RAKYATKU.COM, MAKASSAR — Akses pelajar terhadap produk dan layanan keuangan terus menjadi perhatian Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Pasalnya, meski tingkat inklusi keuangan kelompok pelajar dan mahasiswa sudah mencapai 89,13 persen, indeks literasi keuangan pelajar usia 15-17 tahun masih berada di angka 56,04 persen berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2026.
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan OJK Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat terus mendorong edukasi keuangan sejak usia sekolah.
Pesan itu disampaikan dalam Puncak Hari Indonesia Menabung (HIM) dan Bulan Literasi Keuangan (BLK) 2026 yang digelar di Sekolah Rakyat Terintegrasi 3 (SRT 3) Provinsi Sulawesi Selatan, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar, Kamis (27/8).
Baca Juga : Moch. Muchlasin: TPAKD Harus Jadi Problem Solver, Bukan Sekadar Formalitas Kegiatan
Sebanyak 570 siswa dari tiga Sekolah Rakyat di Kota Makassar mengikuti kegiatan tersebut. Mereka berasal dari SRT 3 Sulsel, Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 23 Makassar dan SRMP 26 Makassar.
Data literasi dan inklusi keuangan tersebut memberikan gambaran bahwa akses terhadap layanan keuangan belum otomatis berarti masyarakat, termasuk pelajar, memiliki pemahaman yang memadai mengenai produk keuangan yang digunakan.
Indeks inklusi keuangan yang mencapai 89,13 persen menunjukkan bahwa akses dan pemanfaatan produk serta layanan keuangan di kalangan pelajar dan mahasiswa telah cukup tinggi. Namun, indeks literasi yang tercatat 56,04 persen menunjukkan masih terdapat ruang besar untuk meningkatkan pemahaman mereka.
Baca Juga : OJK, Bank Sulselbar dan LPS Bersinergi Cetak Generasi Muda Melek Keuangan
OJK pun menilai edukasi keuangan sejak usia dini menjadi semakin penting. Pelajar perlu dibekali kemampuan untuk mengelola uang secara bijak, membedakan kebutuhan dan keinginan, menentukan skala prioritas, serta membangun kebiasaan menyisihkan sebagian uang untuk ditabung.
Tidak kalah penting, pelajar juga perlu mengetahui perbedaan antara produk keuangan yang resmi dengan layanan keuangan yang tidak resmi.
Kepala OJK Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat Moch. Muchlasin mengatakan budaya menabung perlu dibangun sejak usia dini. Ia menekankan bahwa menabung tidak harus dimulai dengan uang dalam jumlah besar.
Baca Juga : Modus Kripto Ilegal Kembali Marak: Satgas PASTI Hentikan YWWSDC dan RTHAE
“Menabung tidak harus menunggu memiliki uang dalam jumlah besar. Kebiasaan ini dapat dimulai dari hal-hal kecil, seperti menyisihkan sebagian uang saku atau uang jajan secara rutin,” kata Muchlasin.
Menurutnya, aspek terpenting bukan besaran uang yang ditabung, melainkan konsistensi dan kedisiplinan dalam menyisihkan sebagian uang.
Dalam konteks literasi keuangan, kebiasaan tersebut menjadi pintu masuk untuk mengajarkan pelajar mengenai perencanaan keuangan. Dari kebiasaan sederhana menyisihkan uang, siswa dapat mulai memahami bagaimana menentukan tujuan keuangan, mengendalikan pengeluaran dan membedakan antara kebutuhan dengan keinginan.
Baca Juga : OJK Jatuhkan 1.277 Sanksi Sektor Pasar Modal, Denda Tembus Rp327 Miliar per Agustus 2026
Kegiatan tersebut juga melibatkan industri jasa keuangan dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Bank Sulselbar membuka Rekening Simpanan Pelajar (SimPel) iB bagi seluruh pelajar Sekolah Rakyat yang hadir.
Sementara LPS memberikan pemahaman kepada siswa mengenai pentingnya menabung, keamanan simpanan dan penjaminan simpanan di bank. OJK sendiri memberikan edukasi mengenai pentingnya mengelola keuangan sejak dini.
Kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa peningkatan inklusi keuangan tidak cukup hanya dilakukan dengan membuka akses terhadap layanan keuangan. Pemahaman mengenai cara menggunakan produk dan layanan keuangan juga menjadi bagian penting.
Baca Juga : Puncak Hari Indonesia Menabung 2026: OJK Sasar Sekolah Rakyat Demi Target Inklusi Keuangan 98 Persen
OJK, LJK dan LPS mendorong agar sinergi tersebut terus diperkuat sehingga akses dan pemahaman masyarakat terhadap produk serta layanan keuangan dapat berjalan beriringan.
Bagi pelajar, pemahaman tersebut diharapkan menjadi bekal untuk mengambil keputusan keuangan secara lebih bijak ketika mereka memasuki fase kehidupan yang lebih mandiri.
Momentum Hari Indonesia Menabung dan Bulan Literasi Keuangan 2026 akhirnya tidak hanya diarahkan pada aktivitas menabung, tetapi juga pembentukan perilaku finansial yang sehat.
Baca Juga : Puncak Hari Indonesia Menabung 2026: OJK Sasar Sekolah Rakyat Demi Target Inklusi Keuangan 98 Persen
Dengan memperkuat literasi sejak bangku sekolah, OJK berharap generasi muda tidak sekadar menjadi pengguna produk keuangan, tetapi juga mampu memahami manfaat, risiko dan penggunaan layanan keuangan secara tepat.
Perbedaan antara tingkat inklusi dan literasi menjadi pengingat bahwa membuka akses saja belum cukup. Tantangan berikutnya adalah memastikan setiap akses tersebut diikuti pemahaman yang memadai.
Inilah yang menjadi salah satu fokus edukasi OJK kepada generasi muda melalui momentum Hari Indonesia Menabung 2026.
