaster lain, jemaah lain. Tokohnya tidak merasa kena dan terus beraktivitas," katanya.