Waspada Santing
Dosen Fakultas Hukum Universitas Bosowa Makassar
Rabu, 02 Februari 2022 08:10

Introspeksi ala al-‘Arifin

Waspada Santing, Dosen Universitas Bosowa Makassar.
Waspada Santing, Dosen Universitas Bosowa Makassar.

"Kamu sekali-kali tidak akan mencapai kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menginfakkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa yang kamu infakkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya." (QS. Ali Imran/2: 92)

Kata arif dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dimaknai beragam. Bisa bermakna bijaksana. Kebijaksanaan bersumber dari kepandaian, kecendekiaan, dan keluasan wawasan ilmu. Seseorang yang arif, dengan ilmunya memungkinkannya untuk memahami sesuatu yang tak dapat dijangkau pemapahaman masyarakat umum. Seorang yang arif, dapat mengetahui sesuatu yang jauh di balik yang tampak di permukaan.

Orang yang arif, bijak dalam mendayagunakan pengalaman, pengetahuan, dan akal budinya dalam menyikapi segala sesuatu. Orang arif, selalu bersikap hati-hati, cermat, dan teliti, tanpa mengurangi kepekaannya merespons kesulitan dan kebutuhan duafa di sekitarnya. Ketajaman dan kejernihan berpikirnya, dalam paduan akal budinya yang bening, membuat orang-orang yang arif dibutuhkan umat.

***

Syahdan, seorang ulama yang terkenal sangat arif, tinggal bersama istrinya yang salihah di sudut jalan, dalam lorong kota. Ulama kharismatik itu digelari masyarakat dengan al-‘arifin. Suatu sore--saat al-‘arifin berbincang santai dengan istrinya di serambi, sepasang remaja, kakak-beradik--dengan pakain yang lusuh, berdiri di depan, sambil sesekali menatap ke al-‘arifin dan istrinya.

Al-‘arifin maklum harapan tamunya, bersama istrinya menyambut ramah. Sambil tersenyum, al-‘arifin bangkit, berjalan pelan, merogoh kantong jubahnya. Tanpa basa-basi, isinya berpindah tangan. Wajah kedua remaja itu cerah setelah menerima sedekah al-‘arifin. Keduanya beranjak pergi dengan muka berseri. Al-‘arifin senyum melihat keceriaan tamunya. Tatapannya mengikuti langkah sepasang remaja itu hingga keduanya hilang di kelokan jalan, di ujung lorong.

Setelah kedua remaja itu tak tampak dalam pandangannya, al-‘arifin kembali duduk, dambil menarik napas, dan sesenggukan. "Mengapa menangisi sedekah itu. Ikhlaskanlah," ujar istrinya. Ia paham makna sesunggukan itu.

"Saya lega. Bahagia melihat kedua remaja itu senang. Saya sedih bukan karena tak ikhlas, tapi karena bersedekah setelah dimintai. Harusnya sebagian karunia yang diamanahkan kepada kita, disedekahkan tanpa menunggu mereka meminta. Memang itu hak mereka," ujar al-‘arifin, serius, sambil menatap lembut sang istri.

***

Cuplikan cerita dari hikayat kesufian ini, sering dikutip dalam berbagai momen dengan versi yang beragam. Pesan moralnya bernas. Berbagi membawa kenikmatan ganda: kesenangan bagi si penerima, sekaligus menenteramkan memberi, jika ikhlas. Senyum kepada seorang adalah sedekah. Beberkahan sedekah yang membuat si penerima tersenyum, senang, tentu lebih dahsyat.

Sikap al-‘arifin dengan kenyataan sosial yang saban waktu terjadi tengah masyarakat muslim, masih jauh, berjarak. Di tengah keseharian kehidupan umat, ketika didatangi atau disapa mereka yang membutuhkan uluran tangan, terkadang "buang muka", atau memberi dengan masygul, merasa terusik dengan kehadiran atau sapaannya yang memelas.

Berbagi, secara fisik, terasa mengurangi jumlah milik dalam penguasaan, tetapi hakekatnya di sisi Allah Swt., adalah investasi untuk kehidupan yang abadi. Bagi penderma, yang menafkahkan sebagian dari karunia-Nya, dijanjikan imbalan yang berganda, dalam bentuk dan waktu yang tidak terprediksi (QS. Al-Baqarah/2: 261).

Orang-orang yang arif meyakini, Allah tidak pernah mungkir dari janji-Nya. Dalam tiap rezeki yang dianugerahkan kepada tiap hamba-Nya, terdapat hak hamba lainnya. Hak itu harus ditunaikan agar bersih dan menjadi menolak bala. Jika Allah yang mengambilnya, tidak ada daya apa pun yang kuasa menahan dan menongkalnya. (*)

Wallahu ‘alam Bish-shawab.

Rabu, 2 Februari 2022