RAKYATKU.COM,MAKASSAR — Industri kopi dan usaha minuman terus berkembang di tengah perubahan gaya hidup masyarakat perkotaan. Peluang tersebut ikut membuka ruang bagi masyarakat untuk mengembangkan keterampilan menjadi sumber penghasilan baru.
Melihat potensi tersebut, PT Pegadaian Kanwil VI SulSelBarRa Maluku mendorong peningkatan kapasitas masyarakat melalui Program Pemberdayaan UMKM melalui Pelatihan Barista yang dilaksanakan di Mall Nipah, Makassar.
Pelatihan ini tidak hanya memberikan pengetahuan mengenai kopi, tetapi juga membekali peserta dengan keterampilan praktis yang dapat digunakan untuk memasuki industri food and beverage maupun dikembangkan menjadi usaha mandiri.
Baca Juga : Bisnis Pegadaian Tumbuh, Pelatihan Barista Jadi Jalan Dorong UMKM Makassar Naik Kelas
Peserta mendapatkan materi mulai dari pengenalan alat dan bahan, dasar-dasar pembuatan kopi, teknik penyeduhan, pengoperasian peralatan barista, penyajian minuman, hingga standar kebersihan dan pelayanan kepada pelanggan.
Keterampilan tersebut menjadi penting karena bisnis kopi saat ini tidak hanya membutuhkan produk yang enak, tetapi juga sumber daya manusia yang memahami proses pengolahan dan pelayanan.
Pemimpin Wilayah PT Pegadaian Kanwil VI SulSelBarRa Maluku, Pratikno, mengatakan pemberdayaan masyarakat harus diarahkan pada kemampuan yang dapat digunakan dalam jangka panjang.
Baca Juga : Pegadaian Dorong TJSL Naik Level, Pelatihan Barista Bekali Warga Makassar dengan Skill Produktif
“Pemberdayaan bukan hanya tentang memberikan bantuan, tetapi bagaimana kita membekali masyarakat dengan keterampilan yang dapat menjadi modal untuk berkembang. Melalui pelatihan barista ini, kami berharap peserta dapat memanfaatkan keterampilan yang diperoleh untuk membuka peluang usaha maupun meningkatkan usaha yang telah dijalankan,” ujar Pratikno.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa pelatihan barista ditempatkan sebagai bagian dari proses peningkatan kapasitas masyarakat. Peserta tidak hanya diperkenalkan pada teknik membuat minuman kopi, tetapi juga diberikan pengalaman praktik yang dapat menjadi dasar untuk memasuki dunia usaha.
Pilihan usaha yang dapat dikembangkan dari keterampilan tersebut cukup beragam. Peserta dapat bekerja sebagai barista di kedai kopi, membuka coffee corner dengan skala kecil, menjalankan usaha minuman dari rumah, mengembangkan kedai kopi, hingga menyediakan layanan coffee catering untuk kegiatan tertentu.
Namun, keterampilan teknis bukan satu-satunya faktor yang menentukan keberhasilan bisnis.
Pelaku usaha juga membutuhkan kemampuan membaca pasar, menentukan harga, menjaga kualitas, menghitung biaya operasional, mengelola bahan baku, melakukan promosi, serta membangun hubungan dengan pelanggan.
Karena itu, pelatihan barista dapat menjadi langkah awal sebelum peserta mengembangkan kemampuan bisnis secara lebih luas.
Baca Juga : Bisnis Pegadaian Tumbuh, Program UMKM di Makassar Didorong Naik Kelas
Lokasi pelatihan di Mall Nipah juga memberikan pengalaman yang berbeda. Peserta berada di lingkungan yang dekat dengan aktivitas perdagangan dan gaya hidup masyarakat perkotaan. Kondisi tersebut dapat memberikan gambaran mengenai pentingnya kualitas produk, kecepatan pelayanan, kebersihan, dan kenyamanan pelanggan dalam bisnis food and beverage.
Bisnis kopi sendiri memiliki karakter yang memungkinkan pengusaha memulai dari skala kecil. Tidak semua pelaku usaha harus langsung memiliki kedai besar dengan investasi tinggi. Model usaha dapat disesuaikan dengan kemampuan modal dan target pasar.
Seorang peserta misalnya dapat memulai dengan layanan kopi pada acara tertentu. Setelah mendapatkan pelanggan dan memahami pasar, usaha dapat dikembangkan menjadi coffee corner atau kedai permanen.
