Nursandy Syam
Manajer Strategi dan Operasional Jaringan Suara Indonesia (JSI)
Rabu, 08 September 2021 18:05

Suara Milenial, Suara Potensial

Suara Milenial, Suara Potensial

KPU) Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) melansir jumlah sementara pemilih berusia 17-30 tahun yang bisa menyalurkan hak pilihnya yang pada Pemilu 2024 mencapai 1,9 juta jiwa

GENERASI milenial menjadi salah satu komoditi politik yang paling menggiurkan oleh para praktisi politik di Indonesia. Suara dari generasi ini, kian waktu mengalami penambahan yang signifikan.

Tercatat pada pemilu 2019 yang lalu, jumlah pemilih milenial berada dikisaran 35 persen sampai 40 persen dari total jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) secara nasional.

Terbaru, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) melansir jumlah sementara pemilih berusia 17-30 tahun yang bisa menyalurkan hak pilihnya yang pada Pemilu 2024 mencapai 1,9 juta jiwa hasil dari pleno Pemutakhiran Data Pemilih Berkelanjutan (PPDB) periode Agustus 2021, dari total 6.212.508 pemilih di Sulsel.

Jumlah pemilih milenial yang terus bertambah, membuat segmen milenial menyumbang suara terbanyak dari seluruh segmen pemilih di Indonesia. Karena itu, suara generasi milenial menjadi bidikan yang potensial dalam pelaksanaan event Pemilu dan Pilkada serentak pada tahun 2024.

Para pihak yang memiliki interest (kepentingan) dalam kontestasi politik mendatang tentu melirik ceruk suara dari generasi milenial ini. Khususnya, partai politik (parpol) yang sedang mempersiapkan diri menghadapi event Pemilu 2024 mendatang.

Suara milenial, suara potensial. Meraih dukungan pemilih dari generasi milenial bukanlah perkara mudah. Pemilih milenial memiliki karakter yang sangat beragam.

Dalam meraih dukungan suara mayoritas milenial, parpol membutuhkan berbagai pendekatan dan strategi khusus agar pemilih milenial dapat menjadi simpatisan atau menjadi pendukung bagi parpol tertentu.

Tak cukup bagi parpol hanya dengan menempatkan figur muda dalam posisi struktural kepengurusan. Tak juga dikatakan efektif, jika parpol hanya menjual jargon-jargon politik melalui berbagai saluran komunikasi.

Beragam variabel pendekatan mesti dijalankan secara dinamis oleh parpol guna menumbuhkan kesadaran politik, minat dan memperoleh simpati dari segmen pemilih milenial.

Merebut suara milenial merupakan perjuangan politik kekuasaan. Sebab itu, beberapa hal perlu menjadi pertimbangan bagi parpol dalam mempengaruhi minat dan simpati pemilih milenial.

Pertama, seperti apa kerja parpol dalam mendekatkan identitasnya dengan segmen pemilih milenial. Aneka program yang identik dengan generasi milenial sangat perlu dilakukan. Parpol harus dirasakan kehadiran dan manfaatnya ditengah-tengah generasi milenial.

Kedua, relevansi karakter ketokohan figur sentral di parpol. Pemilih milenial akan memberi perhatian lebih pada figur-figur sentral yang berada dalam tubuh parpol. Figur-figur sentral dalam suatu parpol perlu didorong secara pemikiran agar terbuka dan akomodatif dengan gagasan-gagasan kaum muda. Kehadirannya memerlukan intensitas dalam mengisi ruang-ruang publik, ruang-ruang dialog yang digemari dan diinisiasi komunitas pemilih milenial. Penggunaan platform digital dan interaksi sosial di jagat maya menjadi kebutuhan yang sangat diperlukan dalam membangun emosi dengan pemilih milenial.

Selanjutnya, pengelolaan isu dan narasi campaign yang relevan bagi kalangan milenial. Kuantitas generasi milenial yang besar tidak membuat mereka sebagai mayoritas yang diam (silent majorities). Mereka bukan entitas yang pasif, tetapi aktif. Generasi milenial memiliki kecenderungan ingin tahu lebih dalam. Informasi yang diperoleh bisa menjadi dasar politisnya dalam memberikan hak suara.

Terakhir, parpol menyiapkan pola rekrutmen politik yang brilian. Perekrutan kader-kader muda potensial perlu terus dilakukan, tak hanya untuk regenerasi tapi keterwakilan kaum milenial menjadi etalase elektoral bagi parpol. Memberi ruang seluas-luasnya bagi milenial untuk terlibat aktif dalam kegiatan kepartaian tentu bisa memberikan dampak positif. Mendorong keaktifan kegiatan sayap-sayap partai yang pada umumnya banyak diisi oleh generasi milenial.

Di balik potensi yang dimiliki generasi milenial, parpol juga sebaiknya menyikapi keberadaannya secara bijak dan selektif. Apalagi kaitannya dengan kepentingan pemilihan legislatif. Figur-figur muda yang disiapkan sebagai aktor utama harus kompetitif dan memiliki modal primer yang memadai, tak cukup hanya dijadikan pelengkap kuota dan bermodalkan semangat semata, karena perjuangannya akan ikut menentukan nasib parpol di Pileg.

Kehadiran beberapa parpol baru otomatis menciptakan iklim persaingan yang sengit diantara parpol. Maka persiapan, strategi dan berbagai upaya pendekatan yang dilakukan oleh parpol akan menentukan besarnya suara yang diperoleh dari generasi milenial.