RAKYATKU.COM,MAKASSAR — Pertumbuhan bisnis PT Pegadaian sepanjang 2026 berjalan beriringan dengan penguatan peran perusahaan dalam mendorong inklusi keuangan dan pemberdayaan masyarakat. Di tingkat daerah, komitmen tersebut antara lain diwujudkan PT Pegadaian Kanwil VI SulSelBarRa Maluku melalui program pemberdayaan UMKM berupa Pelatihan Barbershop di Mall Nipah, Makassar.
Program tersebut menjadi menarik karena dilakukan ketika skala bisnis Pegadaian terus berkembang. Berdasarkan data resmi perusahaan, per 30 April 2026 total aset Pegadaian telah mencapai Rp183,8 triliun, naik 56 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp117,8 triliun.
Pada periode yang sama, outstanding loan (OSL) gross mencapai Rp153,6 triliun, meningkat 58,8 persen dibandingkan April 2025 yang berada di level Rp96,7 triliun. Pegadaian juga mencatat laba bersih Rp4,38 triliun, melonjak 87,2 persen dibandingkan Rp2,34 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Baca Juga : Pegadaian Ubah Pola TJSL: Dari Bantuan Sesaat ke Penguatan Skill dan Kemandirian UMKM
Pertumbuhan tersebut merupakan kinerja perusahaan secara nasional. Di sisi lain, Pegadaian tetap menjalankan fungsi sosial-ekonomi melalui program pemberdayaan yang menyasar masyarakat dan pelaku usaha.
Salah satunya dilakukan melalui pelatihan barbershop di Makassar.
Program tersebut memberikan peserta pembekalan keterampilan dasar hingga praktik teknik barber. Materi meliputi pengenalan peralatan, teknik pemotongan rambut, perawatan dan kebersihan alat, serta pelayanan kepada pelanggan.
Baca Juga : Pegadaian Latih Warga Makassar Jadi Barber, Peluang Usaha Jasa Makin Terbuka
Peserta juga memperoleh wawasan mengenai pengelolaan usaha agar keterampilan yang diperoleh tidak berhenti sebagai kemampuan teknis, tetapi dapat dikembangkan menjadi aktivitas ekonomi produktif.
Pemimpin Wilayah PT Pegadaian Kanwil VI SulSelBarRa Maluku, Pratikno, mengatakan pemberdayaan UMKM tidak hanya berkaitan dengan pemberian bantuan.
“Kami ingin program pemberdayaan yang dilakukan Pegadaian dapat memberikan manfaat yang nyata dan berkelanjutan. Melalui pelatihan barbershop ini, kami berharap peserta tidak hanya memperoleh keterampilan baru, tetapi juga mampu mengembangkan keterampilan tersebut menjadi peluang usaha yang dapat meningkatkan kemandirian ekonomi,” ujar Pratikno.
Baca Juga : Lewat Gold Run 2026, PT Pegadaian Kanwil VI Makassar Tebarkan Filosofi Konsistensi Finansial Masa Depan
Pernyataan tersebut menggambarkan pendekatan yang menggabungkan peningkatan kapasitas manusia dengan peluang ekonomi.
Pegadaian dalam data yang dipublikasikannya menyebut sebanyak 586.468 nasabah telah memperoleh akses modal melalui program pembiayaan usaha mikro. Angka tersebut memperlihatkan bahwa pembiayaan usaha mikro menjadi salah satu bagian dari kontribusi perusahaan dalam memperluas akses permodalan.
Dalam praktiknya, modal dan keterampilan memiliki hubungan yang saling melengkapi.
Baca Juga : DPR Minta Keuangan Syariah Jadi Solusi Lapangan Kerja dan UMKM Naik Kelas
Pelaku usaha yang memiliki modal tetapi tidak memiliki kemampuan mengelola bisnis dapat menghadapi tantangan dalam mengembangkan usahanya. Sebaliknya, seseorang yang memiliki keterampilan tetapi terbatas modal juga dapat kesulitan ketika ingin meningkatkan skala usaha.
Karena itu, program pemberdayaan yang menggabungkan peningkatan keterampilan dengan literasi usaha menjadi penting.
Barbershop merupakan salah satu contoh usaha jasa yang dapat dimulai dengan skala relatif kecil. Seorang peserta dapat terlebih dahulu menawarkan jasa secara mandiri sebelum berkembang menjadi tempat usaha dengan beberapa kursi dan tenaga barber.
Baca Juga : OJK, Bank Sulselbar dan LPS Bersinergi Cetak Generasi Muda Melek Keuangan
Dalam prosesnya, pelaku usaha membutuhkan lebih dari kemampuan memotong rambut. Pengelolaan biaya, pembelian peralatan, kebersihan, pemasaran, harga layanan, hingga kemampuan mempertahankan pelanggan menjadi bagian dari pengelolaan bisnis.
Kegiatan pelatihan di Mall Nipah memberikan konteks mengenai bagaimana layanan jasa dapat dikembangkan di lingkungan perkotaan. Konsumen saat ini tidak hanya memperhatikan hasil akhir, tetapi juga pengalaman selama mendapatkan layanan.
