RAKYATKU COM, BANDUNG — Transformasi industri otomotif menuju kendaraan listrik (electric vehicle/EV) semakin mengarah pada fase strategis, bukan sekadar tren. CEO BYD Haka Auto Indonesia, Hariyadi Kaimuddin, menegaskan bahwa percepatan elektrifikasi menjadi kunci untuk mengurangi ketergantungan impor bahan bakar minyak (BBM) sekaligus memperkuat struktur ekonomi nasional.
Dalam forum Studium Generale di Institut Teknologi Bandung (ITB), Hariyadi memaparkan bahwa sektor transportasi masih menjadi kontributor utama konsumsi energi berbasis fosil. Tanpa intervensi melalui elektrifikasi, tekanan terhadap impor energi diperkirakan akan terus meningkat seiring pertumbuhan jumlah kendaraan.
“EV berada di titik strategis karena menyentuh tiga aspek sekaligus: kemandirian energi, pertumbuhan ekonomi, dan keberlanjutan lingkungan,” ujarnya.
Baca Juga : KALLA Mulai Ekspansi MaRI, Proyek Mixed-Use Bidik Penguatan Ekonomi Makassar
Ia menjelaskan, peralihan ke kendaraan listrik membuka ruang optimalisasi energi domestik, termasuk pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) seperti panas bumi, tenaga air, dan surya. Dalam jangka panjang, skema ini dinilai mampu menekan defisit energi sekaligus memperkuat ketahanan nasional.
Dari perspektif industri, transformasi ke EV juga berpotensi menciptakan nilai tambah baru. Selama ini, sektor otomotif menjadi salah satu penopang utama ekonomi melalui kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), ekspor, dan penyerapan tenaga kerja. Dengan masuknya teknologi kendaraan listrik, rantai industri berkembang ke sektor baterai, infrastruktur pengisian daya, hingga layanan digital otomotif.
Namun, Hariyadi mengingatkan bahwa percepatan adopsi EV tidak bisa bergantung pada produk semata. Kesiapan ekosistem menjadi faktor penentu, mulai dari ketersediaan SPKLU, rantai pasok baterai, hingga kesiapan teknisi dan layanan purna jual.
Baca Juga : PINTU Masuk Kampus, Edukasi Crypto ke Mahasiswa UNM di Tengah Maraknya Informasi Menyesatkan
“Industri ini tidak bisa berjalan sendiri. Dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan institusi pendidikan untuk membangun ekosistem yang solid,” tegasnya.
Sejalan dengan itu, BYD Haka Auto terus memperluas jaringan sebagai bagian dari strategi penetrasi pasar. Hingga 2026, perusahaan telah mengoperasikan 15 outlet BYD dan 2 outlet Denza di berbagai kota besar di Indonesia. Ekspansi lanjutan juga tengah disiapkan pada semester pertama tahun ini untuk memperkuat akses layanan sekaligus mendukung pertumbuhan adopsi EV.
Langkah agresif ini mencerminkan optimisme industri terhadap pasar kendaraan listrik domestik yang dinilai memiliki potensi besar, didukung populasi kendaraan yang terus meningkat dan arah kebijakan pemerintah menuju transisi energi.
Baca Juga : Kalla Institute Bongkar Strategi Tembus Beasiswa, Tekankan Mindset dan Perencanaan Karier Sejak Dini
Di sisi lain, keterlibatan perguruan tinggi menjadi krusial dalam menyiapkan talenta masa depan. Industri EV membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya memahami otomotif, tetapi juga teknologi energi, digitalisasi, dan inovasi.
Dengan kombinasi potensi energi domestik, dukungan kebijakan, serta ekspansi industri, kendaraan listrik diproyeksikan menjadi salah satu tulang punggung baru ekonomi Indonesia. Tantangannya kini terletak pada kecepatan membangun ekosistem agar momentum transformasi tidak terlewat.