Kamis, 16 April 2026 22:02

OJK Dorong Literasi Keuangan Masuk Kurikulum: Fondasi Investasi dan Ketahanan Ekonomi Generasi Muda

Lisa Emilda
Konten Redaksi Rakyatku.Com
webinar internasional Global Money Week (GMW) 2026
webinar internasional Global Money Week (GMW) 2026

OJK dorong literasi keuangan masuk kurikulum untuk membentuk generasi investor, meningkatkan ketahanan finansial, dan memperkuat ekonomi nasional.

RAKYATKU.COM, JAKARTA — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mulai menggeser pendekatan literasi keuangan dari sekadar kampanye menjadi strategi struktural jangka panjang. Melalui integrasi dalam sistem pendidikan formal, literasi keuangan diproyeksikan menjadi fondasi utama dalam membentuk generasi yang tidak hanya paham uang, tetapi juga mampu mengelola dan mengembangkannya melalui instrumen investasi.

Langkah ini ditegaskan dalam webinar internasional Global Money Week (GMW) 2026 yang diikuti ribuan peserta lintas sektor. OJK menilai, tanpa intervensi sejak dini, masyarakat akan terus terjebak dalam pola keuangan pasif—yang pada akhirnya menghambat pertumbuhan aset dan ketahanan ekonomi individu.

Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan OJK, Dicky Kartikoyono, menegaskan bahwa literasi keuangan harus bertransformasi menjadi kemampuan nyata dalam pengambilan keputusan finansial.

Baca Juga : OJK Pacu Pembiayaan UMKM Kepri Lewat Teknologi Keuangan dan Credit Scoring Alternatif

“Literasi tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi harus menghasilkan kesehatan keuangan—termasuk kemampuan berinvestasi secara bijak,” ujarnya.

Dari Edukasi ke Investasi: Mengubah Pola Pikir Finansial

Integrasi literasi ke dalam kurikulum bukan sekadar edukasi dasar, tetapi strategi untuk membangun pola pikir investasi sejak dini. Dalam konteks ini, instrumen seperti reksa dana menjadi relevan sebagai langkah awal yang realistis bagi generasi muda.

Baca Juga : OJK, Bank Sulselbar dan LPS Bersinergi Cetak Generasi Muda Melek Keuangan

Dengan pemahaman yang cukup, masyarakat tidak hanya menabung, tetapi mulai mengalokasikan dana ke instrumen produktif yang mampu mengalahkan inflasi dan mendorong pertumbuhan aset.

Risiko Era Digital: Akses Luas, Literasi Tertinggal

Di sisi lain, derasnya arus digitalisasi justru memperbesar risiko. Kemudahan akses terhadap produk keuangan, termasuk investasi, tidak selalu diiringi dengan pemahaman yang memadai.

Baca Juga : Modus Kripto Ilegal Kembali Marak: Satgas PASTI Hentikan YWWSDC dan RTHAE

Chair OECD/INFE, Magda Bianco, mengingatkan bahwa banjir informasi—termasuk yang tidak kredibel—dapat menjerumuskan masyarakat pada keputusan finansial yang keliru.

“Kompetensi keuangan menjadi kunci untuk memanfaatkan peluang sekaligus menghindari risiko, termasuk penipuan dan investasi tidak rasional,” ujarnya.

Efek Jangka Panjang: Dari Individu ke Stabilitas Ekonomi

Baca Juga : OJK Jatuhkan 1.277 Sanksi Sektor Pasar Modal, Denda Tembus Rp327 Miliar per Agustus 2026

Pendekatan berbasis pendidikan ini diyakini memiliki dampak luas. Tidak hanya meningkatkan kesejahteraan individu, tetapi juga memperkuat sistem keuangan nasional.

Literasi yang baik akan mendorong:

keputusan investasi yang lebih rasional

Baca Juga : Puncak Hari Indonesia Menabung 2026: OJK Sasar Sekolah Rakyat Demi Target Inklusi Keuangan 98 Persen

pengelolaan utang yang sehat

peningkatan partisipasi di pasar keuangan

Dalam jangka panjang, kondisi ini akan memperdalam pasar keuangan domestik sekaligus mengurangi kesenjangan ekonomi.

Baca Juga : Puncak Hari Indonesia Menabung 2026: OJK Sasar Sekolah Rakyat Demi Target Inklusi Keuangan 98 Persen

Kolaborasi Jadi Kunci

OJK menekankan bahwa keberhasilan program ini tidak bisa berdiri sendiri. Diperlukan sinergi antara pemerintah, dunia pendidikan, industri jasa keuangan, hingga komunitas.

Edukasi juga tidak lagi terbatas di ruang kelas, tetapi diperluas melalui platform digital, kampanye nasional, dan keterlibatan aktif masyarakat.

Baca Juga : Puncak Hari Indonesia Menabung 2026: OJK Sasar Sekolah Rakyat Demi Target Inklusi Keuangan 98 Persen

Menuju Generasi Investor

Dengan pendekatan ini, OJK tidak sekadar mencetak masyarakat yang “melek keuangan”, tetapi generasi baru yang mampu menjadi investor aktif.

Jika strategi ini berjalan konsisten, Indonesia berpotensi mengalami lompatan besar—dari masyarakat penabung menjadi masyarakat investor, dengan reksa dana dan instrumen pasar modal sebagai pintu masuk utama.

#OJK #literasi keuangan #investasi #reksa dana #Global Money Week #OECD #pendidikan keuangan #generasi muda #pasar modal #Inklusi keuangan #ekonomi indonesia #keuangan digital #investasi pemula #sekolah #Finansial