RAKYATKU.COM, REMBANG — Otoritas Jasa Keuangan menegaskan pentingnya peran perempuan dalam memperkuat integritas dan tata kelola, khususnya di sektor jasa keuangan. Hal ini mengemuka dalam forum diskusi bertema Kartini yang digelar di Museum R.A. Kartini.
Pendekatan yang diangkat tidak sekadar refleksi historis, tetapi diarahkan pada tantangan aktual, mulai dari penguatan budaya anti-fraud hingga peningkatan kualitas tata kelola institusi. OJK menilai perempuan memiliki posisi strategis, baik dalam lingkup profesional maupun keluarga, sebagai agen penanaman nilai integritas.
Ketua Dewan Audit OJK, Sophia Wattimena, menyoroti bahwa peningkatan partisipasi perempuan di berbagai sektor belum sepenuhnya diiringi dengan perlindungan dan kesetaraan yang memadai. Ia mengungkapkan bahwa meski perempuan mendominasi sebagian besar aparatur sipil negara, kasus kekerasan berbasis gender masih menjadi persoalan serius.
Baca Juga : KPPU Soroti Risiko Monopoli di Pengadaan Daerah, Pangkep Perkuat Tata Kelola Anggaran
Menurutnya, integritas tidak hanya dibangun melalui sistem, tetapi juga melalui karakter individu yang dibentuk sejak lingkungan keluarga. Dalam konteks ini, perempuan berperan penting sebagai pendidik awal yang menanamkan nilai etika, tanggung jawab, dan kejujuran.
Dari sisi kebijakan, pemerintah melalui Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi menekankan bahwa integritas merupakan fondasi utama kepercayaan publik. Tanpa kepercayaan, efektivitas kebijakan dan legitimasi institusi akan sulit terjaga.
Regulasi terkait pengelolaan konflik kepentingan juga terus diperkuat sebagai bagian dari sistem integritas nasional. Langkah ini sejalan dengan praktik global yang menempatkan transparansi dan akuntabilitas sebagai pilar utama tata kelola modern.
Baca Juga : Kasus BNI Aek Nabara, OJK Awasi Ketat Pengembalian Dana Nasabah
Selain itu, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menggarisbawahi bahwa perempuan masih menghadapi hambatan struktural dalam mengakses posisi strategis. Karena itu, penguatan kapasitas dan keberanian dalam mengambil peran menjadi kunci untuk mendorong perubahan.
OJK sendiri terus memperluas inisiatif penguatan integritas melalui berbagai program internal, termasuk penerapan sistem manajemen anti-penyuapan serta edukasi terkait pencegahan fraud. Upaya ini diarahkan untuk menciptakan sektor jasa keuangan yang lebih transparan dan terpercaya.
Forum ini sekaligus mencerminkan arah kebijakan yang semakin menempatkan isu integritas dan kesetaraan gender sebagai bagian dari strategi pembangunan nasional. Dalam konteks tersebut, peran perempuan tidak hanya dilihat sebagai partisipan, tetapi sebagai pendorong utama perubahan dalam sistem yang lebih luas.
