RAKYATKU. COM,MAKASSAR — Musik bukan lagi sekadar hiburan. Di tengah pertumbuhan industri kreatif dan perubahan cara masyarakat menikmati karya, festival musik berkembang menjadi ruang ekonomi yang mempertemukan musisi, penonton, komunitas, pelaku usaha, hingga industri pendukung.
Semangat tersebut terasa dalam gelaran Soundrenaline Sana Sini yang berlangsung di pelataran parkir Pipo Mall Makassar, Jumat (29/8). Festival ini menghadirkan sederet nama penting dari berbagai warna musik Tanah Air, mulai dari Iwan Fals & Band (Special Set), Float, D'Cinnamons, Danilla, Seringai, The SIGIT, Kelompok Penerbang Roket, Ali, Moluccan Soul, hingga The Jeblogs.
Bukan hanya deretan penampil yang menjadi daya tarik. Soundrenaline Sana Sini juga memperlihatkan bagaimana panggung musik dapat menjadi bagian dari ekosistem ekonomi kreatif yang terus berkembang, khususnya di kota besar seperti Makassar.
Baca Juga : Dua Skutik Ini Jadi Mesin Penjualan Honda di Sulselbartrabon Sepanjang Semester I 2026
Bagi para musisi independen, festival memiliki posisi penting karena menjadi titik temu antara karya dan audiens secara langsung.
Float, misalnya, menilai festival musik akan selalu memiliki relevansi selama musik tetap menjadi bagian dari kehidupan manusia.
Festival dipandang bukan sekadar pertunjukan, tetapi sebagai ruang pamer karya seni sebuah exhibition bagi musisi sekaligus penikmat musik. Di ruang inilah karya yang selama ini dinikmati melalui platform digital kembali mendapatkan pengalaman yang lebih personal melalui pertemuan langsung antara musisi dan penonton.
Baca Juga : SSAO Series 4 Siap Digelar, 90 Pegolf dari 13 Negara Bakal Bertanding
Makassar pun memiliki tempat khusus bagi Float.
Karakter penonton Kota Daeng yang dikenal ekspresif, hangat dan terbuka membuat setiap kesempatan tampil di Makassar selalu dinantikan. Interaksi antara musisi dan penonton bahkan tidak berhenti ketika pertunjukan selesai, tetapi menjadi bagian dari pengalaman yang membangun hubungan emosional antara karya dan komunitas pendengarnya.
Dalam Soundrenaline Sana Sini kali ini, Float bahkan menyiapkan setlist khusus sembilan lagu untuk membawa penonton kembali menikmati karya-karya yang telah menjadi bagian dari perjalanan mereka.
Baca Juga : 70 Persen Kursi Umrah Garuda Sudah Terisi, Makassar Jadi Pasar Strategis Indonesia Timur
Nostalgia Hampir Dua Dekade
Dimensi emosional juga sangat terasa dari D'Cinnamons
Bagi grup musik tersebut, Makassar bukan sekadar kota tujuan pertunjukan. Hubungan dengan publik Kota Daeng telah terbangun sejak 2007, ketika mereka datang dalam rangka promosi film 3 Hari untuk Selamanya.
Baca Juga : Dorong Transformasi Digital Industri Konstruksi, PT Bumi Karsa Perkuat Kompetensi SDM Lewat Pelatihan BIM
Setelah beberapa tahun tidak tampil di Makassar, kehadiran D'Cinnamons kali ini menjadi semacam reuni dengan pendengar yang telah tumbuh bersama karya mereka.
Perjalanan selama hampir dua dekade menunjukkan satu hal penting dalam industri musik: fanbase dan komunitas memiliki nilai ekonomi sekaligus emosional yang panjang.
Musik yang mampu membangun kedekatan dengan pendengar berpotensi menciptakan loyalitas yang bertahan jauh lebih lama dibandingkan sekadar tren.
Baca Juga : Bawa Semangat “UNSTOPPABLE”, Phinisi Point Kembali Gelar PIPO Night Run 30 Oktober 2026
Danilla dan Tantangan Industri Musik Modern
Sementara itu, Danilla melihat tantangan industri musik saat ini dari perspektif yang berbeda.
Di tengah derasnya arus produksi musik digital, ribuan lagu baru dapat muncul setiap pekan melalui berbagai platform streaming. Kondisi tersebut membuat persaingan mendapatkan perhatian pendengar semakin ketat.
Baca Juga : Bawa Semangat “UNSTOPPABLE”, Phinisi Point Kembali Gelar PIPO Night Run 30 Oktober 2026
Dalam situasi seperti itu, kejujuran dalam berkarya menjadi semakin penting.
Bagi Danilla, mempertahankan identitas musik sekaligus membangun kedekatan dengan komunitas grassroots merupakan bagian penting dari keberlanjutan seorang seniman.
Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa ekonomi musik modern tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah lagu yang dirilis atau angka streaming. Identitas, komunitas, loyalitas pendengar dan pengalaman langsung tetap memiliki nilai yang tidak mudah digantikan oleh algoritma.
Baca Juga : Bawa Semangat “UNSTOPPABLE”, Phinisi Point Kembali Gelar PIPO Night Run 30 Oktober 2026
Festival Musik dan Efek Ekonomi Berantai
Dari perspektif ekonomi kreatif, keberadaan festival seperti Soundrenaline Sana Sini memiliki efek yang lebih luas dibandingkan transaksi tiket atau honor pertunjukan.
Sebuah festival membutuhkan rantai ekonomi yang panjang: produksi panggung, tata suara, tata cahaya, keamanan, transportasi, hospitality, dokumentasi, pekerja kreatif, promosi, hingga berbagai aktivitas ekonomi yang muncul di sekitar lokasi acara.
Baca Juga : Bawa Semangat “UNSTOPPABLE”, Phinisi Point Kembali Gelar PIPO Night Run 30 Oktober 2026
Penonton yang datang juga menciptakan pergerakan ekonomi di sektor lain, termasuk kuliner, transportasi, pusat perbelanjaan dan usaha jasa.
Karena itu, festival musik dapat dipandang sebagai salah satu bentuk aktivasi ekonomi kreatif berbasis pengalaman (experience economy)
Makassar, dengan karakter masyarakat yang memiliki kedekatan kuat terhadap musik dan budaya komunitas, memiliki modal sosial yang besar untuk menjadi salah satu titik penting dalam perputaran industri entertainment di Indonesia bagian timur.
Baca Juga : Bawa Semangat “UNSTOPPABLE”, Phinisi Point Kembali Gelar PIPO Night Run 30 Oktober 2026
Soundrenaline Sana Sini di Pipo Mall Makassar pada akhirnya tidak hanya menghadirkan hiburan dalam satu malam.
Lebih jauh, panggung tersebut menjadi gambaran bagaimana industri musik Indonesia terus bergerak: dari karya yang lahir di ruang kreatif, bertemu komunitas, masuk ke platform digital, kemudian kembali menemukan energi terbesarnya melalui perjumpaan langsung di atas panggung.
Dan selama musik masih menjadi bagian dari kehidupan manusia, festival musik akan tetap memiliki alasan untuk hidup.