Kondisi tersebut membuat kualitas SDM menjadi salah satu faktor penting dalam bisnis jasa.
Baca Juga : OJK, Bank Sulselbar dan LPS Bersinergi Cetak Generasi Muda Melek Keuangan
Bagi Pegadaian, pengembangan kemampuan masyarakat dapat menjadi bagian dari strategi pemberdayaan yang lebih luas. Perusahaan pada Juni 2026 menyebut GadePreneur sebagai salah satu wadah pemberdayaan mitra binaan yang berfokus pada peningkatan kapasitas usaha.
Sementara itu, besarnya basis pelanggan Pegadaian juga menunjukkan luasnya ekosistem perusahaan. Hingga 2025, Pegadaian menyebut telah melayani lebih dari 19 juta nasabah melalui lebih dari 4.000 outlet di Indonesia.
Dalam ekosistem sebesar itu, pemberdayaan UMKM dapat menjadi salah satu jalur untuk memperkuat hubungan antara layanan keuangan dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Baca Juga : OJK, Bank Sulselbar dan LPS Bersinergi Cetak Generasi Muda Melek Keuangan
Namun, penting membedakan antara data kinerja perusahaan dan dampak spesifik suatu program. Angka aset, laba, OSL, dan jumlah nasabah merupakan data Pegadaian secara keseluruhan dan bukan ukuran langsung keberhasilan pelatihan barbershop di Makassar.
Dampak lokal program tersebut baru dapat diukur lebih konkret jika terdapat data seperti jumlah peserta, jumlah peserta yang membuka usaha setelah pelatihan, peningkatan pendapatan, jumlah tenaga kerja yang terserap, atau perkembangan usaha peserta setelah mengikuti program.
Data semacam itu akan menjadi indikator penting untuk melihat keberlanjutan program.
Baca Juga : OJK, Bank Sulselbar dan LPS Bersinergi Cetak Generasi Muda Melek Keuangan
Jika peserta mampu mengubah keterampilan menjadi usaha, maka manfaat program dapat berkembang lebih jauh. Sebuah usaha barbershop yang tumbuh dapat menciptakan lapangan pekerjaan, membeli perlengkapan dari pemasok, membayar sewa tempat, serta menghasilkan aktivitas ekonomi lain di sekitarnya.
Artinya, satu pelatihan keterampilan dapat memiliki efek berantai apabila diikuti dengan pendampingan dan akses terhadap ekosistem usaha.
Pegadaian berharap program pemberdayaan tersebut dapat melahirkan pelaku usaha baru yang memiliki keterampilan, kreativitas, serta kemampuan mengelola usaha secara profesional.
Baca Juga : OJK, Bank Sulselbar dan LPS Bersinergi Cetak Generasi Muda Melek Keuangan
Harapan tersebut menunjukkan bahwa pemberdayaan UMKM tidak hanya ditempatkan sebagai kegiatan sosial, tetapi juga sebagai bagian dari upaya meningkatkan kapasitas ekonomi masyarakat.
Di tengah pertumbuhan bisnis Pegadaian yang cukup signifikan pada 2026, pelatihan barbershop di Makassar memperlihatkan sisi lain dari perusahaan: bagaimana institusi keuangan dapat hadir di tingkat masyarakat melalui peningkatan keterampilan.
Dari sisi peserta, yang dibawa pulang bukan hanya pengalaman mengikuti pelatihan. Ada keterampilan yang dapat digunakan untuk bekerja dan berusaha.
Baca Juga : OJK, Bank Sulselbar dan LPS Bersinergi Cetak Generasi Muda Melek Keuangan
Dari sisi pemberdayaan, program ini memberikan ruang bagi masyarakat untuk meningkatkan kapasitasnya.
Sedangkan dari sisi ekonomi, keberlanjutan program akan sangat bergantung pada kemampuan peserta mengubah keterampilan menjadi aktivitas usaha yang menghasilkan.
Karena itu, tantangan berikutnya bukan lagi sekadar berapa banyak pelatihan yang digelar, melainkan seberapa jauh peserta mampu naik kelas setelah mendapatkan pelatihan.
Baca Juga : OJK, Bank Sulselbar dan LPS Bersinergi Cetak Generasi Muda Melek Keuangan
Jika keterampilan, akses modal, literasi usaha, pendampingan, dan akses pasar dapat berjalan beriringan, pemberdayaan UMKM memiliki peluang memberikan dampak ekonomi yang lebih luas.
Bagi Makassar, pengembangan usaha jasa seperti barbershop juga menjadi bagian dari dinamika ekonomi perkotaan. Semakin banyak masyarakat memiliki keterampilan yang dapat dijual, semakin besar pula pilihan mereka untuk masuk ke sektor ekonomi produktif.
Pada titik tersebut, pelatihan barbershop Pegadaian dapat dibaca bukan sekadar agenda pelatihan, melainkan bagian dari upaya mempertemukan keterampilan, peluang usaha, dan akses ekonomi di tingkat masyarakat.
