Kamis, 02 Mei 2019 13:14

Upaya Kudeta Terhadap Presiden Venezuela Memasuki Hari Kedua

Suriawati
Konten Redaksi Rakyatku.Com
Massa desak presiden Nicolas Maduro mundur
Massa desak presiden Nicolas Maduro mundur

Bentrokan antara pengunjuk rasa dan pasukan militer di Venezuela memasuki hari kedua pada hari Rabu.

RAKYATKU.COM - Bentrokan antara pengunjuk rasa dan pasukan militer di Venezuela memasuki hari kedua pada hari Rabu.

Itu terjadi ketika kubu presiden Nicolas Maduro dan pemimpin oposisi, Juan Guaido, bersaing untuk mendapatkan kekuasaan.

Pada hari Selasa, ribuan demonstran turun ke jalan-jalan di Caracas sebagai bagian dari pemberontakan, untuk memaksa Maduro mundur.

"Jika rezim berpikir kami telah mencapai tekanan maksimum, mereka bahkan tidak bisa membayangkannya. Kita harus tetap di jalanan," kata Guaido kepada pendukungnya.

Pada Selasa malam, Maduro menyatakan bahwa pemberontakan telah dikalahkan.

Tapi itu tidak menghentikan Guaido. Dia segera merilis video di Twitter dan mendesak militer untuk bergabung dengan mereka yang mencari perubahan di Venezuela.

Sejauh ini, hanya satu perwira tinggi dan sekelompok kecil prajurit telah meninggalkan barisan Maduro.

Dia adalah Manuel Ricardo Cristopher, pemimpin SEBIN, polisi rahasia Venezuela. Dia telah mengatakan bahwa sudah waktunya untuk "membangun kembali negara."

Selaian Maduro dan Guaido, perebutan kekuasaan di Venezuela juga telah menjadi perkara Amerika Serikat dan Rusia.

AS, bersama dengan sekitar 50 negara lainnya mendukung Guaido. Sementara Rusia terus memberikan dukungan untuk Maduro.

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo telah mengatakan pada Fox News bahwa pada hari Selasa, Maduro telah siap untuk bangkit dan melarikan diri, tapi Rusia meyakinkannya untuk tetap tinggal.

Selain Rusia, Kuba juga secara langsung mendukung Maduro, dan menentang Guaido.

Sebelum demonstrasi berlanjut pada hari Rabu, Presiden AS Donald Trump mengancam Kuba atas hubungan mereka dengan Venezuela.

Dia memperingatkan negara itu bahwa dia tidak takut untuk memaksakan "embargo penuh dan lengkap" dan sanksi terhadap Kuba jika pasukannya tidak menghentikan operasi di Venezuela.

Pemerintah AS mengatakan sekitar 20.000 tentara dan agen Kuba telah bekerja di Venezuela untuk menopang pemerintah Maduro.