RAKYATKU.COM – PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale), bagian dari Mining Industry Indonesia (MIND ID), mencatatkan penjualan perdana nikel dari Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa.
Capaian ini menandai fase penting dalam proyek transisi dari tahap konstruksi menuju fase operasional yang menghasilkan pendapatan (revenue-generating stage), sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok mineral kritis global.
Penjualan perdana ini merupakan langkah strategis dalam proses de-risking proyek, validasi kesiapan sistem produksi, serta penguatan fundamental pertumbuhan jangka panjang Perseroan.
Baca Juga : Awal 2026 PT Vale Berhasil Catat Penjualan 2,2 Juta Ton Ore di Morowali
Seiring dengan percepatan elektrifikasi global dan transisi energi, permintaan terhadap nikel diproyeksikan terus meningkat dalam dekade mendatang.
Indonesia, sebagai salah satu pemilik cadangan nikel terbesar di dunia, memainkan peran strategis dalam ekosistem tersebut. IGP Pomalaa menjadi bagian dari agenda hilirisasi nasional yang bertujuan meningkatkan nilai tambah domestik melalui integrasi pertambangan dan pengolahan.
Dengan nilai investasi terintegrasi sekitar Rp74,44 triliun (±US$4,43 miliar), IGP Pomalaa merupakan salah satu proyek strategi yang memperkuat fondasi industri nikel nasional sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia di pasar global.
Baca Juga : Pengelolaan Sediment Pond PT Vale Indonesia Mendapat Apresiasi
Penjualan perdana ini dimungkinkan melalui aktivasi area oresell di Pit PB5 dan Pit PB1, yang dirancang untuk mengoptimalkan arus material dan menjaga stabilitas produksi.
Lubang kedua tersebut memiliki kapasitas penampungan hingga 4 juta wet metric ton (Mwmt) mengekstraksi limonit, memberikan jaminan persediaan yang signifikan serta menjamin ketersediaan pasokan menuju fasilitas pengolahan di Pomalaa.
Director and Chief Project Officer PT Vale Indonesia Tbk, Muhammad Asril, menyampaikan, “Peresmian area oresell di Pit PB5 dan PB1 merupakan langkah strategis untuk menjaga ritme produksi dan memastikan distribusi material berjalan optimal. Dengan dukungan infrastruktur yang terus kami percepat, kami menargetkan IGP Pomalaa tetap sejalan dengan prinsip operasional keunggulan dan kegiatan penambangan berkelanjutan,” ucapnya.
Baca Juga : PT Vale Bersama BPBD dan Mitra Perkuat Edukasi Tanggap Bencana Bagi Siswa Sekolah Dasar di Morowali
Aktivasi kapasitas stockpile skala besar ini memperkuat stabilitas pasokan bahan baku,ketahanan logistik di tengah volatilitas pasar komoditas,dan kesiapan menuju fase produksi penuh.
Memasuki Maret 2026, IGP Pomalaa menargetkan produksi sebesar 300.000 ton limonit per bulan, atau sekitar 9.677 ton per hari. Strategi memastikan ramp-up ini dilakukan secara disiplin untuk tujuan operasional serta optimalisasi kapasitas produksi.
Dengan kapasitas penyimpanan 4 Mwmt dan target produksi bulanan, proyek ini memiliki buffer inventaris yang mampu menjaga pasokan sekaligus mengurangi risiko gangguan operasional.
Baca Juga : Dankodaeral VI Makassar Kunjungi PT Vale IGP Morowali
Kemajuan Infrastruktur dan Efisiensi Modal Percepatan pembangunan infrastruktur menjadi prioritas untuk menjaga efisiensi dan disiplin permodalan. Hingga Januari 2026, progres konstruksi keseluruhan IGP Pomalaa telah mencapai 65,76 persen, menunjukkan pelaksanaan proyek yang on track.
Sementara itu, pembangunan Main Haul Road (MHR) hingga stockpile telah mencapai 40 persen. Jalur ini menjadi tulang punggung distribusi material dari area tambang menuju fasilitas pengolahan dan pelabuhan, yang pada akhirnya akan meningkatkan produktivitas pengangkutan dan menurunkan potensi kemacetan logistik.
Perkembangan ini memperkuat profil efisiensi modal proyek serta meningkatkan visibilitas arus kas jangka menengah dan panjang.
Baca Juga : PT Vale Indonesia dan Pemkab Luwu Timur Salurkan Bantuan Korban Bencana di Aceh
Langkah ini juga sejalan dengan strategi hilirisasi nasional, yang mendorong pengolahan domestik dan integrasi industri dari hulu ke hilir guna menciptakan nilai tambah yang lebih tinggi di dalam negeri.
