RAKYATKU. COM, MAKASSAR — Sektor pembiayaan di Provinsi Sulawesi Selatan menunjukkan tren pertumbuhan yang positif sepanjang 2024 hingga awal 2025. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sulawesi Selatan dan Barat (Sulselbar) mencatat, total piutang pembiayaan di daerah ini tumbuh sebesar 7,12 persen menjadi Rp18,98 triliun.
Kepala OJK Sulselbar, Moch. Muchlasin, menjelaskan bahwa pertumbuhan tersebut menandakan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pembiayaan formal, terutama untuk sektor produktif seperti kendaraan bermotor, properti, dan modal usaha kecil.
“Pertumbuhan sektor pembiayaan yang positif menunjukkan bahwa masyarakat Sulsel semakin terbuka terhadap akses layanan keuangan formal, termasuk melalui kanal digital,” ujarnya di Makassar, Kamis (9/10/2025).
Baca Juga : Edukasi Keuangan Masif dan Perlindungan Konsumen: OJK Sulselbar Tangani 5,1 Ribu Aduan hingga Juli 2026
Pegadaian dan Fintech Jadi Penopang Pertumbuhan
Selain lembaga pembiayaan konvensional, OJK juga mencatat lonjakan signifikan pada sektor pergadaian dan fintech peer-to-peer (P2P) lending.
Total pinjaman yang disalurkan perusahaan pergadaian tumbuh 27,22 persen, mencapai Rp7,57 triliun, menandakan meningkatnya peran gadai dalam memenuhi kebutuhan likuiditas masyarakat.
Baca Juga : Investor Pasar Modal di Sulsel Merekor Tembus 766 Ribu SID, Didorong Demam Reksa Dana dan Saham
Sementara itu, outstanding pinjaman fintech lending di Sulawesi Selatan melonjak 50,59 persen, menembus angka Rp1,78 triliun, dengan tingkat wanprestasi (TWP) yang tetap terkendali di level 1,59 persen — jauh di bawah ambang batas risiko nasional.
“Fintech lending menjadi jembatan penting dalam memperluas inklusi keuangan, khususnya bagi masyarakat dan pelaku UMKM yang belum terlayani oleh perbankan,” tambah Muchlasin.
Modal Ventura Masih Hadapi Tantangan
Baca Juga : Pendapatan Premi Asuransi di Sulsel Melonjak 30 Persen, Penjaminan Tembus Rp1 Triliun
Meski sebagian besar subsektor menunjukkan performa impresif, perusahaan modal ventura di Sulsel masih menghadapi tantangan, dengan total pembiayaan yang terkontraksi -14,33 persen.
OJK menilai perlunya strategi penguatan ekosistem investasi rintisan (startup) agar pembiayaan ventura dapat kembali menjadi pendorong ekonomi kreatif di wilayah timur Indonesia.
Arah Kebijakan OJK ke Depan
Baca Juga : Pinjol Legal dan Pergadaian Melonjak, Pembiayaan Non-Bank di Sulsel Tumbuh Pesat Per Mei 2026
OJK Sulselbar berkomitmen memperkuat pengawasan terhadap lembaga pembiayaan dan fintech agar tetap sehat, berintegritas, dan berorientasi pada perlindungan konsumen.
Sinergi antara regulator, pelaku industri, dan pemerintah daerah menjadi kunci dalam memastikan perkembangan keuangan digital tidak menimbulkan risiko baru bagi masyarakat.
“Kami terus mendorong inovasi digital di sektor jasa keuangan, namun dengan prinsip kehati-hatian, transparansi, dan perlindungan konsumen sebagai prioritas utama,” tegas Muchlasin.
Baca Juga : Kredit Perbankan Sulsel Tembus Rp176 Triliun di Juni 2026, Sektor Perdagangan Jadi Penopang Utama
Dengan pertumbuhan yang signifikan di sektor pembiayaan dan fintech, Sulawesi Selatan kini menegaskan posisinya sebagai salah satu daerah dengan penetrasi inklusi keuangan tertinggi di kawasan Indonesia Timur.
