Jumat, 25 Maret 2022 10:24

Waspada Tuberkulosis, Penyakit Lebih Mematikan dari Covid-19

Syukur Nutu
Konten Redaksi Rakyatku.Com
TBC bisa menyebabkan kekambuhan walaupun sudah sembuh. Untuk itu perlu dilakukan evaluasi dengan baik.
TBC bisa menyebabkan kekambuhan walaupun sudah sembuh. Untuk itu perlu dilakukan evaluasi dengan baik.

Pengobatannya terbagi dalam 2 tahap yaitu fase awal denga pengobatannya selama 2 bulan minum obat setiap hari. Fase lanjutan, pengobatannya dengan selama 4 bulan dengan minum obat selang satu hari.

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Tuberkulosis merupakan salah satu penyakit infeksi yang dapat terjadi pada berbagai organ tubuh namun seringkali menyerang paru-paru.

Bakteri penyebab tuberkulosis ditularkan dari satu orang ke orang lainnya melalui droplet kecil di udara yang dilepaskan melalui batuk dan bersin. 

Proses terjadinya berawal dari percikan dahak orang yang sedang menderita TBC, kemudian masuk dan tertular ke saluran nafas orang yang daya tahan tubuhnya turun. Lalu TBC akan bermanifestasi di Paru dan berpindah ke kelenjar getah bening atau pindah ke organ yang lain.

Baca Juga : Berlaku 17 Juli 2022, Kemenhub Terbitkan Surat Edaran Perjalanan Dalam dan Luar Negeri

Dokter Spesialis Paru Siloam Hospitals Makassar, dr. Adrianne Marissa Tauran, Sp.P., menuturkan kasus TBC cukup bisa disembuhkan walaupun Indonesia menempati peringkat 3 di dunia dalam kasus TBC.

Pengobatannya terbagi dalam 2 tahap yaitu fase awal denga pengobatannya selama 2 bulan minum obat setiap hari. Fase lanjutan, pengobatannya dengan selama 4 bulan dengan minum obat selang satu hari.

 

Untuk mencegah penularan TB, harus menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat yang dimulai dari diri kita sendiri dengan konsumsi makanan bergizi, gunakan masker sewaktu batuk atau bersin dan tidak meludah sembarang tempat.

Baca Juga : Cegah Penyebaran Covid-19 Jelang Pembelajaran Tatap Muka Pemkot Makassar Lakukan Penyemprotan Disinfektan

"Namun perlu diketahui juga bahwa tidak semua penderita TB itu harus memiliki gejala batuk, sesak napas, batuk berdarah, harus berat badan turun, harus mengalami lemas.
Salah satu gejala yang disebut sudah perlu dicurigai mengidap TBC," ujar dr. Adrianne Marissa Tauran yang akrab disapa dokter Anke tersebut.

Sponsored by MGID

"Untuk di era sekarang yang mungkin kondisi ekonomi sudah lebih baik dari era dahulu sering ditemui pasien dengan tanpa gejala, hanya karena sedang melakukan MCU dan dengan hasil foto thorax ternyata ditemukan pasien sudah mengidap TBC," lanjutnya.

Perlu diketahui bahwa anak tidak menularkan TBC karena anak belum dapat melakukan percikan melalui batuk atau bersin yang dapat disemburkan. Faktor resiko terbesar dan utama dari penyakit TBC yaitu rokok. Rokok menjadi sumber asal muasal dari semua penyakit.

Baca Juga : Dinkes Wajo Bersama TNI dan Polri Gelar Vaksinasi Massal Bagi Masyarakat

"Kalau kita bicara tentang kasus Paru tentu saja rokok ini sangat menjadi musuh utama. Jadi rokok ini secara langsung dan tidak langsung tentu saja dapat menyebabkan TBC yang melalui penurunan daya tahan tubuh, merusak fungsi paru. Jadi bagi perokok diwajibkan untuk segera merubah gaya hidup dengan berhenti merokok," paparnya.

Jika orang sudah keluhan batuk darah, sesak nafas, nyeri dada, berat badan turun, lemas maka harus segera dilakukan pemeriksaan lanjutan yaitu pemeriksaan dahak dan pemeriksaan radiologi atau foto dada.

Perlu ditekankan bahwa hasil pemeriksaan dahak yang negatif bukan berarti pasien tidak TBC.

Baca Juga : Ini Pesan Kemenag ke Jemaah Haji Agar Tidak Terpapar COVID-19

Secara angka, ditemukan data terbaru dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia bahwa terdapat 11 pasien meninggal karena TBC dalam kurun waktu 1 jam. Ternyata kasus ini lebih besar daripada kasus Covid-19.

"Covid-19 ini adalah penyakit yang disebabkan karena virus. Virus itu sudah kodratnya untuk sembuh sendiri selama daya tahan tubuh baik maka penyakit yang disebabkan oleh virus akan sembuh dengan sendirinya. Berbeda dengan TBC yang disebabkan oleh bakteri, sehingga harus diobati. Dan TBC tidak bisa sembuh dengan pengobatan herbal," tutur dokter Anke.

Untuk penderita TBC murni tidak ada pantangan makanan. Perbaiki nutrisi khususnya kalori dan protein. Tetapi jika pasien TBC ini menderita kencing manis maka harus dilakukan kolaborasi dengan konsultasi pada dokter gizi dan penyakit dalam. Untuk pasien TBC harus dilakukan pemeriksaan gula darah dan HIV nya.

Baca Juga : Achmad Yurianto Mantan Jubir Satgas Penanganan COVID-19 Meninggal Dunia

Hal ini dilakukan untuk skrining agar dapat diketahui apakah pasien menderita kencing manis atau HIV. Sehingga dapat lebih cepat menatalaksana penyakit yang keduanya.

Setelah pasien menyelesaikan pengobatan TB nya akan dilakukan foto thorax lanjutan di bulan ke-6 dan bulan ke-12 serta di bulan ke-24.

"Jadi dalam 2 tahun tetap harus di evaluasi kondisi pasien apakah terjadi kasus kambuhan atau tidak," sebutnya. 

Baca Juga : Achmad Yurianto Mantan Jubir Satgas Penanganan COVID-19 Meninggal Dunia

TBC ini bisa menyebabkan kekambuhan walaupun sudah sembuh. Untuk itu perlu dilakukan evaluasi dengan baik.

Tidak dapat dipungkiri bahwa TBC merupakan penyakit menular dan berbahaya. Dengan demikian penting dipahami secara benar oleh masyarakat agar kepedulian terhadap penyakit ini dapat semakin ditingkatkan, demikian pula pencegahannya.

"Jika anda memiliki keluarga atau teman yang mengidap TBC beri dukungan terhadap mereka untuk berobat hingga tuntas. Jangan lupa untuk menjaga kesehatan dan kebersihan diri serta lingkungan," jelasnya.

Baca Juga : Achmad Yurianto Mantan Jubir Satgas Penanganan COVID-19 Meninggal Dunia

 

#Tuberkulosis #Siloam Hospitals Makassar #Covid-19