RAKYATKU.COM, MAKASSAR — Pertumbuhan bisnis PT Pegadaian pada 2026 berjalan beriringan dengan penguatan program pemberdayaan masyarakat. Di Makassar, PT Pegadaian Kanwil VI SulSelBarRa Maluku menghadirkan Program Pemberdayaan UMKM melalui Pelatihan Barista di Mall Nipah.
Program tersebut menjadi salah satu bentuk upaya meningkatkan kapasitas masyarakat melalui keterampilan produktif. Peserta tidak hanya mendapatkan pengetahuan mengenai kopi, tetapi juga memperoleh pengalaman praktik yang dapat dikembangkan menjadi peluang kerja maupun usaha.
Langkah tersebut berlangsung di tengah kinerja Pegadaian yang terus bertumbuh secara nasional.
Baca Juga : Pegadaian Dorong TJSL Naik Level, Pelatihan Barista Bekali Warga Makassar dengan Skill Produktif
Hingga 30 Juni 2026, Pegadaian membukukan laba bersih Rp6,59 triliun, tumbuh 84,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Total aset perusahaan mencapai Rp186,33 triliun, meningkat 53,9 persen secara tahunan, sementara outstanding loan (OSL) gross mencapai Rp155,1 triliun, naik 52,7 persen.
Pertumbuhan tersebut memperlihatkan ekspansi bisnis Pegadaian pada semester pertama 2026. Namun, di tingkat masyarakat, perusahaan juga menjalankan program yang menyasar pengembangan kapasitas dan pemberdayaan UMKM.
Pelatihan barista di Makassar menjadi salah satu contohnya.
Baca Juga : Dari Skill Jadi Cuan, Pegadaian Buka Peluang Warga Makassar Masuk Bisnis Kopi
Peserta mendapatkan materi mulai dari pengenalan alat dan bahan, dasar pembuatan kopi, teknik penyeduhan, pengoperasian peralatan barista, penyajian minuman, hingga standar kebersihan dan pelayanan kepada pelanggan.
Keterampilan tersebut dipilih karena industri kopi dan usaha minuman memiliki ruang pengembangan yang cukup luas. Seseorang yang memiliki kemampuan barista dapat masuk ke dunia kerja atau mengembangkan usaha secara mandiri.
Pemimpin Wilayah PT Pegadaian Kanwil VI SulSelBarRa Maluku, Pratikno, mengatakan pemberdayaan UMKM tidak semestinya hanya dilihat dari sisi bantuan.
“Pemberdayaan bukan hanya tentang memberikan bantuan, tetapi bagaimana kita membekali masyarakat dengan keterampilan yang dapat menjadi modal untuk berkembang. Melalui pelatihan barista ini, kami berharap peserta dapat memanfaatkan keterampilan yang diperoleh untuk membuka peluang usaha maupun meningkatkan usaha yang telah dijalankan,” ujar Pratikno.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa peningkatan kapasitas menjadi bagian penting dari pendekatan pemberdayaan.
Bagi calon pelaku usaha, kemampuan membuat produk merupakan salah satu modal awal. Namun, ketika usaha mulai berkembang, kebutuhan lain akan muncul. Pelaku usaha harus memahami pengelolaan keuangan, pemasaran, pelayanan pelanggan, pengadaan bahan baku, hingga strategi mempertahankan konsumen.
Baca Juga : Bisnis Pegadaian Tumbuh, Program UMKM di Makassar Didorong Naik Kelas
Karena itu, pelatihan keterampilan dapat menjadi tahap awal dari sebuah proses yang lebih panjang.
Dalam bisnis kopi, misalnya, peserta dapat memulai dengan menjadi barista. Setelah memiliki pengalaman, mereka dapat mengembangkan layanan coffee catering atau coffee corner. Apabila pasar sudah terbentuk, model bisnis dapat dikembangkan menjadi kedai kopi.
Proses naik kelas tersebut membutuhkan waktu dan kemampuan mengelola risiko.
Baca Juga : Pegadaian Ubah Pola TJSL: Dari Bantuan Sesaat ke Penguatan Skill dan Kemandirian UMKM
Di sinilah ekosistem pemberdayaan menjadi penting.
Pegadaian memiliki peran sebagai lembaga jasa keuangan, sementara program pemberdayaan dapat diarahkan pada peningkatan kemampuan masyarakat. Ketika skill dan akses pembiayaan bertemu, pelaku usaha memiliki lebih banyak instrumen untuk mengembangkan bisnis.
Dalam data resmi Pegadaian, sebanyak 586.468 nasabah telah memperoleh akses modal melalui program pembiayaan usaha mikro.
Baca Juga : Pegadaian Ubah Pola TJSL: Dari Bantuan Sesaat ke Penguatan Skill dan Kemandirian UMKM
Angka tersebut merupakan data nasional dan tidak secara khusus mencerminkan peserta pelatihan barista di Makassar. Namun, capaian tersebut memberikan gambaran mengenai skala akses pembiayaan usaha mikro yang telah dijalankan Pegadaian.
Selain pembiayaan, Pegadaian juga memiliki program GadePreneur, yang disebut perusahaan sebagai wadah pemberdayaan mitra binaan dengan fokus pada peningkatan kapasitas usaha.
Kombinasi antara keterampilan, pendampingan, dan akses pembiayaan dapat menjadi bagian dari ekosistem yang dibutuhkan pelaku UMKM untuk berkembang.
Baca Juga : Pegadaian Ubah Pola TJSL: Dari Bantuan Sesaat ke Penguatan Skill dan Kemandirian UMKM
Hal tersebut relevan bagi usaha kopi karena kebutuhan modal dapat berubah seiring perkembangan bisnis.
