Kamis, 06 Januari 2022 08:18

Survei PPIM UIN: 39 Persen Siswa Percaya COVID-19 Hukuman Tuhan

Nur Hidayat Said
Konten Redaksi Rakyatku.Com
Ilustrasi.
Ilustrasi.

Hasil survei menunjukkan 39 persen siswa percaya bahwa pandemi COVID-19 adalah hukuman dari Tuhan.

RAKYATKU.COM, JAKARTA - Survei Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta menunjukkan siswa masih kurang patuh terhadap protokol kesehatan pada masa pandemi COVID-19.

Peneliti PPIM UIN Jakarta, Narila Mutia Nasir, mengatakan sekitar 21,1 persen responden belum konsisten menggunakan masker, abai mencuci tangan 41,2 persen, dan abai menghindari kerumunan 64,8 persen.

Survei ini melibatkan 2.358 siswa yang telah lolos uji perhatian di 34 provinsi sejak 1 September hingga 7 Oktober 2021 dengan tingkat kesalahan kurang lebih 2,02 persen.

Baca Juga : Bangkit dari Pandemi, Amran Mahmud Optimistis Perekonomian Wajo Membaik Tahun Ini

"Yang perlu kita jadikan perhatian juga adalah ternyata siswa beranggapan bahwa vaksinasi itu bertentangan dengan agama. Sebanyak 12,88 persen secara nasional berpendapat seperti itu," jelas Narila dalam konferensi pers daring, Rabu (5/1/2022).

Hasil survei juga menunjukkan 39 persen siswa percaya bahwa pandemi COVID-19 adalah hukuman dari Tuhan. Selain itu, sekitar 48 persen responden percaya upaya manusia tidak banyak berarti karena segala sesuatu termasuk kesehatan sudah ditentukan Tuhan.

Sekitar 20 persen hingga 30 persen responden juga memercayai hoaks atau teori konsipirasi terkait COVID-19. Misalnya, rumor rumah sakit sengaja menjadikan pasien sebagai pasien COVID-19 agar mendapat biaya dari pemerintah.

Baca Juga : Studi: 1 dari 10 Nakes di Australia Berpikir untuk Dunuh Diri Selama Pandemi COVID-19

Narila mengatakan, pemerintah, sekolah, dan masyarakat perlu meningkatkan kepatuhan siswa terhadap protokol kesehatan dan program vaksinasi untuk mengatasi COVID-19.

Sponsored by MGID

"Intervensi sosial pada siswa Indonesia bisa dilakukan oleh sekolah melalui kegiatan yang memberikan kesempatan bekerja sama dengan kelompok yang berbeda," tambahnya.

Narila menuturkan kampanye program pemerintah juga dapat melibatkan pemimpin agama dan keluarga yang masih dipercaya oleh siswa. Di samping itu, diperlukan strategi literasi digital pada siswa untuk memerangi hoaks. (*)

Baca Juga : Swedia Umumkan Pandemi COVID-19 Berakhir

Sumber: VOA Indonesia

#PPIM UIN Jakarta #Pandemi Covid-19