Rabu, 09 Juni 2021 15:05

Profesor Bukan Bualan Akademik

AM Iqbal Parewangi bersama istri dalam sebuah kesempatan.
AM Iqbal Parewangi bersama istri dalam sebuah kesempatan.

Para insan akademik menempuh jalan berliku dan ikhtiar terbaik agar bisa menjadi profesor.

"Supaya bisa jadi Profesor."

Jawaban semakna itu pernah terbersit dari dua adik saya ketika saya tanya kenapa perlu terus mengajar. Dan rasanya itu sepenggal jawaban bermakna. Mengajar itu penuh makna, Profesor juga sarat makna. Kian bermakna karena tak mudah.

Kedua adik saya sudah menuntaskan capaian gelar akademik tertingginya: Doktor. Dan "supaya bisa jadi Profesor", mereka terus bergiat mengajar, segiat dia menunaikan tugas-tugas lainnya.

Dr dr A M Luthfi Parewangi, SpPD, KGEH aktif mengajar di FK Universitas Hasanuddin, dosen tamu di sejumlah universitas, selain menunaikan dengan penuh azam tugas kemanusiaan di sejumlah rumah sakit.

Sementara Andi M Alfian Parewangi, ME, PhD, meraih Doktor/PhD dari FE Universitas Indonesia dan Australia Nasional University. Dia giat mengajar di sejumlah universitas, termasuk di almamaternya. Aktif sebagai konsultan di Bank Indonesia, sekaligus memimpin jurnal internasional lembaga pengayom dunia perbankan nasional itu, dia juga memimpin lembaga Fundamental Asia.

Saya paham betapa tidak mudah jalan terjal berliku yang harus mereka berdua tapaki, khususnya untuk meraih gelar akademik tertinggi. Setelah tamat SMA, mereka harus lanjut menapaki tiga tahapan akademik berdurasi panjang dan menguras energi juga emosi.

Lulus SMA otomatis, mostly. Tapi lulus S1, apalagi S2, apalagi S3, bagi yang pernah melaluinya, pasti paham lika-liku dan terjalnya. Tentu yang ijazahnya sampai SMA saja sulit paham itu, dan itu dimaklumilah.

Maka dengan tapakan akademik yang seperti itu, beragam ikhtiar terbaik dari para insan akademik "supaya bisa jadi Profesor" dapat dimengerti. Malah, justru ikhtiar itu harus. Itu layak diperjuangkan.

Profesor merupakan sebentuk buah pungkas dari jalan akademik panjang, terjal dan berliku. Profesor bukan bualan akademik, juga bukan jualan politik. Profesor itu terhormat, maka status itu terutama khusus untuk insan yang meniti jalan akademik dengan penuh kehormatan.

Saya salut atas beragam ikhtiar terbaik kedua adik saya "supaya bisa jadi Profesor". Saya doakan, saya bantu. Begitupun dengan para sahabat-sahabat saya yang antre dengan ikhtiar terbaiknya masing-masing "supaya bisa jadi Profesor".

Bismillah wa bi-iznillah. Jadilah Profesor, adikku dan para sahabatku. Dengan begitu, setidaknya kalian turut membantu menjaga muruah gelar Profesor: terhormat, buah ikhtiar terbaik, bukan bualan akademik, juga bukan jualan politik.

Salam cendekia,
AM Iqbal Parewangi
Ketua Majelis Istiqamah ICMI Muda
@ Indonesia 09062021

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=5983724691652511&id=100000451187526