Pada tahap awal, pelaku usaha mungkin hanya membutuhkan peralatan dasar. Ketika pelanggan bertambah, kebutuhan bahan baku meningkat. Jika usaha berkembang menjadi kedai, kebutuhan investasi juga semakin besar, mulai dari tempat, peralatan, tenaga kerja, hingga promosi.
Dengan demikian, kemampuan mengelola pertumbuhan menjadi sama pentingnya dengan kemampuan membuat produk.
Baca Juga : Pegadaian Ubah Pola TJSL: Dari Bantuan Sesaat ke Penguatan Skill dan Kemandirian UMKM
Pelatihan di Mall Nipah juga memberikan peserta gambaran mengenai standar industri food and beverage. Dalam bisnis yang berhadapan langsung dengan konsumen, kualitas produk harus berjalan bersama kualitas pelayanan.
Kebersihan alat, cara menyajikan minuman, komunikasi dengan pelanggan, serta konsistensi produk dapat menentukan pengalaman konsumen.
Aspek-aspek tersebut menjadi bekal penting bagi calon pelaku usaha.
Baca Juga : Pegadaian Ubah Pola TJSL: Dari Bantuan Sesaat ke Penguatan Skill dan Kemandirian UMKM
Dari perspektif ekonomi daerah, berkembangnya UMKM di sektor makanan dan minuman juga dapat menciptakan efek lanjutan.
Usaha kopi membutuhkan bahan baku, kemasan, peralatan, tenaga kerja, promosi, hingga jasa pendukung. Ketika usaha berkembang, aktivitas ekonomi di sekitarnya berpotensi ikut bergerak.
Karena itu, pemberdayaan UMKM memiliki dimensi yang lebih luas daripada sekadar meningkatkan pendapatan pemilik usaha.
Baca Juga : Pegadaian Ubah Pola TJSL: Dari Bantuan Sesaat ke Penguatan Skill dan Kemandirian UMKM
Jika sebuah usaha berkembang, terdapat kemungkinan munculnya kebutuhan tenaga kerja baru. Pada saat yang sama, permintaan terhadap produk dan jasa pemasok juga dapat meningkat.
Namun, dampak tersebut tidak otomatis terjadi hanya karena pelatihan diberikan. Diperlukan proses lanjutan agar peserta benar-benar mampu mengaplikasikan keterampilan dan mengembangkan usaha.
Karena itu, keberlanjutan menjadi salah satu faktor penting.
Baca Juga : Pegadaian Ubah Pola TJSL: Dari Bantuan Sesaat ke Penguatan Skill dan Kemandirian UMKM
Pegadaian berharap program pemberdayaan dapat menghasilkan masyarakat yang memiliki keterampilan produktif, kreativitas, dan kemampuan mengelola usaha secara profesional.
Bagi peserta, pelatihan barista dapat menjadi awal untuk masuk ke industri kopi.
Bagi UMKM, keterampilan tersebut dapat menjadi modal pengembangan usaha.
Baca Juga : Pegadaian Ubah Pola TJSL: Dari Bantuan Sesaat ke Penguatan Skill dan Kemandirian UMKM
Sementara bagi Pegadaian, program tersebut menjadi salah satu bentuk kontribusi sosial-ekonomi di tengah pertumbuhan bisnis perusahaan.
Pertumbuhan bisnis Pegadaian sendiri terus berlanjut. Data semester I 2026 menunjukkan laba bersih perusahaan mencapai Rp6,59 triliun dengan aset Rp186,33 triliun. Kinerja tersebut menjadi gambaran skala perusahaan, tetapi tidak dapat secara langsung dijadikan ukuran keberhasilan program pemberdayaan barista di Makassar.
Ukuran yang lebih spesifik justru dapat dilihat dari dampak pada peserta.
Baca Juga : Pegadaian Ubah Pola TJSL: Dari Bantuan Sesaat ke Penguatan Skill dan Kemandirian UMKM
Berapa banyak yang kemudian bekerja sebagai barista? Berapa yang membuka usaha? Berapa yang berhasil meningkatkan omzet? Berapa usaha yang mampu menyerap tenaga kerja?
Pertanyaan tersebut penting untuk melihat apakah sebuah program pemberdayaan benar-benar menghasilkan perubahan ekonomi dalam jangka panjang.
Dengan pendekatan tersebut, pelatihan barista tidak hanya dipandang sebagai kegiatan TJSL, tetapi juga sebagai bagian dari pembangunan kapasitas masyarakat.
Baca Juga : Pegadaian Ubah Pola TJSL: Dari Bantuan Sesaat ke Penguatan Skill dan Kemandirian UMKM
Makassar memiliki ekosistem kuliner dan usaha minuman yang terus berkembang. Kehadiran tenaga terampil dapat menjadi salah satu unsur pendukung bagi pertumbuhan sektor tersebut.
Pada akhirnya, pelatihan barista Pegadaian menjadi bagian dari perjalanan yang lebih besar: bagaimana keterampilan dapat menjadi modal awal, modal usaha dapat menjadi penggerak, dan usaha yang dikelola dengan baik dapat berkembang menjadi sumber pendapatan serta lapangan pekerjaan.
Di tengah pertumbuhan bisnis Pegadaian, pemberdayaan UMKM menjadi salah satu cara perusahaan menghadirkan manfaat yang lebih dekat dengan masyarakat.
Baca Juga : Pegadaian Ubah Pola TJSL: Dari Bantuan Sesaat ke Penguatan Skill dan Kemandirian UMKM
Dari ruang pelatihan di Mall Nipah, harapannya bukan sekadar lahir barista baru.
Lebih jauh, ada peluang lahirnya pelaku usaha baru yang mampu berkembang, mandiri, dan naik kelas.
