Fahmi Prayoga
Peneliti dan Analis Kebijakan Publik
Sabtu, 07 Agustus 2021 16:39

Percepatan Vaksinasi; Game Changer Hadapi Pandemi

Percepatan Vaksinasi; Game Changer Hadapi Pandemi

Tantangan vaksinasi menjadi lebih berliku ketika prosesnya harus melalui 2 kali suntikkan dosis dengan rentang waktu yang bermacam-macam.

Pandemi Covid-19 saat ini di Indonesia masih menjadi suatu hal serius yang belum usai. Angka kasus di Indonesia telah menyentuh angka 3,6 juta kasus per 7 Agustus 2021 ini. Lonjakan kasus covid-19 yang terjadi selama 1 hingga 2 bulan ke belakang membuat pemerintah menginjak rem untuk mengendalikan aktivitas masyarakat. Mulai dari istilah PPKM darurat yang sempat hadir, kemudian dilanjutkan dengan istilah PPKM level 4 yang setara dengannya.

Seiring dengan pergantian nama istilah dalam pengendalian aktivitas masyarakat, pemerintah juga terus serius untuk pelaksanaan percepatan vaksinasi bagi masyarakat. Sejak akhir 2020, masyarakat sedikit lega mendengar bahwa vaksin covid-19 telah berhasil dibuat. Meskipun pada awal kelahirannya banyak diskursus yang muncul mulai dari keampuhan, keamanan, hingga kehalalan vaksin yang ada. Nyatanya? Saat ini berbagai jenis vaksin telah di produksi bahkan telah disuntikkan kepada masyarakat untuk memberi kekebalan pada tubuh.

Namun kita perlu sadar bahwa keberadaan vaksin tak akan langsung menjadi Kartu AS untuk mengakhiri pandemi. Pemberian vaksin pada seseorang memang benar akan meningkatkan kekebalan tubuh pada yang bersangkutan. Yang tak boleh kita lupakan adalah perlunya penciptaan system percepatan vaksinasi dalam suatu komunitas untuk mengakhiri pandemi covid-19. Penyebaran virus akan berkurang apabila sebagian besar dari masyarakat dalam komunitas telah terbentuk imun pada dirinya terhadap jenis virus tertentu. Kondisi ini disebut sebagai herd immunity.

Dengan penduduk Indonesia yang lebih dari 250 juta jiwa, bisa dibayangkan bahwa proses percepatan vaksinasi terhadap penduduk menjadi penting untuk diperhatikan. Hulu ke hilir harus presisi dalam perhitungannya. Mulai dari ketersediaan stok vaksin, kesiapan tenaga kesehatan yang akan menyuntikkan vaksin, sampai teknis dalam pelaksanaan vaksinasi di lapangan benar-benar menjadi kunci untuk mencapai herd immunity. Tantangan vaksinasi menjadi lebih berliku ketika prosesnya harus melalui 2 kali suntikkan dosis dengan rentang waktu yang bermacam-macam. Mulai dari sekitar 28 hari pasca suntikkan pertama, pun ada pula yang perlu menunggu 3 bulan untuk suntikkan keduanya. Semua tergantung vaksin yang digunakan.

Pemerintah harus tetap fokus mengawal 2 hal. Mempercepat laju vaksinasi dan menekan penularan covid-19 itu sendiri. Kita sebagai masyarakat tentu harus aktif berperan serta dalam prosesnya. Apa yang bisa kita lakukan? Pertama, tetap taati protokol kesehatan. Poin ini akan mendukung upaya pemerintah untuk menekan angka penularan covid-19 dari hari ke hari. Tinggalkan aktivitas-aktivitas yang dirasa berisiko untuk menjadikan kita tertular. Kedua, segera ikut program vaksinasi di daerah lingkungan sekitar kita. Vaksin terbaik adalah vaksin yang tersedia saat ini untuk diri kita. Tak perlu memperdebatkan jenis vaksin apa yang akan digunakan. Lagi pula semua telah mendapat rekomendasi dari WHO dan juga BPOM. Semoga, percepatan vaksinasi ini bisa menjadi game changer untuk menghadapi pandemi dengan terciptanya herd immunity.

Fahmi Prayoga adalah peneliti dan analis kebijakan publik SmartID, Institute for Development and Governance Studies