Rabu, 27 Juli 2022 17:14

Uni Eropa Telah Menemukan Kesepakatan untuk Balas Dendam ke Rusia

Syukur Nutu
Konten Redaksi Rakyatku.Com
Ilustrasi pasokan gas Rusia ke Uni Eropa lewat jalur pipa. (Foto: Reuters)
Ilustrasi pasokan gas Rusia ke Uni Eropa lewat jalur pipa. (Foto: Reuters)

"Saya tahu keputusan itu tidak mudah, tetapi saya pikir pada akhirnya, semua orang mengerti bahwa pengorbanan ini diperlukan"

RAKYATKU.COM - Uni Eropa (UE) telah menemui kesepakatan untuk balas dendam ke Rusia.

Para menteri energi setuju pemotongan penggunaan gas di negara-negara kawasan saat bertemu di Brussels kemarin.

UE sepakat untuk mengurangi konsumsi gas demi memutuskan ketergantungannya pada Moskow, Selasa (26/7/2022). Ini diyakini menjadi tanggapan efektif untuk melawan apa yang mereka sebut "manipulasi Rusia atas kekayaan energi sebagai senjata ekonomi".

Baca Juga : 28 Pejabat Keamanan Dipecat Zelensky

"Kami telah membuat langkah besar untuk mengamankan pasokan gas bagi warga dan ekonomi kami untuk musim dingin mendatang," kata Menteri Industri Ceko Jozef Sikela, yang kini memegang jabatan Presiden UE.

Ia mengatakan, keputusan tersebut merupakan keputusan yang sulit namun diharapkan dapat dimengerti oleh semua pihak.

"Saya tahu keputusan itu tidak mudah, tetapi saya pikir pada akhirnya, semua orang mengerti bahwa pengorbanan ini diperlukan," tambahnya.

Baca Juga : Jaksa Agung Hingga Kepala Intelijen Dipecat Zelensky

Hal sama juga didukung Jerman meski sangat bergantung pada gas Rusia dengan impor hingga 40% per tahun lalu.

Sponsored by MGID

"Memang benar bahwa Jerman, dengan ketergantungannya pada gas Rusia, telah membuat kesalahan strategis," kata Menteri Ekonomi Jerman, Robert Habeck.

"Tetapi pemerintah kami sedang bekerja ... untuk memperbaikinya," tegasnyanya.

Baca Juga : Pernah Ancam Hancurkan Jembatan Terpanjang Eropa, Pejabat Senior Ukraina Memundurkan Diri

Negara-negara UE nantinya harus mengurangi penggunaan gas sebesar 15% selama musim dingin, berdasarkan rata-rata lima tahun. Aturan ini mulai berlaku Agustus hingga Maret 2023.

Adapun target akan disesuaikan dengan masing-masing negara. Tingkat stok akan jadi pertimbangan, termasuk apakah mereka memiliki jaringan pipa untuk berbagi gas atau tidak.

Pengecualian diberikan bagi negara pulau seperti Irlandia, Siprus dan Malta, Spanyol dan Portugal, yang memiliki hubungan terbatas ke jaringan pipa pasokan gas yang saling terhubung antar negara UE.

Baca Juga : Penasihat Keamanan Gedung Putih Sebut Iran Bersiap Kirim Drone ke Rusia

Negara-negara Baltik pun akan dibebaskan jika sambungan listrik mereka dengan jaringan Rusia ternyata diputus.

Adapun negara UE yang bersekutu dengan Moskow, Hungaria, yang menolak kesepakatan dan menyebutnya "tidak berguna".

Perdana Menteri Hungaria Viktor Orban diketahui dekat dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Baca Juga : Ukraina Klaim Satu Juta Tentara Siap Rebut Wilayah yang Dikuasai Rusia

"Ini adalah proposal yang tidak dapat dibenarkan, tidak berguna, tidak dapat diterapkan, dan berbahaya yang sama sekali mengabaikan kepentingan nasional," kata Menteri Luar Negeri Hungaria Peter Szijjarto.

"Kesepakatan itu melayani tujuan komunikasi murni, dan bertujuan untuk menyelamatkan kredibilitas beberapa politisi Eropa Barat," tambahnya.

Dalam proposal yang sama, dikutip AFP, diketahui juga bahwa ke depan Komisi Eropa juga akan memberi Brussels kekuatan untuk memberlakukan pengurangan penggunaan gas dalam keadaan darurat. Ini untuk mengumumkan status "peringatan" ke kelompok tersebut, guna membuat target wajib, meski keputusan akan berada di tangan negara-negara anggota.

Baca Juga : Ukraina Klaim Satu Juta Tentara Siap Rebut Wilayah yang Dikuasai Rusia

Sebelumnya, Rusia melalui BUMN gas, Gazprom, mengumumkan akan memotong lagi pengiriman gas harian ke Eropa menjadi sekitar 20% mulai hari ini.

Sebelumnya, pada bulan Juni, pengiriman gas yang dilakukan melalui pipa Nord Stream 1 sudah ditekan hingga 40% dari kapasitas normal.

Gazprom mengatakan haya akan menyalurkan 33 juta meter kubik (mcm) gas per hari. Jumlah tersebut setengah dari pasokan saat ini, yang memang sudah kurang bagi Benua Biru dan mengancam Eropa dalam krisis energi.

Baca Juga : Ukraina Klaim Satu Juta Tentara Siap Rebut Wilayah yang Dikuasai Rusia

Pengumuman tersebut disampaikan melalui sebuah postingan di Twitter. Rusia mengaku pemotongan ini akibat masalah teknis di stasiun kompresor Portovaya.

"Karena berakhirnya waktu yang ditentukan sebelum perbaikan ... Gazprom mematikan satu lagi mesin turbin gas yang diproduksi oleh Siemens di Porovaya," kutipan ciutan itu.

Komisaris Energi UE Kadri Simson menolak klaim ini.

Baca Juga : Ukraina Klaim Satu Juta Tentara Siap Rebut Wilayah yang Dikuasai Rusia

"Ini adalah langkah bermotivasi politik dan kami harus siap untuk itu dan untuk alasan itu pengurangan permintaan gas kami secara pre-emptive adalah strategi yang bijaksana," katanya.

Pipa Nord Stream 1 merupakan salah satu rute pengiriman gas utama ke Eropa melalui Jerman. Pipa itu dimiliki mayoritas oleh Gazprom dengan 51%, sementara lainnya adalah perusahaan barat, PEGI/E.ON dan Wintershall Dea 15,%, lalu French Engie dan Dutch Gasunie masing-masing 9%.


Sumber: CNBC Indonesia

#Rusia vs Ukraina #Uni Eropa #Putin #Jerman #perang dunia