Baca Juga : Pegadaian Ubah Pola TJSL: Dari Bantuan Sesaat ke Penguatan Skill dan Kemandirian UMKM
Model bertahap seperti itu juga memberikan ruang bagi pelaku usaha untuk belajar sambil menjalankan bisnis.
Di sisi lain, keterampilan barista juga dapat menjadi modal untuk masuk ke dunia kerja. Peserta yang belum siap membuka usaha sendiri tetap dapat memanfaatkan keterampilan tersebut untuk mencari pekerjaan di kedai kopi, restoran, hotel, atau bisnis food and beverage lainnya.
Dengan demikian, manfaat pelatihan tidak hanya diukur dari jumlah usaha baru yang muncul, tetapi juga dari bertambahnya keterampilan produktif yang dimiliki masyarakat.
Baca Juga : Pegadaian Ubah Pola TJSL: Dari Bantuan Sesaat ke Penguatan Skill dan Kemandirian UMKM
Program ini menjadi semakin relevan ketika dikaitkan dengan peran Pegadaian dalam mendukung akses pembiayaan usaha. Pegadaian mencatat sebanyak 586.468 nasabah telah memperoleh akses modal melalui program pembiayaan usaha mikro.
Angka tersebut merupakan data secara keseluruhan dan bukan jumlah peserta pelatihan barista di Makassar. Namun, data tersebut menggambarkan bagaimana pengembangan keterampilan dan akses pembiayaan dapat menjadi dua unsur yang saling melengkapi dalam pengembangan usaha.
Skill memberikan kemampuan untuk menghasilkan produk atau layanan, sementara modal dapat dibutuhkan ketika usaha mulai berkembang dan memerlukan peralatan, bahan baku, tempat usaha, maupun kebutuhan operasional lainnya.
Baca Juga : Pegadaian Ubah Pola TJSL: Dari Bantuan Sesaat ke Penguatan Skill dan Kemandirian UMKM
Karena itu, pelatihan barista yang dilakukan Pegadaian memiliki ruang untuk dikembangkan lebih jauh melalui pendampingan usaha, literasi keuangan, pemasaran, serta akses terhadap ekosistem pembiayaan.
Tantangan berikutnya adalah bagaimana peserta mampu mengubah keterampilan yang diperoleh menjadi aktivitas ekonomi yang nyata.
Keberhasilan program pemberdayaan pada akhirnya tidak hanya terlihat dari berlangsungnya pelatihan, tetapi juga dari perubahan setelah pelatihan. Misalnya, peserta mulai bekerja sebagai barista, membuka layanan kopi, meningkatkan kualitas usaha yang sudah berjalan, atau bahkan menciptakan lapangan pekerjaan baru.
Baca Juga : Pegadaian Ubah Pola TJSL: Dari Bantuan Sesaat ke Penguatan Skill dan Kemandirian UMKM
Bagi Makassar, berkembangnya usaha kopi juga memiliki dampak yang lebih luas terhadap ekosistem ekonomi lokal. Ketika sebuah usaha tumbuh, kebutuhan terhadap bahan baku, peralatan, kemasan, tenaga kerja, promosi, hingga jasa pendukung ikut meningkat.
Dengan kata lain, bisnis kopi tidak berdiri sendiri. Ada rantai ekonomi yang dapat ikut bergerak ketika permintaan terhadap produk dan layanan meningkat.
Pegadaian Kanwil VI SulSelBarRa Maluku berharap program pemberdayaan tersebut dapat menghasilkan masyarakat yang memiliki keterampilan produktif dan mampu memanfaatkannya untuk meningkatkan kemandirian ekonomi.
Baca Juga : Pegadaian Ubah Pola TJSL: Dari Bantuan Sesaat ke Penguatan Skill dan Kemandirian UMKM
Pelatihan barista akhirnya bukan hanya soal bagaimana membuat secangkir kopi.
Di balik keterampilan tersebut terdapat peluang untuk bekerja, membangun usaha, mengembangkan kreativitas, dan menciptakan sumber pendapatan.
Dari sebuah keterampilan sederhana, peluang ekonomi dapat berkembang apabila diikuti dengan konsistensi, kemampuan mengelola usaha, keberanian membaca pasar, dan dukungan ekosistem yang tepat.
Baca Juga : Pegadaian Ubah Pola TJSL: Dari Bantuan Sesaat ke Penguatan Skill dan Kemandirian UMKM
Inilah yang menjadi nilai penting dari pemberdayaan UMKM: memberikan masyarakat bukan hanya bantuan, tetapi juga bekal agar mampu menciptakan peluangnya sendiri.
