Senin, 01 Juli 2019 07:00

Inilah 6 Tanda Fisik Orang Sedang Stres Berat

Ibnu Kasir Amahoru
Konten Redaksi Rakyatku.Com
Ilustrasi.
Ilustrasi.

Tubuh punya caranya sendiri untuk memberi tahu Anda bagaimana kondisi mereka sebenarnya.

RAKYATKU.COM - Tubuh punya caranya sendiri untuk memberi tahu Anda bagaimana kondisi mereka sebenarnya. Sayang, terkadang kode yang sudah diberikan ini diabaikan atau hanya dipandang sebelah mata.

Semua stres terwujud jelas, baik secara fisik dan emosional. Dan berikut ini beberapa cara tubuh memberi tahu bahwa tubuh sedang mengalami stres.

1. Sakit kepala tak kunjung hilang

Sakit kepala sepanjang hari bisa jadi tanda stres. "Sakit kepala sering terjadi ketika stres," demikian tertulis di situs resmi Mayo Clinic.

Stres memicu tekanan seperti sakit kepala dan migrain, dan bisa memicu jenis sakit kepala lain atau membuatnya lebih buruk.

Tidak banyak yang bisa dilakukan kecuali menjalani hidup yang tidak begitu membuat stres, menurut Mayo Clinic. Tapi jika sakit kepala tiba-tiba menyerang, disertai panas atau pandangan berkunang, atau terjadi usai kepala terluka, sebaiknya segera ke rumah sakit.

2. Sistem pencernaan terganggu

Perut mungkin tempat pertama yang diserang jika seseorang mengalami stres atau gelisah. "Otak punya efek langsung di perut dan usus," dikutip dari Harvard Health.

Bahkan ketika orang hanya memikirkan tentang makanan, perutnya akan melepaskan asam untuk persiapan makan. Hubungan otak dan perut ini adalah dua arah yang bisa menyebabkan lingkaran setan stres saling memengaruhi.

Masalah usus bisa mengirim sinyal ke otak, sama bermasalahnya dengan otak mengirim pesan ke usus. Dan sebaliknya, stres bisa menyebabkan peningkatan asam lambung yang menyebabkan masalah di saluran pencernaan seperti maag. Gejalanya termasuk rasa terbakar di perut.

3. Haus

Dehidrasi bisa menyebabkan tubuh tidak berfungsi sebagaimana mestinya, yang bisa memicu stres.

"Studi menunjukkan bahwa minum setengah liter air bisa meningkatkan kadar kortisol," kata Amanda Carlson, RD, director performance nutrition di Athletes's Performance.

Kortisol adalah salah satu hormon stres. Dan tetap terhidrasi dengan baik bisa membantu menurunkan stres. Saat tidak memberikan tubuh cairan yang dibutuhkan, orang akan stres dan tubuh merespons itu.

4. Jam tidur tidak teratur

"Terlalu stres bisa menyebabkan kualitas tidur buruk, memicu masalah kesehatan mental dan fisik, karena stres dalam kehidupan sehari-hari memicu pola tidur yang buruk di malam hari," dilansir laman Viva, Senin (1/7/2019).

Hormon kortisol bisa menyebabkan tubuh tetap terjaga karena berpikir ini waktunya untuk siaga, dan karena tubuh tidak pernah istirahat, begitu pun pikiran. Terlebih lagi, stres di siang hari bisa memicu skenario mimpi tertentu di malam hari.

Para peneliti menemukan bukti bahwa (mimpi) terjatuh, diserang seseorang, dikunci atau berulang kali mencoba melakukan sesuatu dan gagal bisa berkaitan dengan pengalaman frustrasi saat siang hari.

5. Banyak berkeringat

Normal jika keringat sedikit, tapi tidak saat stres. Saat tubuh bereaksi terhadap suatu emosi, seperti gelisah, stres, gembira, keringat dikeluarkan dari kelenjar apokrin. Kelenjar ini yang kemudian menghasilkan milkier sweat atau keringat yang lebih mirip susu, terbuat dari asam lemak dan protein, terletak di ketiak, lipatan paha dan kulit kepala.

Meski tak berbau, keringat ini akan berbau jika terlalu lama menempel pada kulit. Jadi jika ini terjadi, yang perlu dilakukan adalah bersantai. Lakukan olahraga, meditasi dan terapi untuk meminimalisasi stres dalam hidup.

6. Rambut rontok

Menurut Mayo Clinic, ada tiga tipe kerontokan rambut yang berkaitan dengan stres, yakni telogen effluvium, alopecia areata, dan trichotillomania.

Yang pertama, telogen effluvium terjadi setelah stres secara signifikan mendorong sejumlah besar folikel rambut menjadi apa yang dikenal sebagai fase istirahat. Artinya rambut rontok sebelum sepenuhnya tumbuh. Ini membuat rambut rontok tiba-tiba ketika Anda sedang menyisir atau mencuci rambut.

Sedangkan alopecia areata bisa disebabkan berbagai hal, termasuk stres parah. Saat terjadi, sistem imun dalam tubuh menyerang folikel rambut yang menyebabkan rambut rontok. Sementara itu, trichotillomania terjadi ketika seseorang memiliki dorongan untuk menarik rambut dari kulit kepala, alis atau area tubuh lainnya.

Mayo Clinic menyatakan bahwa rambut rontok seharusnya tidak terjadi permanen. Teknik mengatasi stres seperti meditasi bisa membantu mengembalikan kondisi rambut seperti semula.


 

Loading...