Waspada Santing
Dosen Fakultas Hukum Universitas Bosowa Makassar
Rabu, 12 Januari 2022 08:29

Metaverse, Platform Dakwah Era Digital

Waspada Santing, Dosen Fakultas Hukum Universitas Bosowa Makassar.
Waspada Santing, Dosen Fakultas Hukum Universitas Bosowa Makassar.

“Kami tidak mengutus seorang Rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki. Dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ibrahim/14: 04)

Sepanjang risalah kerasulan, maksud dan tujuan dakwah, agaknya tidak pernah berubah: mengajak mad’u (jemaah) mengikuti kebenaran dan ketaatan kepada Allah Swt. Dai –atau sebutan lainnya— datang dan pergi, silih berganti setiap kurun waktu. Tujuan dakwah tidak pernah lekang dalam pergantian masa.

Catatan sejarah dakwah dalam nukilan kalam Ilahi menggambarkan, kunci sukses dakwah, betapapun tantangan berat menghadang, ditentukan oleh kualitas kepribadian seorang dai. Pesan dakwah seorang dai yang telah sukses mencerahkan dirinya, akan menyampaikan dakwah dengan hati yang bersih, ikhlas, dan jujur, sehingga dakwahnya menggetarkan nurani umat.

Pelajaran itu dapat dipetik dari perjalanan dakwah Rasulullah saw. Tantangan dakwahnya tak terkira beratnya. Beliau sukses. Jejak-langkah dakwahnya menyinari alam dalam ragam rupa. Beliau menjaga diri secara istikamah dari perlaku yang tidak selaras dengan tuturnya. Beliau insan yang paling memahami: Allah murka terhadap setiap manusia yang berperilaku tidak seirama dengan lisannya (QS. Ash-Shaaf/61: 3).

Dakwah bi al-lisan Rasulullah menyejukkan hati; dakwah bi al-halnya membuatnya menjadi panutan umat dari masa ke masa; para penguasa yang menampik dakwah bi al-qalamnya hancur, kekuasaan musnah ditelan masa. Islam yang Rasulullah dakwakan tetap jaya, kini dalam beragam rahmat kepada seluruh alam.

***

Tantangan dakwah di era teknologi digital, kini berbeda. Sebahagian umat tak punya banyak waktu bersilaturahmi dalam ruang luring (offline), tetapi tak pernah kehabisan waktu dalam bercengkerama secara virtual melalui berbagai platform digital.

Data lanskap digital dunia dan pengguna media sosial di Indonesia tahun 2021 yang dirilis Hootsuite, populasi penduduk dunia 7,83 miliar. Sekitar 4,66 miliar (59,5 persen) pengguna internet, dan 4,20 miliar (53,6 persen) pengguna media sosial.

Di Indoneia, total populasi penduduk 274,9 juta. Jumlah ponsel yang digunakan mencapai 345,3 juta (125,6 persen), pengguna internet 202,7 juta (73,7 persen), dan pengguna media sosial aktif 170 juta (61,8 persen). Setiap hari masyarakat Indonesia rata-rata menghabiskan waktu untuk mengakses internet melalui beragam perangkat 8 jam 52 menit, "bercengkerama" melalui media sosial 3 jam 41 menit, dan melihat televisi (broadcast, straiming, serta vidio 2 jam 50 menit.

Lima besar jenis platform media sosial yang paling sering digunakan masyarakat Indonesia adalah: YouTube 93,8 persen, WhatsApp 87,7 persen, Instagram 85,5 persen, Facebook 85,5 persen, dan Twitter 63,6 pesen. Itu fenomena sunatullah peradaban umat.

Dai harus mampu melakukan "ekspansi" rancang bangun dakwah sesuai kecenderungan mad’u. Tidak bisa lagi sebatas dakwah konvensional dari mimbar-mimbar masjid atau dari forum-forum pengajian. Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi tidak pernah rehat. Umat ada dalam pusaran teknologi komunikasi itu. Pratform dakwah harus menjangkau mereka, agar mereka punya pegangan nilai dalam berselancar di tengah pusaran digital.

***

Umat belum lagi celik dengan ragam rupa platform digital yang ada, berbagai pihak telah mengembangkan platform baru: Metaverse. Istilah Metaverse mulai dikenal masyarakat tahun 1992 melalui novel berjudul Snow Crash, karya Neal Town Stephenson, penulis multitalenta kelahiran Fort Meada, Meryland, Amerika Serikat.

Stephenson menceritakan, seorang pengantar makanan khas Italia: Piza sekaligus peretas bernama Hiro menggunakan Metaverse sebagai jalur untuk "pelarian" berselancar, menghabiskan banyak waktunya menjelahi dunia virtual. Platform Metaverse semakin populer dalam komunikasi dunia daring (dalam jaringan) setelah Chief Executive Officer (CEO) Pacebook, Mark Zuckerberg, mengubah semua unit bisnisnya, termasuk Instagram dan WhatsApp berbasis Meta.

Situs teknologi informasi Wired menjelaskan, Metaverse tidak mengacu pada satu jenis teknologi, tetapi mengarah pada beragam cara baru memanfaatkan teknologi digital. Platform Metaverse memungkinkan "dijangkau" dengan mudah dalam kehidupan sehari-hari, baik melalui layar komputer atau laptop, maupun dalam genggaman individu, lewat ponsel pintar. Setiap pengguna dapat bergerak, berbicara, dan melakukan kegiatan bebas melalui ruang digital Meatverse.

***

Kesuksesan dakwah sangat dipengaruhi kepiawaian dai dalam menyampaikan pesan dakwah sesuai perkembangan. Di tengah era teknologi digital kini, inovasi dakwah harus senapas dengan platform komunikasi yang digunakan jemaah. Metaverse alternatif dakwah era digital.

Wallahu ‘alam bish-shawaab.

Makassar, 12 Januari 2022.