RAKYATKU.COM - Penyebaran Covid-19 di Indonesia masih mengkhawatirkan. Bukan soal ketersediaan obat. Imbauan social distancing atau jaga jarak tidak diterapkan secara maksimal.
Buktinya penumpang kereta api masih berjubel. Warga masih berdesak-desakan. Sama seperti sebelum adanya virus corona. Pemandangan itu terlihat di Stasiun Bogor, Senin (23/3/2020).
"Masih banyak yang berangkat kerja. Sepertinya makin tambah banyak penyebaran virus corona. Apalagi kereta sekarang berangkat pukul 06.00 sampai 20.00 WIB," cuit pemilik akun Twitter @Rezakusuma93.
Dia mengunggah foto di Stasiun Bogor yang padat penumpang. Dalam gerbong, penumpang juga masih berdesak-desakan. Banyak yang harus berdiri karena tak kebagian tempat duduk.
Aktivis media sosial, Permadi Arya pun angkat bicara.
"Jakarta, Bogor, Banten dan sepertinya di semua kota pagi ini, penumpang KA masih normal desek2an otw ke aktivitas masing2. Ini Republik +62 kawan," cuit pria yang akrab dengan sapaan Abu Janda itu.
"Bukan karena warga tak dengar imbauan diam di rumah, tapi saya dapat banyak japri ngadu perusahaan tidak nurut peringatan, & tetap masuk," lanjutnya.
Sebagian warga serbasalah. Terutama kalangan ekonomi bawah. Mereka harus tetap bekerja, keluar rumah, untuk menafkahi keluarga. Kalau tinggal di rumah, mereka mau makan apa.

"Enough is enough. Stop menyalah kan. Tak bisa se-mata2 salahkan pemerintah lamban tak serius tapi tutup mata terhadap realita orang kecil di bawah yg menolak diam di rumah karena urusan perut. Dari pada saling menyalahkan, kenapa tidak bantu solusi agar mereka bisa diam di rumah?" lanjut Abu Janda.
Menanggapi cuitan Abu Janda, seorang warganet mencolek pengusaha.
"Seharusnya pd saat yg plng krusial ini, inilah kesempatan terbaik bg pr pengusaha utk menunjukkan solidaritasnya kpd bangsa ini, dgn jalan membantu pemerintah mendonasikan sebagian hartanya utk dibagikan kpd masyarakat ekonomi lemah spy ada stok bahan pangan selama masa 14 hari," katanya.
Beruntung lah ada pengusaha peduli seperti Sandiaga Salahuddin Uno. Menggandeng beberapa pihak, mereka menyiapkan kebutuhan logistik keluarga pasien Covid-19. Terutama jika kepala keluarganya harus dikarantina.
